Pernyataan Kak Seto Setelah Dituding Abaikan Laporan Aurelie 16 Tahun Lalu

Kak Seto mengakui standar perlindungan anak telah berkembang
Tanggung jawab kasus child grooming sepenuhnya berada di pihak orang dewasa
Jadikan kesalahan masa lalu sebagai pembelajaran untuk perbaikan di masa depan
Nama Kak Seto turut terseret dalam pembahasan child grooming yang dialami oleh Aurelie Moeremans pada 2010 lalu. Kasus ini kembali viral berkat buku memoar berjudul Broken Strings yang Aurelie tulis sendiri.
Menurut jejak digital temuan warganet, keluarga Aurelie sempat membawa kasus ini kepada Komisi Perlindungan Anak dan Kak Seto. Namun, tidak dari keduanya yang mampu menjembatani komunikasi dari pihak terlibat, hingga bahkan Kak Seto yang dinilai mengabaikan laporan pihak Aurelie. Akibat ramai klaim tersebut, Kak Seto akhirnya merilis pernyataan resmi di Story akun Instagramnya @kaksetosahabatanak.
1. Kak Seto mengakui standar perlindungan anak di masa sekarang sudah berkembang

Lewat unggahan Instagram Story pada Rabu (15/1/2026), Kak Seto mengakui bahwa praktik dan cara pandang pendampingan anak kini telah berkembang pesat. Ketika masa itu, Kak Seto menyebut bahwa pendampingan yang mereka lakukan sudah sesuai pengetahuan, pemahaman, serta kewenangan yang berlaku ketika itu. Namun ternyata, ia menyadari bahwa ada dampak yang lebih serius yang baru mereka sadari saat ini.
"Kami menyadari bahwa standar perlindungan anak hari ini menuntut kepekaan, kehati-hatian, dan perspektif yang jauh lebih kuat terhadap potensi manipulasi, tekanan emosional, dan ketimpangan kuasa dalam relasi yang melibatkan anak dan remaja," jelas Kak Seto.
2. Tanggung jawab dari kasus yang seperti dialami Aurelie ini sepenuhnya berada di pihak orang dewasa

Kak Seto kemudian menegaskan kalau ia mengecam segala bentuk manipulasi dan praktik child grooming yang dilakukan oleh orang dewasa. Ia menyebut, bahwa anak-anak tidak bisa dimintai pertanggungjawaban terkait kasus ini, dan tanggung jawab sepenuhnya ada di pihak orang dewasa.
"Anak tidak pernah berada dalam posisi setara untuk dimintai pertanggungjawaban atas relasi yang dibangun melalui tekanan, bujuk rayu, atau ketimpangan kuasa," tegasnya.
3. Jadikan kesalahan masa lalu sebagai pembelajaran

Lewat kasus Aurelie, Kak Seto mengakui belajar beberapa hal dan berkomitmen untuk melakukan perbaikan di sistem pendampingan anak di masa depan. Agar tujuannya untuk menciptakan ruang aman dan nyaman bagi anak-anak untuk hidup di Indonesia bisa tercapai.
"Kami menjadikan refleksi atas praktik masa lalu sebagai bagian dari proses pembelajaran berkelanjutan untuk memperkuat perlindungan anak ke depan," kata Kak Seto.
Orangtua Aurelie sempat menunjukkan rasa kecewa kepada Kak Seto, karena dianggap tidak mampu menyelamatkan anaknya dari praktik child grooming.



![[QUIZ] Tebak Nama Tokoh TV yang Suka Muncul Pas Ramadan Ini!](https://image.idntimes.com/post/20220406/foto-cover-33c8d087c675a3e6c8f2ca8540a4b95d.jpg)















