Karya terbaru Christopher Nolan, The Odyssey (2026), langsung menguasai box office dan memantik diskusi di media sosial. Seperti karya-karyanya sebelumnya, sutradara peraih Oscar tersebut kembali memainkan struktur narasi yang tidak linear. Kali ini, ia mengadaptasi epos legendaris karya Homer dengan pendekatan yang lebih ambisius, memadukan kisah perang, perjalanan spiritual, hingga pergulatan batin sang pahlawan, Odysseus.
Film yang dibintangi Matt Damon sebagai Odysseus ini mengambil latar setelah berakhirnya Perang Troya yang berlangsung selama 10 tahun. Namun, perjalanan pulang sang raja menuju Ithaca ternyata memakan waktu hampir sama lamanya dengan peperangan itu sendiri.
Kontroversi pemilihan cast multiras, armor Agamemnon yang membuatnya "aura farming," hingga kuda Troya yang terlalu mulus menjadi bagian dari diskusi penonton. Lewat semua juxtaposition ini, Nolan seperti ingin menyampaikan bahwa The Odyssey bukan film sejarah tentang orang Yunani saja, melainkan sebuah kisah universal tentang manusia yang harus bergumul dengan ego, kepedihan, trauma, penyesalan, dan penebusan dosa. Bagi yang masih bingung, berikut penjelasan akhirnya!
Awas, artikel ini mengandung spoiler!
