Dari sisi teknis, film ini punya kekuatan di visual, terutama dalam penggunaan warna. Dominasi warna biru dan merah terasa cukup konsisten sepanjang film. Terlepas dari ceritanya, ada perubahan warna pada pakaian Furqon, misalnya memakai warna merah ketika perasaannya mulai jatuh pada Amira. Pendekatan ini membuat film terasa lebih hidup secara visual.
Sementara itu dari sisi akting, emosi, terutama adegan marah, sejumlah aktor terasa cukup tertahan. Adegan emosional ini rasanya jadi kurang nendang. Namun, Archie Hekagery selaku sutradara punya alasan yang cukup masuk akal terkait emosi ini. Menurutnya, hal itu karena Furqon dan Amira bertengkar di rumah orangtuanya.
"Kalau yang tadi dilihat mungkin konteksnya ada waktu Furqon sama Amira berantem di kamar kan. Konteksnya ada mertua di samping gitu. Jadi gak mungkin juga (teriak), 'Heh ngapain lo?' Mertuanya bangun dong nanti kalau berantem gitu," jelasnya saat ditemui media pada Rabu (15/4/2026).