Sebagai debut penyutradaraan Cesa David Luckmansyah, Seni Merayu Tuhan menunjukkan perhatian visual yang cukup matang. Pengalaman Cesa sebagai editor terasa dalam bagaimana gambar-gambar film ini dirangkai untuk membangun emosi secara perlahan.
Sinematografinya menjadi salah satu aspek yang paling menonjol. Framing dan komposisi gambar mampu memberikan ruang bagi karakter untuk menghayati kesedihan, kesepian, maupun kebingungan mereka. Penggunaan seluloid 16mm pada sejumlah bagian juga memberikan tekstur visual yang terasa personal dan intim.
Sound design serta scoring-nya pun bekerja dengan baik. Musik tidak sekadar menjadi tempelan untuk memaksa penonton menangis, tetapi cukup sering digunakan untuk memperkuat perubahan emosi dalam adegan. Pilihan soundtrack-nya juga terasa tepat untuk atmosfer film. Masalahnya, ketenangan tersebut terkadang berubah menjadi terlalu lambat.
Durasi dua jam sebenarnya masih cukup ideal untuk cerita kontemplatif, tetapi beberapa bagian terasa seperti kehilangan arah karena terlalu banyak informasi yang dilemparkan tanpa petunjuk memadai. Subplot mengenai Sophia, Hotib, maupun Bu Halimah terkadang terasa muncul mendadak sehingga membuat perkembangan cerita kurang mulus.
Akibatnya, ada momen ketika penonton justru bisa mengalami kebingungan yang mungkin tidak sepenuhnya disengaja. Film memang ingin menggambarkan manusia yang kehilangan arah ketika jauh dari agama, tetapi penyampaian subplot-nya sesekali membuat film itu sendiri ikut kehilangan arah. Klimaksnya pun tidak terasa benar-benar seperti klimaks.
Seni Merayu Tuhan lebih memilih mengalun daripada meledak. Bagi penonton yang menyukai drama kontemplatif, pendekatan ini mungkin justru menjadi daya tarik. Namun, bagi mereka yang mengharapkan ledakan emosi di babak akhir, film ini mungkin terasa terlalu kalem.