7 Bukti Gagalnya Sistem Pendidikan di Teach You A Lesson, Miris!

Salah satu alasan dibentuknya Biro Perlindungan Hak Pendidikan (BPHP) di Teach You a Lesson (2026) adalah karena sistem pendidikan Korea Selatan dianggap sudah berada di titik yang mengkhawatirkan. Bahkan, Choi Gang Seok (Lee Sung Min) secara terang-terangan menyebut bahwa sekolah telah gagal menjalankan fungsi utamanya sebagai tempat belajar yang aman bagi siswa dan guru.
Hal itu bukan tanpa alasan. Sejak episode awal, drama ini terus menampilkan berbagai kasus yang memperlihatkan kegagalan sistem dalam melindungi korban dan menangani masalah yang terjadi di lingkungan pendidikan. Berikut beberapa buktinya!
1. Kasus perundungan terus terjadi di sekolah hingga memakan korban jiwa, sementara pihak sekolah gagal memberikan perlindungan yang dibutuhkan korban

2. Banyak guru kehilangan wibawa karena terbatasnya kewenangan mereka saat menghadapi siswa yang bermasalah atau melanggar aturan

3. Siswa dari keluarga berpengaruh bisa bertindak semena-mena karena merasa dilindungi oleh kekuasaan dan status orangtuanya

4. Sekolah yang seharusnya menjadi tempat belajar justru berubah menjadi sarang geng pelajar, kekerasan, hingga peredaran narkoba

5. Prestasi akademik dapat dimanipulasi demi memenuhi kepentingan orangtua murid yang memiliki uang dan kekuasaan

6. Guru kerap menjadi korban fitnah, laporan palsu, hingga tekanan dari orangtua murid tanpa mendapatkan perlindungan yang memadai

7. Masalah baru seperti judol dan pengedaran narkoba sudah masuk ke lingkungan sekolah, tapi sering kali terlambat ditangani sampai memakan korban

Lewat berbagai kasus yang ditampilkan, Teach You a Lesson (2026) seolah mengajak penonton mempertanyakan kembali kondisi dunia pendidikan saat ini. Mulai dari bullying, penyalahgunaan kekuasaan, hingga kejahatan yang melibatkan pelajar, semuanya menunjukkan bahwa ada banyak celah dalam sistem yang perlu diperbaiki.
Gak heran kalau kehadiran BPHP kemudian digambarkan sebagai solusi ekstrem untuk menghadapi masalah-masalah tersebut. Meski metodenya menuai pro dan kontra, keberadaan mereka berhasil membuka mata banyak orang terhadap berbagai persoalan yang selama ini dianggap biasa terjadi di sekolah.


















