5 Tragedi yang Sebenarnya Bisa Dicegah di The East Palace

Pembantaian para pangeran atas perintah Selir Sukbin demi takhta menjadi akar konflik, menutup kejahatan selama puluhan tahun, dan memicu kutukan serta dendam lintas generasi.
Raja memerintahkan pembunuhan warga terinfeksi wabah, menciptakan arwah pendendam yang diserap Putra Mahkota hingga ia berubah dari Won Gwi menjadi Ak Gwi.
Akumulasi ambisi, kebohongan, dan keputusan keluarga kerajaan memaksa Gu Cheon bersekutu dengan Gwimae Purba; akhirnya Putra Mahkota, Pangeran Yeongan, Selir Sukbin, Ibu Suri, dan Raja bernasib tragis.
Sepanjang penayangannya, The East Palace (2026) dipenuhi berbagai tragedi yang menimpa keluarga kerajaan. Mulai dari pembunuhan, kutukan, hingga kemunculan Ak Gwi, semuanya terasa seperti rangkaian takdir yang sulit dihindari.
Padahal, kalau dipikir-pikir lagi, banyak tragedi tersebut sebenarnya bisa dicegah sejak awal. Sayangnya, ambisi, kebohongan, dan keputusan yang salah justru membuat masalah terus membesar hingga memakan semakin banyak korban. Berikut lima tragedi di The East Palace yang sebenarnya bisa dicegah.
1. Pembantaian para pangeran 30 tahun lalu

Semua tragedi di The East Palace berawal dari pembunuhan para pangeran yang dilakukan atas perintah Selir Sukbin. Demi memastikan putranya naik takhta, ia menyingkirkan para pewaris tahta lainnya secara diam-diam. Kejahatan tersebut kemudian ditutupi selama puluhan tahun.
Seandainya ambisi Selir Sukbin dihentikan sejak awal atau kejahatannya segera diungkap, mungkin tidak akan ada Kutukan Arwah Kolam maupun dendam yang diwariskan ke generasi berikutnya. Tragedi ini menjadi akar dari hampir seluruh konflik yang terjadi di drama.
2. Pembantaian warga yang terkena wabah

Saat wabah melanda, Raja memerintahkan prajurit membunuh para warga yang terinfeksi. Keputusan tersebut diambil demi mencegah penyebaran wabah semakin luas. Namun, cara itu justru menciptakan ketidakadilan bagi rakyat yang tidak sempat diselamatkan.
Kematian tragis para korban melahirkan banyak arwah pendendam. Arwah-arwah itu kemudian dimanfaatkan Putra Mahkota untuk memperkuat dirinya hingga berubah menjadi Ak Gwi. Jika Raja memilih mencari cara lain untuk menangani wabah, tragedi sebesar ini mungkin tidak akan pernah terjadi.
3. Putra Mahkota berubah menjadi Ak Gwi

Awalnya, Putra Mahkota hanya menjadi Won Gwi setelah diracun oleh Raja. Namun, ia kemudian menyerap kebencian dan energi negatif dari para arwah korban wabah hingga berevolusi menjadi Ak Gwi. Perubahan itulah yang membuat ancaman terhadap kerajaan semakin sulit dihentikan.
Seandainya Raja tidak membantai para korban wabah dan lebih terbuka mengenai dosa keluarganya, Putra Mahkota mungkin tidak akan memperoleh sumber kekuatan sebesar itu. Dengan kata lain, lahirnya Ak Gwi sebenarnya merupakan akibat dari kesalahan yang terus dibiarkan menumpuk.
4. Gu Cheon harus membuat perjanjian dengan Gwimae Purba

Saat menghadapi Putra Mahkota yang telah menjadi Ak Gwi, Gu Cheon menyadari bahwa kekuatannya tidak lagi cukup. Demi menghentikan bencana yang lebih besar, ia terpaksa membuat perjanjian dengan Gwimae Purba dan mempertaruhkan dirinya sendiri. Keputusan itu membuatnya harus menanggung konsekuensi seumur hidup.
Padahal, pengorbanan Gu Cheon sebenarnya tidak perlu terjadi jika keluarga kerajaan menyelesaikan masalah mereka sejak puluhan tahun lalu. Karena berbagai kebohongan terus ditutupi, beban untuk menghentikan semuanya justru jatuh ke tangan Gu Cheon.
5. Hancurnya keluarga kerajaan

Di akhir cerita, hampir seluruh keluarga kerajaan harus menerima nasib tragis. Putra Mahkota tewas setelah berubah menjadi Ak Gwi, Pangeran Yeongan menjadi korban, Selir Sukbin diasingkan, Ibu Suri kehilangan kewarasannya, dan Raja hidup dalam penyesalan. Semua itu menjadi akhir yang menyedihkan bagi keluarga kerajaan.
Ironisnya, kehancuran tersebut bukan disebabkan oleh kutukan semata. Sebaliknya, semuanya berawal dari ambisi, kebohongan, dan keputusan-keputusan yang salah. Jika sejak awal mereka memilih mengungkap kebenaran, kemungkinan besar tragedi sebesar ini tidak akan pernah terjadi.
Salah satu pesan yang paling terasa dari The East Palace adalah bahwa sebuah tragedi sering kali bukan muncul karena takdir, melainkan karena keputusan manusia sendiri. Semakin lama kebenaran disembunyikan, semakin besar pula harga yang harus dibayar. Kalau menurutmu, dari lima tragedi di atas, mana yang paling disayangkan karena sebenarnya masih bisa dicegah?













![[QUIZ] Kalau CORTIS Jadi Kakak Kelas, Siapa Member yang Bakal Naksir Kamu?](https://image.idntimes.com/post/20260724/upload_518aebc21d52f4458f302278557220c3_ebf7dced-707b-43fd-acaa-7e7025036edf.png)



![[QUIZ] Jika Fotonya Dibalik, Siapa Member SEVENTEEN Ini?](https://image.idntimes.com/post/20241010/tebak-member-seventeen-dc6a9524e62e3722753adb8b6d708405.png)


