Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

5 Subgenre Rock yang Sempat Mati, tapi Bangkit Lagi

5 Subgenre Rock yang Sempat Mati, tapi Bangkit Lagi
The Beatles (instagram.com/thebeatles)
Intinya Sih
  • Lima subgenre rock—garage, psychedelic, glam, progressive, dan shoegaze—pernah meredup namun kini bangkit kembali berkat generasi baru musisi yang menghidupkan ciri khasnya dengan sentuhan modern.
  • Kebangkitan tiap subgenre menunjukkan bahwa karakter unik dan pengaruh besar musik rock tetap relevan lintas generasi meski sempat ditinggalkan oleh arus utama industri musik.
  • Dari energi mentah garage hingga atmosfer dreamy shoegaze, setiap kebangkitan menandai siklus abadi kreativitas dan pembaruan dalam dunia musik rock global.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Dunia musik rock selalu mengalami perubahan dari waktu ke waktu. Ada genre yang pernah merajai tangga lagu, lalu perlahan menghilang karena dianggap sudah tidak relevan. Namun, beberapa subgenre rock justru berhasil bangkit kembali berkat generasi baru musisi yang menghidupkan kembali ciri khasnya dengan sentuhan modern.

Kebangkitan beberapa subgenre ini membuktikan bahwa musik berkualitas tidak pernah benar-benar mati. Meski sempat ditinggalkan, karakter unik dan pengaruh besarnya terus menginspirasi musisi lintas generasi. Berikut lima subgenre rock yang pernah dianggap selesai, tetapi kini kembali menemukan tempatnya di hati para penggemar.

1. Garage Rock

The White Stripes
The White Stripes (Facebook.com/The White Stripes)

Garage rock lahir di Amerika Serikat pada pertengahan 1960-an, tidak lama setelah penampilan fenomenal The Beatles di acara The Ed Sullivan Show memicu ledakan band-band baru. Banyak remaja yang mulai membentuk grup musik dan berlatih di garasi rumah mereka, sehingga lahirlah istilah "garage rock". Musiknya sederhana, kasar, dan jauh dari kata sempurna, tetapi justru energi itulah yang menjadi daya tarik utamanya.

Memasuki awal 1970-an, popularitas garage rock mulai memudar karena hard rock dan heavy metal mengambil alih perhatian publik. Meski begitu, pengaruhnya tidak pernah benar-benar hilang.

Pada akhir 1980-an hingga awal 1990-an, semangat garage rock kembali terasa di skena rock alternatif. Kemudian, mencapai puncaknya saat kebangkitan garage rock revival pada awal 2000-an melalui band seperti The Strokes dan The White Stripes.

2. Psychedelic Rock

Jimi Hendrix
Jimi Hendrix (Facebook.com/Jimi Hendrix)

Psychedelic rock menjadi simbol budaya tandingan pada akhir 1960-an. Genre ini berkembang seiring munculnya eksperimen artistik dan penggunaan efek suara yang berusaha menggambarkan pengalaman halusinatif. Band seperti Jefferson Airplane, Grateful Dead, The 13th Floor Elevators, hingga The Jimi Hendrix Experience membawa warna baru melalui permainan gitar yang penuh efek, melodi eksperimental, dan lirik yang imajinatif.

Saat memasuki dekade 1970-an, tren psychedelic mulai bergeser karena banyak musisi memilih jalur musik lain. Namun, pesonanya tidak pernah benar-benar hilang. Pada 1990-an, band seperti Spiritualized dan The Brian Jonestown Massacre menghidupkan kembali nuansa tersebut, sementara era modern melahirkan gelombang baru lewat Tame Impala, King Gizzard & the Lizard Wizard, dan Thee Oh Sees.

3. Glam Rock

David Bowie
David Bowie (facebook.com/David Bowie)

Glam rock muncul di Inggris pada awal 1970-an dengan penampilan yang mencolok, kostum berkilau, serta musik rock yang dipadukan dengan unsur teatrikal. T. Rex, yang dipimpin Marc Bolan, menjadi salah satu pelopor utamanya, kemudian menginspirasi David Bowie untuk menciptakan karakter ikonik Ziggy Stardust. Genre ini bukan hanya menawarkan musik, tetapi juga pertunjukan panggung yang penuh gaya dan imajinasi.

Meski pamornya mulai meredup ketika punk rock mengambil alih perhatian publik, pengaruh glam rock ternyata terus hidup. Pada dekade 1980-an, band-band seperti Kiss, Mötley Crüe, dan Quiet Riot mengadopsi kembali gaya glam melalui kostum mencolok, tata rias ekstrem, dan aksi panggung spektakuler. Bahkan hingga sekarang, unsur glam masih bisa ditemukan dalam berbagai band rock modern.

4. Progressive Rock

King Crimson
King Crimson (facebook.com/King Crimson)

Progressive rock berkembang pesat pada akhir 1960-an hingga pertengahan 1970-an melalui band seperti Yes, Genesis, King Crimson, dan Emerson, Lake & Palmer. Subgenre ini dikenal berani memadukan rock dengan musik klasik, jazz, hingga konsep album yang kompleks. Lagu-lagunya sering berdurasi panjang dengan permainan instrumen yang rumit, sehingga menjadi favorit para penikmat musik yang menyukai eksplorasi musikal.

Sayangnya, kemunculan punk rock membuat progressive rock dianggap terlalu rumit dan kehilangan daya tarik di mata banyak pendengar. Banyak grup akhirnya menyederhanakan musik mereka agar lebih mudah diterima pasar. Namun, pada 1980-an, lahirlah gelombang neo-progressive rock yang dipimpin Marillion, IQ, dan Pendragon.

5. Shoegaze

My Bloody Valentine
My Bloody Valentine (facebook.com/My Bloody Valentine)

Shoegaze lahir di Inggris pada akhir 1980-an dan langsung dikenal lewat dinding suara yang tebal, efek gitar berlapis, serta vokal yang terdengar melayang. Nama "shoegaze" sendiri muncul karena para gitaris genre ini sering terlihat menatap pedal efek di kaki mereka saat tampil di atas panggung. Band seperti My Bloody Valentine, Ride, Slowdive, dan The Jesus and Mary Chain menjadi ikon utama yang membentuk identitas genre tersebut.

Popularitas shoegaze sempat merosot pada pertengahan 1990-an dan banyak yang menganggapnya telah berakhir. Namun, memasuki era 2000-an, gelombang kebangkitan mulai terlihat ketika generasi baru menemukan kembali keindahan atmosfer musiknya. Slowdive dan My Bloody Valentine bahkan kembali aktif merilis musik dan tampil di berbagai festival.

Subgenre rock mungkin pernah kehilangan popularitas, tetapi sejarah membuktikan bahwa musik yang memiliki karakter kuat selalu menemukan jalan untuk kembali. Menurut kamu, dari lima subgenre rock ini, mana yang paling layak terus berkembang dan tetap populer hingga sekarang?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Curated For You
Topics
Editorial Team
Naufal Al Rahman
EditorNaufal Al Rahman

Related Articles

See More