Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Review Film Seni Merayu Tuhan, Kisah Hijrah Gen Z yang Tak Menggurui
Seni Merayu Tuhan (dok. Wahana Kreator/Seni Merayu Tuhan)
  • Seni Merayu Tuhan mengikuti Hikmah yang dilanda penyesalan setelah ibunya meninggal, lalu menelusuri kembali hubungan dengan keluarga, dirinya sendiri, dan Tuhan.
  • Debut penyutradaraan Cesa David Luckmansyah menghadirkan hijrah sebagai proses manusiawi Gen Z: penuh kehilangan, marah, bingung, dan pertanyaan, tanpa terasa menggurui.
  • Sinematografi 16mm, sound design, dan atmosfer kontemplatif menjadi kekuatan film, meski tempo lambat, subplot kurang mulus, serta klimaksnya terasa tidak terlalu kuat.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Film religi Indonesia kembali menawarkan cerita tentang perjalanan spiritual lewat Seni Merayu Tuhan (2026). Diadaptasi dari buku karya Habib Husein Ja'far Al Hadar, film ini menjadi debut penyutradaraan Cesa David Luckmansyah yang sebelumnya dikenal sebagai editor.

Dibintangi Ari Irham, Lutesha, dan Rieke Diah Pitaloka, Seni Merayu Tuhan tidak sekadar mengajak penonton melihat kisah seseorang yang kembali mendekat kepada Tuhan. Film ini justru mencoba membicarakan kehilangan, penyesalan, keluarga, dan proses menjadi dewasa melalui sudut pandang anak muda masa kini. Apa saja kelebihan dan kekurangannya? Yuk, simak di bawah!

Sinopsis Seni Merayu Tuhan (2026)

Seni Merayu Tuhan mengikuti Hikmah (Ari Irham), seorang pemuda yang tengah menikmati kehidupan bersama teman-teman, pekerjaan, dan kekasihnya, Sophia (Lutesha). Kesibukan tersebut perlahan membuat hubungan Hikmah dengan sang mama, Bu Halimah (Rieke Diah Pitaloka), semakin renggang. Tak hanya menjauh dari keluarga, Hikmah juga mulai meninggalkan kehidupan spiritual yang sebelumnya ia jalani.

Semuanya berubah ketika Hikmah harus menghadapi kepergian sang mama. Kehilangan tersebut membuatnya dihantam rasa bersalah sekaligus penyesalan. Ia mulai mempertanyakan kembali pilihan hidupnya, hubungannya dengan Tuhan, serta makna keimanan yang selama ini perlahan ia tinggalkan. Terlebih, ketika sang ibu selalu hadir dalam mimpinya.

Perjalanan Hikmah kemudian menjadi proses panjang untuk memahami kehilangan dan berdamai dengan dirinya sendiri. Ada kalanya ia merasa semakin dekat dengan Tuhan, tetapi ada pula saat ketika ia kembali tersesat dan mempertanyakan mengapa hidup berjalan tidak sesuai dengan harapannya.

Melalui perjalanan tersebut, Seni Merayu Tuhan menghadirkan kisah coming-of-age spiritual tentang seorang anak muda yang berusaha menemukan kembali jalan pulang kepada Sang Pencipta. Mampukah Hikmah "merayu" Tuhan untuk mendapatkan ketenangan yang ia idamkan?

Seni Merayu Tuhan
2026
3/5
Directed by Cesa David Luckmansyah
ProducerSalman Aristo, Sigit Pratama
WriterRino Sarjono, Salman Aristo, Gina S. Noer, Habib Ja'far
Age RatingR13
GenreDrama, coming-of-age
Duration115 Minutes
Release Date13 Agustus
ThemeTeen Drama, existential drama, psychological drama
Production HouseWahana Kreator
Where to WatchCinema XXI, CGV, Cinépolis Indonesia
CastAri Irham, Lutesha, Teuku Ryzki, Rieke Diah Pitaloka, Sita Nursanti, Onadio Leonardo, Arie Kriting, Alfie Alfandi

Trailer Seni Merayu Tuhan (2026)

1. Coming-of-age religi yang terasa dekat dengan Gen Z

Ada sesuatu yang cukup menarik dari cara Seni Merayu Tuhan membicarakan hijrah. Film ini tidak terasa seperti film religi yang sibuk memberikan daftar mengenai apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Sebaliknya, Cesa David Luckmansyah mencoba menempatkan Hikmah sebagai anak muda yang sedang berantakan dan bahkan tidak selalu memahami alasan di balik keresahannya sendiri.

Dialog seperti, "Padahal aku rajin ibadah, tapi kenapa hidup makin berantakan ya?", menjadi representasi keresahan yang cukup dekat dengan generasi muda. Pertanyaan tentang Tuhan dalam film ini tidak selalu muncul dari seseorang yang sepenuhnya kehilangan iman, melainkan dari seseorang yang sedang kecewa, bingung, dan mencoba memahami hidup.

Pendekatan tersebut membuat Seni Merayu Tuhan terasa seperti versi Gen Z dari film-film hijrah seperti Moga Bunda Disayang Allah (2013), Haji Backpacker (2014), atau bahkan Mencari Hilal (2015). Bedanya, persoalan yang dihadapi Hikmah terasa lebih personal dan kontemporer.

Film ini juga cukup cerdas menyampaikan pesan spiritual tanpa menjadikan seluruh dialognya sebagai khotbah. Analogi, refleksi puitis, hingga visualisasi tertentu digunakan untuk menyampaikan gagasan mengenai hubungan manusia dengan Tuhan. Salah satu adegan yang paling membekas adalah ketika azan dikumandangkan di pemakaman. Sederhana, tetapi emosinya terasa kuat.

Seni Merayu Tuhan tidak menggambarkan hijrah sebagai perjalanan lurus dari "jauh dari Tuhan" menuju "menjadi manusia sempurna". Hikmah tetap bisa jatuh, marah, bingung, dan mempertanyakan banyak hal. Justru ketidaksempurnaan itulah yang membuat perjalanan spiritualnya terasa manusiawi.

2. Sinematografi dan sound design menonjol, tetapi ritmenya terlalu tenang

Sebagai debut penyutradaraan Cesa David Luckmansyah, Seni Merayu Tuhan menunjukkan perhatian visual yang cukup matang. Pengalaman Cesa sebagai editor terasa dalam bagaimana gambar-gambar film ini dirangkai untuk membangun emosi secara perlahan.

Sinematografinya menjadi salah satu aspek yang paling menonjol. Framing dan komposisi gambar mampu memberikan ruang bagi karakter untuk menghayati kesedihan, kesepian, maupun kebingungan mereka. Penggunaan seluloid 16mm pada sejumlah bagian juga memberikan tekstur visual yang terasa personal dan intim.

Sound design serta scoring-nya pun bekerja dengan baik. Musik tidak sekadar menjadi tempelan untuk memaksa penonton menangis, tetapi cukup sering digunakan untuk memperkuat perubahan emosi dalam adegan. Pilihan soundtrack-nya juga terasa tepat untuk atmosfer film. Masalahnya, ketenangan tersebut terkadang berubah menjadi terlalu lambat.

Durasi dua jam sebenarnya masih cukup ideal untuk cerita kontemplatif, tetapi beberapa bagian terasa seperti kehilangan arah karena terlalu banyak informasi yang dilemparkan tanpa petunjuk memadai. Subplot mengenai Sophia, Hotib, maupun Bu Halimah terkadang terasa muncul mendadak sehingga membuat perkembangan cerita kurang mulus.

Akibatnya, ada momen ketika penonton justru bisa mengalami kebingungan yang mungkin tidak sepenuhnya disengaja. Film memang ingin menggambarkan manusia yang kehilangan arah ketika jauh dari agama, tetapi penyampaian subplot-nya sesekali membuat film itu sendiri ikut kehilangan arah. Klimaksnya pun tidak terasa benar-benar seperti klimaks.

Seni Merayu Tuhan lebih memilih mengalun daripada meledak. Bagi penonton yang menyukai drama kontemplatif, pendekatan ini mungkin justru menjadi daya tarik. Namun, bagi mereka yang mengharapkan ledakan emosi di babak akhir, film ini mungkin terasa terlalu kalem.

3. Apakah Seni Merayu Tuhan recommended untuk ditonton?

Film ini sangat direkomendasikan, terutama jika kamu menyukai film religi yang kontemplatif alih-alih menggurui. Seni Merayu Tuhan punya kekuatan pada gagasan dan atmosfernya. Film ini tidak berusaha menjadikan perjalanan spiritual sebagai sesuatu yang hitam-putih. Sebaliknya, ia memperlihatkan bagaimana kehilangan orang terdekat dapat membuat manusia kembali mempertanyakan hidup, kematian, hingga hubungannya dengan Tuhan.

Kualitas visual dan sound design juga menjadi alasan kuat untuk menyaksikannya di bioskop. Beberapa adegannya memang terasa sangat indah, terutama ketika film memberikan ruang bagi emosi untuk tumbuh tanpa terlalu banyak dialog. Namun, film ini bukan tanpa kelemahan.

Tempo yang terlalu lambat, sejumlah subplot yang kurang mulus, serta perkembangan karakter yang terkadang terasa dipaksakan membuat perjalanan emosional Hikmah tidak selalu tersampaikan dengan maksimal. Bahkan ketika film ingin membuat penonton menangis, beberapa momennya justru terasa terlalu sadar bahwa dirinya sedang berusaha menjadi emosional.

Meski begitu, Seni Merayu Tuhan tetap menarik karena memilih jalan yang cukup berbeda. Film ini tidak mengatakan bahwa manusia harus selalu tahu cara menemukan Tuhan. Ia justru menunjukkan proses ketika seseorang tersesat, marah, mempertanyakan keadaan, lalu perlahan mencoba mencari jalan pulang.

Seni Merayu Tuhan bukanlah film religi yang sibuk menunjukkan bagaimana seseorang harus menuju Tuhan, melainkan yang mengingatkan bahwa terkadang perjalanan tersebut dimulai dari kerinduan paling sederhana. Seperti Hikman yang berharap cinta seorang ibu tetap sampai kepadanya, meski kini alamatnya adalah langit.

Curated For You

Editorial Team

Related Article