7 Batasan Hidup Pangeran Agung I An di Perfect Crown, Gak Bebas!
- Pangeran Agung I An hidup di bawah aturan ketat istana, termasuk larangan mendahului atau menyamai raja dalam tindakan maupun penampilan.
- Ia harus menahan kemampuan dan prestasinya agar tidak melampaui Putra Mahkota, bahkan sengaja kalah dalam kompetisi demi menjaga hierarki kerajaan.
- Dalam kehidupan publik dan pribadi, I An dibatasi mulai dari pilihan makanan hingga pakaian, karena setiap tindakannya diawasi dan mencerminkan citra bangsawan.
Hidup sebagai bangsawan sering kali terlihat mewah dan penuh kekuasaan. Namun, di balik itu semua, ada banyak aturan ketat yang harus dipatuhi. Dalam drakor Perfect Crown, sosok Pangeran Agung I An (Byeon Woo Seok) justru menunjukkan sisi lain kehidupan istana yang jauh dari kata bebas.
Alih-alih hidup nyaman, I An justru harus terus menahan diri demi menjaga keseimbangan kekuasaan di istana yang membuatnya tidak bisa menjadi dirinya sendiri. Setiap langkahnya diawasi, bahkan hal-hal sederhana pun tidak bisa ia lakukan sesuka hati. Kira-kira, apa saja batasan hidup yang perlu ditaati Pangeran I An? Yuk, cari tahu!
1. Dilarang mendahului dan menyamai raja

Sejak kecil, Pangeran I An diajarkan ayahnya untuk tidak mendahului raja dalam hal apapun. Ia dilarang berjalan di depan karena rajalah yang seharusnya memimpin, ia dilarang mempertanyakan titah raja, bahkan dilarang untuk mengenakan pakaian dan atribut raja karena dianggap meremehkan wibawanya.
Pangeran I An pernah ditampar ayahnya waktu kecil hanya karena ia iseng meminta kakaknya meminjamkannya pakaian Putra Mahkota. Ketika itu, ia sama sekali tidak tahu bahwa hal itu terlarang baginya. Sejak saat itu, I An bahkan diajarkan untuk tidak memakai pakaian berwarna merah karena warna tersebut adalah "warna raja".
2. Dilarang standout dan melampaui raja
Tidak hanya dilarang mendahului dan menyamai raja, Pangeran I An juga dilarang melampaui kemampuan raja. Saat kecil, pencapaiannya tidak pernah diapresiasi ayahnya karena dianggap sebagai ancaman bagi Putra Mahkota yang akan mewarisi gelar raja ketika ia dewasa.
Setiap kali I An menunjukkan keunggulannya, ayahnya mengganti namanya untuk menurunkan statusnya dengan maksud membatasi kekuatannya supaya tidak melampaui kakaknya. Saat mengikuti lomba memanah, I An harus menahan dirinya dengan sengaja kalah di pertandingan. Padahal, ketika itu ia bisa menjadi sang juara.
3. Ketentuan makanan

Tidak hanya bagi Pangeran I An, keluarga bangsawan juga punya ketentuan dan batasan terkait makanan. Mereka hanya bisa makan di restoran karena mutu dan keamanannya lebih terjamin. Di restoran pun, Pangeran I An tidak bisa memakan makanan mentah seperti sashimi karena resiko keracunannya terlalu tinggi.
Selain itu, mereka juga dibatasi makan jajanan kaki lima karena dinilai kurang pantas dengan statusnya sebagai bangsawan. Pangeran I An seringkali harus menahan lapar ketika hadir di ruang publik. Saat menonton pertandingan bisbol bersama Song Hui Ju (IU), ia bahkan tidak bisa memakan jajanan yang ditawarkan Hui Ju.
4. Public appearance

Ketika hadir di ruang publik, Pangeran I An harus dijaga ketat oleh pengawal untuk memastikan keamanannya. Selain itu, ia harus menjaga tata krama karena apapun yang ia lakukan akan terekam oleh reporter dan menjadi bahan trendic topic di berita.
Karena kehidupan pribadi bangsawan tidak pernah benar-benar dianggap pribadi oleh publik, Pangeran I An juga dilarang memakai seragam yang menunjukkan pandangan politik. Bahkan, saat menghadiri pertandingan bisbol ia tidak bisa memakai jersey couple dengan Hui Ju karena bermerk Castle Group, perusahaan Hui Ju.
Wah, ternyata menjadi Pangeran Agung I An tidak mudah, ya? Hidupnya serba dibatasi dan sulit menjadi diri sendiri. Kalau kamu punya kesempatan hidup sebagai bangsawan, kira-kira sanggup atau tidak dengan aturan seketat itu?