Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Review Jangan Buang Ibu, Potret Keluarga yang Gak Sempurna tapi Relate

Review Jangan Buang Ibu, Potret Keluarga yang Gak Sempurna tapi Relate
poster film Jangan Buang Ibu (Instagram.com/agungsaputrabm)
Intinya Sih
  • Film Jangan Buang Ibu menggambarkan kisah Ristiana, seorang ibu yang berjuang membesarkan anak-anaknya namun akhirnya ditinggalkan di panti jompo, menghadirkan dilema emosional antara kasih dan luka keluarga.
  • Alur maju mundur film ini mudah diikuti, tapi beberapa momen emosional terasa kurang maksimal karena transisi cepat yang membuat penonton belum sempat larut sepenuhnya dalam perasaan karakter.
  • Akting para pemain seperti Nirina Zubir, Refal Hady, dan Amanda Manopo berhasil menghidupkan konflik keluarga dengan natural, menjadikan film ini tetap menyentuh meski ada kekurangan teknis.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Jakarta, IDN Times - Jangan Buang Ibu menjadi salah satu film drama terbaru yang memotret kehidupan keluarga yang tidak pernah benar-benar sempurna. Film ini menyoroti kisah seorang ibu yang ditinggalkan oleh anak-anaknya di panti jompo, sebuah situasi yang membuat saya sempat merasa marah sekaligus patah hati. Namun di sisi lain, kondisi anak-anaknya juga tidak sepenuhnya bisa disalahkan.

Karena sama-sama kuat, menurut saya, dua sisi sudut pandang ini pada akhirnya menyisakan dilema emosional bagi penonton.

Saat menyaksikan screening film ini di XXI Plaza Indonesia pada Kamis (11/6/2026), studio bioskop dipenuhi air mata. Banyak penonton yang larut dalam cerita hingga menangis tersedu-sedu karena merasa relate. Lantas, apakah film ini sesedih itu? Berikut review-nya.

Sinopsis Film Jangan Buang Ibu (2026)

Film Jangan Buang Ibu mengikuti kisah seorang ibu bernama Ristiana yang harus berjuang menghidupi ketiga anaknya, Tama, Dewi, dan Tria setelah dikhianati oleh suaminya. Meski hidup dalam kesederhanaan dan harus bekerja keras, Ristiana tetap mampu membesarkan anak-anaknya dengan baik. Namun di usia senjanya, Ristiana harus menghadapi kenyataan pahit bahwa suaminya meninggalkan utang yang sangat besar.

Terusik dengan keputusan sepihak dari sang ibu, Tama, Dewi, dan Tria pun dilema menghadapi situasi yang ada. Mereka yang dulunya dekat, hangat, dan utuh sebagai keluarga, kini harus merasakan jarak yang membuat kerinduan Ristiana semakin dalam.

Jangan Buang Ibu
2026
3.8/5
Directed by Hadrah Daeng Ratu
Producer

Agung Saputra

Writer

Widya Arifianti

Age Rating

13+

Genre

Drama, keluarga

Duration

119 menit Minutes

Release Date

25-06-2026

Theme

Konflik keluarga, pengorbanan

Production House

Leo Pictures

Where to Watch

XXI, CGV, Cinepoint

Cast

Nirina Zubir, Refal Hady, Amanda Manopo, Saputra Kori

Trailer Jangan Buang Ibu (2026)

Cuplikan Jangan Buang Ibu

1. Potret keluarga yang gak sempurna, tapi relate dengan kehidupan banyak orang

Menurut saya, salah satu kekuatan utama film ini adalah ceritanya tidak menjual konflik yang berlebihan atau melodrama yang terlalu dibuat-buat. Sebaliknya, film ini justru menghadirkan permasalahan keluarga yang terasa dekat dengan kehidupan banyak orang.

Awalnya, sempat muncul rasa marah ketika saya melihat adegan anak-anak Ristiana tega meninggalkan ibunya di panti jompo setelah semua pengorbanannya. Tapi, seiring berjalannya cerita, ternyata semuanya tidak sesederhana itu. Sebagai anak-anak yang ditinggalkan oleh ayah mereka, Tama, Dwi, dan Tria juga membawa luka dan tekanan hidupnya sendiri sejak kecil yang membentuk cara mereka bersikap saat dewasa.

Karena menghadirkan dua sudut pandang yang sama-sama kuat, film ini meninggalkan dilema emosional. Penonton jadi tidak bisa sepenuhnya berpihak, karena di satu sisi diajak untuk memahami perjuangan Ristiana, tapi di sisi lain juga menyaksikan kompleksitas hidup ketiga anaknya.

Selain itu, karakter-karakter yang dihadirkan di film ini juga terasa dekat dan manusiawi. Tidak ada yang dibuat sempurna, semuanya hadir dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing. Bahkan, sosok ayah yang diperankan oleh Dwi Sasono pun digambarkan dengan apa adanya.

2. Banyak adegan potensial, tapi berasa kurang nendang

Film ini menggunakan alur maju mundur yang sebenarnya cukup jelas untuk diikuti. Perpindahan waktunya sama sekali tidak terasa membingungkan karena diberi penanda yang cukup membantu penonton memahami waktu dan konteks cerita.

Selain itu, film ini sebenarnya juga menyimpan banyak momen kuat yang berpotensi menjadi titik emosional penting. Namun, alih-alih dibiarkan berkembang, beberapa momen tersebut justru terasa terpotong karena transisi yang terlalu cepat. Akibatnya, emosi yang mulai terbentuk tidak sempat terasa penuh lantaran ceritanya sudah lebih dulu berpindah ke adegan berikutnya.

3. Akting pemainnya juara!

Akting para pemain film ini juga patut diapresiasi. Masing-masing berhasil menghidupkan karakternya tanpa terasa dibuat-buat, sehingga konflik di layar jadi lebih mudah diterima oleh penonton.

Selain Nirina Zubir dan Refal Hady, Amanda Manopo juga tampil meyakinkan. Saya pun ikut merasa terenyuh saat menyaksikan salah satu adegan menangisnya. Meski tanpa banyak dialog, emosinya tetap terasa kuat menembus layar. Di sisi lain, romansa tipis-tipisnya bersama Fadly Faisal menjadi selingan ringan yang berhasil mencairkan suasana.

Sementara dari sisi soundtrack, di awal film beberapa lagu masih terasa biasa saja dan belum terlalu membangun suasana. Tapi, semuanya berubah ketika lagu “Jangan Buang Aku” yang dibawakan Rizky Febian mulai diputar. Di momen itu, suasana film jadi terasa lebih hidup dan langsung mengaduk-aduk emosi penonton.

Tayang di bioskop mulai 25 Juni 2026, film ini layak untuk ditonton, terutama bagi penonton yang menyukai drama keluarga yang emosional dan dekat dengan realitas. Meski memiliki catatan pada transisi, kekuatan akting serta penggambaran konflik keluarga yang terasa manusiawi membuat film ini tetap meninggalkan kesan yang kuat.

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Zahrotustianah
EditorZahrotustianah

Related Articles

See More