Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Review Film Ah Girl, saat Perceraian Dilihat dari Mata Anak Kecil
Ah Girl, film opening Jakarta Film Week (JFW) 2026 (dok. Aggregate Films/Ah Girl)
  • Ah Girl, film pembuka Jakarta Film Week 2026, mengikuti Swee Swee berusia tujuh tahun yang menghadapi perceraian orang tuanya di Singapura tahun 1994.
  • Melalui keseharian dan bisnis permen karet, film menunjukkan anak-anak menangkap dampak konflik keluarga meski belum memahami perceraian, finansial, maupun keputusan orang dewasa.
  • Akting natural Xuanjing Ong dan Sydney Wong, rasio 4:3, serta warna pastel membangun nostalgia Singapura 1990-an; ritme beberapa percakapan dewasa dinilai sedikit panjang.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Bagaimana rasanya melihat perceraian dari sudut pandang seorang anak kecil? Awalnya, Ah Girl mungkin terlihat seperti drama keluarga biasa. Namun, setelah mengikuti kehidupan Ah Girl, saya justru merasa persoalannya jauh lebih rumit. Sebab, film ini tidak meminta kita melihat perceraian dari sudut pandang ayah, ibu, atau orang dewasa. Alih-alih, dari seorang anak kecil yang belum sepenuhnya memahami mengapa keluarganya "berubah."

Ah Girl sendiri menjadi film pembuka Jakarta Film Week (JFW) 2026 yang digelar di CGV Grand Indonesia, Jakarta Pusat, pada Rabu malam (21/10/2026). Selama menonton, jujur perasaan saya campur aduk. Ada banyak momen yang membuat saya tertawa terutama karena tingkah lucu Ah Girl dan adiknya, tetapi ada pula adegan intens yang terasa menyakitkan. Kalau kamu penasaran bagaimana sebuah perceraian bisa terlihat berbeda ketika dilihat melalui mata seorang anak kecil, silakan baca review Ah Girl di bawah.

Sinopsis Ah Girl (2026)

Ah Girl mengikuti Swee Swee alias Ah Girl (Xuanjing Ong), seorang anak perempuan berusia tujuh tahun yang tinggal di Singapura pada 1994 bersama adiknya, Ah Tian (Sydney Wong), ayahnya, dan neneknya. Kehidupan Ah Girl berubah setelah kedua orang tuanya berpisah. Ibunya, yang bekerja sebagai pemandu wisata, hanya mengunjungi mereka setiap akhir pekan.

Namun, situasi berubah ketika sang ibu meminta Ah Girl untuk pindah dan tinggal bersamanya. Di tengah kondisi keluarga yang tidak menentu, Ah Girl berusaha memahami keputusan orang-orang dewasa di sekitarnya. Ia belum sepenuhnya mengerti alasan perceraian orang tuanya, tetapi mampu merasakan bahwa ada sesuatu yang tidak beres.

Ah Girl pun mencoba memperbaiki keadaan dengan caranya sendiri. Salah satunya dengan menjual permen karet yang dibawa pulang ibunya dari tempat kerja secara diam-diam kepada teman-teman sekolahnya. Ada niat polos untuk membantu masalah finansial keluarganya. Namun, orang-orang dewasa justru kerap melihat tindakannya sebagai sekadar kenakalan anak.

Melalui kehidupan sehari-hari Ah Girl dan Ah Tian, film ini memperlihatkan bagaimana perceraian dan konflik dalam keluarga dapat meninggalkan dampak besar pada anak-anak. Mirisnya, mereka adalah pihak yang tidak pernah memilih untuk berada di tengah "masalah orang dewasa" tersebut.

Ah Girl
2026
4.5/5★
Directed by Ang Geck Geck Priscilla
ProducerWendy Lie, Charlyn Ng
WriterAng Geck Geck Priscilla
Age RatingR13
GenreDrama, comedy
Duration99 Minutes
Release Date21 Oktober
ThemeDomestic comedy, Mandarin, coming-of-Age
Production HouseAggregate Films Pte Ltd, Kusu Films, IFA Media
Where to WatchCGV Indonesia
CastOng Xuan Jing, Sydney Wong, James Seah, Carrie Wong, Doreen Toh

Trailer Ah Girl (2026)

1. Ah Girl membawa kita untuk melihat perceraian dari sisi anak-anak

Ada sesuatu yang menarik dari cara Ah Girl bercerita. Film ini tidak menjadikan perceraian sebagai sebuah ledakan besar yang harus selalu disertai pertengkaran dramatis seperti di Marriage Story (2019). Sebaliknya, kita hanya mengikuti keseharian seorang anak kecil.

Ah Girl pergi ke sekolah, bermain dengan temannya, mengobrol dengan keluarganya, menyukai seorang anak laki-laki, dan mencoba mencari cara untuk memperbaiki keadaan di rumah. Namun, di sela-sela aktivitas sederhana tersebut, perlahan terlihat bahwa dunia yang ia kenal sedang berantakan. Ah Girl tidak sepenuhnya memahami persoalan orang dewasa. Ia hanya menangkap potongan-potongannya.

Semua orang dewasa itu penipu, pembohong, dan selalu bingung.

Ayah tidak lagi bersama ibu. Ibu hanya datang pada waktu tertentu. Ada percakapan yang tidak boleh ia dengar. Ada keputusan yang dibuat tanpa benar-benar meminta pendapatnya. Dan ketika keadaan semakin berubah, Ah Girl mencoba menyatukan kembali kepingan-kepingan tersebut dengan logika anak-anak. Menurut saya, di situlah sisi emosional dari film ini.

Anak-anak mungkin belum memahami konsep perceraian, masalah finansial, relasi orang dewasa, atau konflik dalam rumah tangga. Namun, bukan berarti mereka tidak merasakan dampaknya. Ah Girl justru sangat peka terhadap perubahan di sekitarnya. Ia bahkan sampai menggunakan permen karet pemberian ibunya sebagai semacam "bisnis ilegal" di sekolahnya.

Awalnya terlihat lucu. Ah Girl mendapatkan uang saku sekaligus popularitas di antara teman-temannya. Tetapi semakin film berjalan, aktivitas tersebut terasa menyedihkan. Ia sedang berusaha membantu. Dalam kepala kecilnya, jika ada masalah dalam keluarga, mungkin uang bisa menjadi salah satu solusinya. Orang dewasa melihatnya sebagai kenakalan. Namun, Ah Girl melihatnya sebagai usaha.

Film ini kemudian memperlihatkan betapa seringnya orang dewasa meremehkan cara berpikir anak-anak. Padahal, mereka menyerap hampir semua hal yang terjadi di sekitar mereka. Mereka mendengar, mereka mengamati, mereka meniru. Dan terkadang, mereka memahami lebih banyak daripada yang kita—orang dewasa—kira.

2. Kepolosan Ah Girl membuat konflik keluarga terasa semakin menyakitkan

Salah satu kekuatan terbesar Ah Girl adalah bagaimana film ini memperlihatkan dunia melalui perspektif seorang anak kecil tanpa membuatnya terasa seperti karakter Young Sheldon. Ia tetap polos, keras kepala, lucu, dan kadang nakal. Namun, ia juga punya keinginan sederhana. Ah Girl hanya ingin keluarganya tetap bersama.

Setiap kali situasinya berantakan, Ah Girl berusaha mencari cara untuk menyatukannya kembali. Ia ingin semua orang yang disayanginya baik-baik saja, bahkan ketika dirinya sendiri tidak paham apa yang sebenarnya sedang terjadi. Karena itu, keputusan-keputusan orang dewasa terasa jauh lebih menyakitkan ketika dilihat dari perspektif Ah Girl.

Ada satu momen yang menurut saya sangat sepele tetapi justru menghancurkan hati. Ah Girl mendengar crush-nya berkata "Aku suka perempuan dengan rambut panjang." Tidak lama kemudian, rambut Ah Girl dipotong oleh neneknya. Bagi orang dewasa, mungkin itu hanya potongan rambut. Bagi Ah Girl, itu terasa seperti dunia kecilnya hancur berantakan.

Hal-hal seperti inilah yang membuat Ah Girl terasa tulus. Ang Geck Geck Priscilla tidak selalu memasukkan adegan menangis untuk menunjukkan bahwa seorang anak sedang terluka. Terkadang, cukup dengan memperlihatkan seorang anak yang tidak mendapatkan apa yang ia inginkan, sementara orang dewasa di sekitarnya tidak menyadari betapa pentingnya hal itu bagi dirinya.

Ah Girl juga mengingatkan saya pada The Florida Project (2017) karya Sean Baker. Keduanya sama-sama menempatkan anak di tengah kondisi keluarga yang tidak sepenuhnya bisa mereka kendalikan. Namun, Ah Girl memilih pendekatan yang lebih intim. Ah Girl tidak sekadar bertahan dari keadaan. Ia mencoba menciptakan dunianya sendiri, tempat keluarga dan orang-orang yang dicintainya masih bisa tetap bersama. Di sinilah kegetirannya terasa.

Masa kanak-kanak memang penuh kegembiraan. Namun sayangnya bagi anak broken home seperti Ah Girl, kegembiraan tersebut harus tumbuh di antara keputusan-keputusan yang tidak pernah ia minta. Egois, tapi itulah orang dewasa.

3. Sinematografi Ah Girl sukses hidupkan nostalgia Singapura tahun 90-an

Kekuatan terbesar film ini tentu datang dari Xuanjing Ong sebagai Ah Girl. Penampilannya terasa natural dan tidak dibuat-buat. Ia mampu membawakan ekspresi polos, tingkah nakal, sekaligus kesedihan tanpa membuat karakternya terlihat terlalu dewasa. Sydney Wong sebagai Ah Tian juga membawa chemistry yang menyenangkan sebagai adik. Keduanya terlihat seperti anak-anak sungguhan, bukan aktor cilik yang sedang berakting.

Secara visual, sinematografi Teck Siang Lim juga membantu membawa penonton kembali ke Singapura tahun 1990-an. Penggunaan rasio 4:3 bukan sekadar gimmick retro, tetapi membuat ruang domestik terasa lebih sempit sekaligus mendekatkan kamera dengan dunia Ah Girl. Warna pastel yang cerah pun memberikan kontras menarik. Dunia Ah Girl terlihat penuh warna, tetapi di balik warna tersebut tersimpan kesepian dan masalah keluarga yang terbuka lebar.

Memang, ada beberapa bagian yang terasa sedikit terlalu panjang. Beberapa percakapan dan konfrontasi orang dewasa sebenarnya bisa dibuat lebih ringkas agar ritmenya lebih konsisten. Namun, kelemahan tersebut tidak menghilangkan kekuatan pendekatannya. Ah Girl berhasil menunjukkan bahwa anak-anak tidak selalu membutuhkan penjelasan panjang x lebar untuk tahu bahwa sesuatu sedang salah.

Anak-anak mungkin tidak mengerti mengapa ayah dan ibunya berpisah. Mereka mungkin tidak tahu apa yang sedang diperdebatkan orang dewasa. Tetapi, mereka tahu ketika rumah tidak lagi terasa seperti rumah. Dan mungkin itulah alasan Ah Girl berhasil menyentuh hati terdalam kita. Film tidak meminta kita menghakimi siapa yang benar atau salah dalam sebuah perceraian. Film hanya meminta kita melihat apa yang terjadi kepada anak kecil yang masih belum 100 persen paham dengan apa yang terjadi.

Kesimpulannya, Ah Girl adalah film drama komedi coming-of-age yang terlihat sederhana, tetapi menyimpan kesedihan yang jauh lebih besar daripada yang mampu diucapkan. Seperti permen karet yang terus ditiup Ah Girl, dunianya bisa mengembang, menjadi besar dan penuh harapan, tetapi juga sangat rapuh. Sekali pecah, ia hanya bisa menarik napas dan mencoba meniupnya kembali.

Curated For You

Editorial Team

Related Article