11 Pesan Tersembunyi dalam The Hunger Games, Cerminan Ketidakadilan

- The Hunger Games mengkritik manipulasi media ala reality show, ketimpangan kelas lewat Career Tributes, serta kekerasan negara melalui Capitol dan Pasukan Penjaga Perdamaian.
- Katniss dan Peeta menantang peran gender tradisional, sementara trauma pasca-pertandingan digambarkan melalui PTSD dan ketergantungan zat pada sejumlah pemenang.
- Panem dikaitkan dengan wilayah dan sejarah Amerika, termasuk perbudakan di Distrik 11, serta terbentuk setelah bencana lingkungan, kelangkaan sumber daya, dan konflik.
Suzanne Collins, penulis buku trilogi The Hunger Games, menciptakan kisah yang memikat dan dipenuhi detail-detail yang mungkin dilewatkan sebagian orang. Collins juga terinspirasi dari kisah nyata untuk menciptakan alam semesta The Hunger Games, seperti mitologi Yunani di balik permainan itu sendiri atau kekerasan yang disetujui negara. Nah, hal ini biasanya gak kamu pahami saat pertama kali menontonnya.
Meskipun penonton dan pembaca awalnya terpesona dengan kemewahan Capitol atau terkejut ketika pertama kali melihat Katniss mengarahkan busurnya ke Presiden Coin, ada detail-detail tertentu yang jauh lebih masuk akal jika ditonton berulang kali saat kita sudah dewasa. Apalagi saat kita memahami bagaimana dunia bekerja, tentunya kita bisa menganalisis materi sumber Suzanne Collins tersebut. Nah, ini beberapa pesan tersembunyi dalam trilogi The Hunger Games.
1. Persamaan antara The Hunger Games dengan reality show TV

Katniss Everdeen (dok. Lionsgate/The Hunger Games) Suzanne Collins, penulis trilogi The Hunger Games, bilang kepada The New York Times kalau ia terinspirasi menulis seri ini setelah melihat program reality show dan berita Perang Irak. Inspirasi ini pun akhirnya meresap dihampir setiap elemen cerita Katniss Everdeen, mulai dari cara Katniss dan Peeta melebih-lebihkan cinta mereka untuk menarik sponsor selama Hunger Games, hingga intrik ekstensif yang terjadi dibalik layar untuk memicu konflik antar pemain.
Meskipun premis ini menceritakan bagaimana anak-anak di bawah umur dikirim untuk bertarung demi olahraga yang ditayangkan di televisi, tapi ceritanya cukup jelas mengacu pada reality show. Pembaca dan penonton pun bisa memahaminya dengan jelas. Namun, saat pertama kali kita membaca atau menonton The Hunger Games, kita mungkin gak menyadari sejauh mana pertandingan tersebut meniru kejadian di dunia nyata.
Para pembuat Hunger Games memanipulasi lingkungan para peserta untuk memicu konflik, seperti ketika Katniss terpaksa meninggalkan tempat persembunyiannya di Hunger Games ke-74 karena kebakaran hutan. Ia pun secara gak sengaja harus bertemu peserta lain. Nah, yang mungkin gak kamu sadari adalah, kisah ini mencerminkan produksi program reality show di TV. Yap, produser bisa memprovokasi kontestan untuk terlibat konflik atau mengedit rekaman untuk membuat kontestan lebih atau kurang disukai oleh penonton. Semua hanya soal manipulasi, kan.
2. Katniss dan Peeta menumbangkan peran gender tradisional

Peeta dan Katniss (dok. Lionsgate/The Hunger Games: Mockingjay Part 1) Katniss Everdeen adalah karakter utama protagonis yang menentang peran dan ekspektasi gender. Ketika kamu pertama kali bertemu Katniss, kamu melihatnya sedang berburu untuk menghidupi keluarganya. Yap, pekerjaan yang biasanya dilakukan oleh laki-laki.
Di samping itu, sepanjang hubungan Katniss dengan Peeta, Katniss masih menentang peran gender tersebut. Kepribadian Katniss pun gak lazim dalam genre remaja pada saat itu. Itulah kenapa buku dan filmnya sangat diminati.
Dalam pertandingan pertama, Katniss dipandang sebagai peserta Distrik 12 yang paling mampu. Adapun, Peeta sendiri dianggap paling kuat dari distriknya. Meskipun melindungi keluarga adalah motivasi utamanya, Katniss juga digambarkan sebagai sosok yang tenang dan analitis. Sedangkan Peeta sering mengandalkan sifat emosionalnya. Keterampilan dan hobi mereka juga menentang ekspektasi gender: Peeta lebih suka menghias kue di toko roti dan menjadi pelukis, sementara Katniss unggul dalam berburu dan menjebak.
Katniss juga menentang stereotip kalau seorang gadis pasti butuh pertolongan. Pasalnya, Peeta justru sering menerima bantuan ketimbang Katniss, baik di arena maupun ketika Peeta ditawan oleh Capitol di Mockingjay. Sebaliknya, Katniss-lah yang selalu datang menyelamatkan Peeta, atau menegosiasikan kesepakatan agar Peeta bisa selamat.
3. Distrik-distrik dalam The Hunger Games didasarkan pada wilayah nyata di Amerika Serikat

peta Panem (dok. Lionsgate/The Hunger Games: Catching Fire) Meskipun Suzanne Collins berhasil menggambarkan keunikan setiap distrik di Panem, beberapa pembaca mungkin gak menyadari kalau setiap distrik punya sumber daya dan karakteristik yang sesuai dengan wilayah nyata di Amerika Serikat, lho. Dikutip Bustle, meskipun setiap wilayah didasarkan pada wilayah nyata di Amerika Serikat, distrik-distrik tersebut sebagian besar bergantung pada satu industri, bukan beragam perdagangan dan sumber daya, karena masalah perubahan iklim.
Misalnya, Distrik 12 jelas banget terinspirasi dari Appalachia. Sebab, industri utamanya adalah pertambangan batu bara. Alamnya terkenal dengan perbukitan berhutan dan padang rumput hijau yang merupakan ciri khas negara bagian seperti Virginia Barat dan Kentucky. Lalu kemiskinan yang dihadapi oleh penduduk di Seam gak jauh berbeda dengan kemiskinan yang dialami oleh penduduk Appalachia saat ini, sebagaimana yang dilaporkan Quartz Media.
Distrik-distrik lain juga berfungsi sebagai interpretasi dari wilayah-wilayah di AS. Misalnya, Distrik 4 terletak di sepanjang pantai Pasifik dan penduduknya punya keterampilan seperti memancing dan mengikat simpul. Kemudian Distrik 7 yang membentang di seluruh Pasifik Barat Laut dan sebagian besar mengekspor kayu. Sementara itu, Distrik 11 menghasilkan produk pertanian di Deep South.
4. Katniss menunjukkan gejala PTSD dan punya coping mechanism untuk mengendalikannya

Katniss Everdeen (dok. Lionsgate/The Hunger Games: Mockingjay Part I) Bukan rahasia lagi kalau para pemenang Hunger Games mengalami trauma akibat pengalaman mereka di Hunger Games. Pasalnya, mereka menyaksikan dan terlibat dalam kekerasan yang sangat brutal untuk bertahan hidup. Apalagi mereka gak mampu atau dikasih kesempatan untuk membicarakan dan memproses trauma mereka ketika pulang.
Katniss pun menunjukkan gejala Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD) atau gangguan stres pascatrauma yang jelas banget. Dalam Catching Fire, tindakan berburu menjadi pemicu PTSD bagi Katniss. Pasalnya, dia melihat tubuh seorang peserta Hunger Games ketika dia menembakkan panahnya ke seekor kalkun liar.
Di awal Mockingjay, Katniss menemukan cara untuk mengatasi PTSD-nya. Lewat coping mechanism seperti mengulang fakta tentang dirinya untuk tetap berpijak pada realitasnya sendiri. Nah, dengan berfokus pada hal-hal yang dia yakini benar, strategi ini membantu Katniss untuk menjahui pikiran-pikiran yang mengganggu tentang kekerasan yang pernah dihadapinya.
Katniss bukan satu-satunya yang menderita PTSD atau punya coping mechanism sendiri. Setelah Peeta disiksa secara psikologis oleh Capitol dengan racun halusinogen, dia kesulitan membedakan antara ingatan yang dia alami dan ingatan yang dibuat-buat oleh Capitol. Finnick pun menyarankan agar ia bertanya pada Katniss apakah ingatannya nyata atau gak nyata sebagai latihan untuk mendapatkan kesadarannya kembali.
5. Career Tributes merupakan metafora untuk hak istimewa institusional

Career Tributes (dok. Lionsgate/The Hunger Games) Semua distrik di Panem dipaksa untuk berpartisipasi dalam Hunger Games tahunan. Namun, beberapa distrik punya peluang yang lebih baik ketimbang yang lain. Di Distrik 1, 2, dan 4, anak-anak dilatih di sekolah khusus agar punya kemampuan untuk bertempur dan bertahan hidup hingga mereka berusia 18 tahun. Nanti, mereka pun akan menjadi sukarelawan sebagai peserta Hunger Games. Meskipun pelatihan sebelum pertandingan dilarang, distrik-distrik yang lebih kaya ini atau yang disebut Career Tributes mampu mengakali sistem dan menghindari aturan ini karena hubungan dan aliansi mereka dengan Capitol. Yap, lagi-lagi karena ada orang dalam atau nepotisme.
Meskipun Capitol sendiri menyatakan kalau gak ada satu pun distrik yang punya keuntungan eksplisit dibandingkan distrik lain, tapi jelas banget bagaimana para peserta dari distrik kaya cenderung lebih siap untuk bertahan hidup dalam Hunger Games ketimbang peserta dari distrik yang lebih miskin. Ketidaksetaraan yang melekat ini bukan sekadar khayalan dari alam semesta distopia yang diciptakan Suzanne Collins. Yap, rupanya, hal ini tercermin jelas dalam kehidupan di dunia nyata.
Sebab, hambatan terhadap sumber daya, pendidikan, dan kekayaan di dunia fiksi Panem ini ternyata erat kaitannya di dunia nyata kita. Para peserta program Career Tributes juga melambangkan bagaimana individu bisa menerima hak istimewa meskipun masih berada di bawah belas kasihan sistem yang merugikan. Yap, mereka mungkin punya lebih banyak sumber daya untuk berlatih dan mempersiapkan diri, tetapi mereka tetap ditakdirkan untuk menjadi pion dalam permainan Capitol.
6. Distrik 11 sangat mirip dengan sejarah perbudakan di Amerika

Distrik 11 (dok. Lionsgate/The Hunger Games: Catching Fire) Salah satu karakter yang paling berkesan dalam novel The Hunger Games pertama adalah Rue, seorang peserta di bawah umur dari Distrik 11. Katniss menggambarkan Distrik 11 sebagai salah satu distrik termiskin di Panem. Sebab, industri utamanya adalah pertanian dan penduduknya hidup dalam kondisi yang bahkan lebih buruk ketimbang tempat tinggal Katniss di Seam. Bagi sebagian besar pembaca dan penonton, Distrik 11 ada hubungannya dengan sejarah rumit Amerika Serikat terkait perbudakan.
Dalam buku, penduduk Distrik 11 digambarkan berkulit gelap dan dipaksa bekerja dalam kondisi yang gak adil. Dalam film, Distrik 11 dan perbudakan digambarkan lebih mencolok. Ketika Peeta dan Katniss pertama kali mengunjungi Distrik 11 di Catching Fire, mereka melihat para pekerja sedang mengumpulkan kapas. Dikutip PBS, pada abad ke-19, tanaman kapas erat kaitannya dengan tenaga kerja para budak di Amerika Serikat.
Paralel lain dengan perbudakan adalah bahwa hasil panen yang dikumpulkan warga Distrik 11 justru gak dinikmati atau menguntungkan distrik ini. Sebab, hasil Bumi mereka malah dikirim ke Capitol. Selama pertandingan pertama, Rue ngasih tahu Katniss kalau warga Distrik 11 juga sering menghadapi hukuman yang kejam dan gak adil. Kekerasan bahkan dilanggengkan untuk menghukum pelanggaran kecil, seperti mencuri makanan atau meminjam peralatan setelah jam kerja.
Setelah Peeta dan Katniss menyampaikan pidato yang penuh semangat kepada warga Distrik 11, mereka menyaksikan pasukan penjaga perdamaian Panem menyerang seorang laki-laki yang ngasih hormat kepada Katniss sebagai bentuk protes. Adegan ini mengingatkan kita pada kekerasan rasial dan kekerasan polisi yang sering terjadi sepanjang sejarah AS, sebagaimana yang ditulis The Conversation.
7. Gale adalah contoh toxic relationship

Katniss dan Gale (dok. Lionsgate/The Hunger Games: Catching Fire) The Hunger Games bukanlah serial YA (Young Adult) tanpa cinta segitiga, kan? Yap, Gale Hawthorne, sahabat masa kecil Katniss, memperebutkan kasih sayang Katniss sepanjang serial ini. Sikap Gale yang emosional sangat kontras dengan sikap lembut Peeta terhadap Katniss.
Setelah Hunger Games ke-74, Gale patah hati karena Katniss berpura-pura jatuh cinta pada Peeta demi memuaskan Capitol dan untuk bertahan hidup. Namun, Gale mengungkapkan kekecewaannya pada Katniss dalam Catching Fire. Mengingat Katniss lebih memilih Peeta ketimbang dirinya, meskipun hanya pura-pura.
Gale egois dan menganggap dialah yang seharusnya menjadi pasangan Katniss bukan Peeta, mengingat latar belakang dan persahabatan mereka yang mendalam. Namun, Gale gak pernah mengungkapkan perasaannya pada Katniss sampai ketika Katniss mengajukan diri untuk mengikuti Hunger Games. Dia juga gak suka jika Katniss menunjukan kasih sayangnya kepada Peeta. Hal ini adalah tanda toxic relationship dari Gale dan dia memang gak pantas menjadi pasangan Katniss.
8. Beberapa karakter bergumul dengan kecanduan zat terlarang sepanjang serial tersebut

Haymitch dan Katniss (dok. Lionsgate/The Hunger Games: Catching Fire) Banyak pemenang mengalami trauma akibat pengalaman mereka di pertandingan. Adapun, mereka gak dikasih kesempatan untuk mengatasinya ketika kembali ke distrik. Misalnya, Haymitch dianggap sebagai pemabuk dari Distrik 12. Dalam Catching Fire, Katniss tahu kalau alasan Haymitch kecanduan alkohol adalah karena Presiden Snow membunuh keluarganya yang dianggap sebagai "pemberontak" saat Haymitch sedang mengikuti pertandingan.
Meskipun gak banyak dibahas dalam film, Haymitch juga mengalami gejala putus obat setelah tiba di Distrik 13. Bahkan setelah Pemberontakan Kedua, Katniss nyeletuk kalau Haymitch masih minum alkohol untuk mengatasi rasa sakitnya akibat kehilangan keluarga dan teman-temannya selama mengikuti pertandingan.
Para pemenang sebelumnya juga beralih ke penyalahgunaan zat terlarang setelah mengikuti pertandingan Hunger Games. Selama Quarter Quell di Catching Fire, dua peserta dari Distrik 6 bahkan disebut sebagai "Morphlings" karena narkoba yang mereka konsumsi. Morphling adalah narkotika ampuh yang digunakan di seluruh Panem. Nama narkoba ini diambil dari padanannya di dunia nyata, yaitu morfin. Johanna Mason juga menjadi ketergantungan pada obat ini setelah disiksa oleh Capitol, bahkan mengambil cairan infus Katniss setelah gak mengonsumsi zat terlarang itu.
9. Pandangan Gale tentang revolusi mengarah pada Machiavellian

Gale dan Katniss (dok. Lionsgate/The Hunger Games: Mockingjay Part I) Gale dengan cepat naik pangkat dalam pemberontakan Distrik 13 karena kepemimpinannya yang penuh percaya diri dan perannya dalam mengevakuasi Distrik 12. Ia juga punya kemampuan untuk mendeteksi langkah-langkah yang diambil musuh. Ia bahkan meramalkan kalau menempatkan semua pemberontak yang terluka di satu tempat akan membuat mereka rentan terhadap serangan.
Konflik terbesar antara Katniss dan Gale mencapai puncaknya selama pemberontakan, karena Gale percaya kalau mengorbankan nyawa orang gak bersalah diperlukan untuk memenangkan perang. Katniss, di sisi lain, masih yakin kalau membunuh orang yang gak bersalah adalah tindakan yang salah, bahkan setelah masa baktinya di Hunger Games. Jadi ketika Gale merancang rencana untuk menyingkirkan pasukan penjaga perdamaian Distrik 2 di Mockingjay, Katniss memprotes kalau tindakan itu akan membunuh orang yang gak bersalah. Tetapi Gale yakin kalau mengorbankan nyawa bisa saja dibenarkan.
Filosofi Gale tentang "tujuan menghalalkan segala cara" dalam perang akhirnya menjadi penyebab rusaknya hubungannya dengan Katniss. Bom yang digunakan untuk membunuh anak-anak Capitol dan petugas penyelamat pertama (termasuk Prim atau adik Katniss) di akhir Mockingjay dikerahkan oleh Gale dan Beetee. Konflik moral antara Gale dan Katniss mencapai puncaknya ketika Katniss menganggap Gale bertanggung jawab atas kematian Prim. Namun, jika kamu cermat, perbedaan prinsip antara Katniss dan Gale terkait perang tetap akan merusak hubungan mereka bahkan jika Prim selamat dari pemberontakan.
10. Pasukan Penjaga Perdamaian adalah contoh dari tindakan polisi yang penuh kekerasan

Pasukan Penjaga Perdamaian (dok. Lionsgate/The Hunger Games: Catching Fire) Terlepas dari namanya, Peacekeepers atau Pasukan Penjaga Perdamaian bertugas melakukan berbagai tingkat kekerasan terhadap warga yang seharusnya mereka lindungi. Dalam The Hunger Games, Katniss bilang kalau Pasukan Penjaga Perdamaian menutup mata terhadap perburuan ilegalnya, dan memperlakukan warga Distrik 12 dengan manusiawi. Namun, dalam Catching Fire, sebagian besar Pasukan Penjaga Perdamaian yang ditemui Katniss justru dipersenjatai dengan lengkap dan sering menyerang warga sipil.
Sepanjang film, Pasukan Penjaga Perdamaian juga dipersenjatai lengkap dengan senapan mesin ringan, senapan taktis, dan banyak lagi, meskipun warga distrik sendiri gak bersenjata dan gak berbahaya. Rupanya, Pasukan Penjaga Perdamaian dalam dunia distopia yang diciptakan Suzanne Collins, gak jauh berbeda dengan polisi yang termiliterisasi di dunia kita sendiri. Di dunia nyata, para demonstran sering kali dihadang oleh pasukan polisi yang peralatannya lebih cocok untuk perang ketimbang menjaga ketertiban atau perdamaian.
Para Penjaga Perdamaian juga digambarkan sebagai polisi yang sering melakukan kekerasan rasial di Distrik 11. Pasalnya, para Penjaga Perdamaian terlihat mengawasi para pekerja yang mengumpulkan kapas di Catching Fire. Adapun, dilansir The New Yorker, terciptanya polisi di Amerika Serikat sendiri memang terkait dengan perbudakan. Selain itu, meriam air digunakan untuk melumpuhkan para pengunjuk rasa di Distrik 11. Ini menjadi referensi langsung terhadap bagaimana polisi menggunakan selang pemadam kebakaran dan meriam air terhadap warga sipil selama gerakan hak-hak sipil di kehidupan nyata.
11. Terciptanya Panem terjadi akibat perubahan iklim yang dahsyat

Katniss Everdeen (dok. Lionsgate/The Hunger Games: Mockingjay Part I) Beberapa fans The Hunger Games tahu kalau geografi Panem secara garis besar mirip dengan Amerika Utara. Namun, bentang alam Panem yang sebenarnya sangat berbeda dari peta Amerika Serikat yang sebenarnya karena perubahan iklim.
Menurut Mother Jones, meskipun para fans sering memperdebatkan kapan tepatnya peristiwa The Hunger Games terjadi, bisa dipastikan kalau Panem ada di masa depan yang gak terlalu jauh dengan saat ini. Pasalnya, dalam monolog batin Katniss, ia merujuk pada Amerika Utara yang ada sebelum Panem. Ada pula fakta bahwa Distrik 12 sudah menambang batu bara selama ratusan tahun di wilayah yang dulunya disebut Appalachia.
Jadi, apa yang terjadi antara sekarang dan saat itu yang menyebabkan terjadinya Hunger Games? Dalam novel pertama, Katniss menyebutkan adanya serangkaian bencana alam yang menyebabkan runtuhnya masyarakat, seperti banjir, kebakaran, dan kekeringan. Semua krisis lingkungan tersebut bisa kita kaitkan dengan perubahan iklim, beberapa di antaranya bahkan sudah terjadi di seluruh dunia dan khususnya sebagian wilayah Amerika Serikat.
Dalam The Hunger Games, Katniss menjelaskan bahwa pemerintah yang ada kemudian saling berperang memperebutkan sumber daya alam yang langka, dan Panem terbentuk setelah runtuhnya masyarakat. The Hunger Games bukanlah satu-satunya serial yang menggunakan perubahan iklim untuk menginspirasi dunia pasca-apokaliptik. Sebab, sejak buku pertama diterbitkan pada tahun 2008, perubahan iklim memang sering menjadi tema dalam fiksi YA distopia.
Bagi para fansnya, The Hunger Games bukan hanya serial novel remaja atau trilogi film blockbuster. Banyak fans yang masih remaja saat buku dan film tersebut pertama kali dirilis, tapi kini mereka semua sudah dewasa, mungkin termasuk kamu, ya. Namun, The Hunger Games masih relevan bagi penonton dan pembaca remaja saat ini. Apalagi ditambah dengan situasi dunia saat ini, seperti geopolitik, kebijakan pemerintah, dan perubahan iklim yang sangat relevan dengan kisah The Hunger Games. Itu sebabnya, beberapa scene-nya dikatikan dengan gonosida di Gaza hingga ketidakadilan antara si kaya dan si miskin. Bahkan, lagunya yang berjudul "The Hanging Tree" yang dinyanyikan Katniss, acap kali terdengar dan dijadikan backsound video yang mengarah pada ketidakadilan.





















