3 Alasan Buku Mindfulness Tak Cukup Hadapi Lingkungan Kerja Toxic

- Mindfulness membantu mengelola stres, emosi, dan respons agresif, tetapi tidak mengubah akar masalah seperti jam kerja berlebihan, gaji tak sepadan, atau manajemen yang kacau.
- Penerimaan dalam mindfulness bukan berarti pasif; kesadaran perlu diikuti tindakan nyata, seperti menetapkan batasan, menyampaikan keluhan profesional, serta mengevaluasi strategi menghadapi lingkungan kerja.
- Mindfulness kini kerap dikomersialkan melalui buku, aplikasi, dan seminar, sementara perusahaan dapat menggunakannya untuk mengalihkan tanggung jawab atas sistem kerja toxic kepada karyawan.
Mindfulness, istilah tersebut menjadi salah satu tren kesehatan di kalangan masyarakat beberapa tahun terakhir ini. Melansir laman Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, Jon Kabat-Zinn, Bapak Mindfulness Modern Dunia, mengartikan mindfulness sebagai kesadaran dari waktu ke waktu, tidak menghakimi apa yang ada di pikiran maupun perasaan sendiri juga orang lain. Adapun menurut Scott R. Bishop, mindfulness adalah self-regulation terhadap atensi dan orientasi untuk mengalami apa yang terjadi saat ini.
Di tengah hiruk pikuk dunia saat ini, buku mindfulness kerap dilabeli sebagai solusi untuk mengelola beban pikiran serta emosi. Namun, sekadar membaca buku mindfulness gak akan pernah bisa menyelesaikan akar masalah secara langsung ya, kalau sumber utama masalahnya berasal dari sistem kerja yang toxic. Berikut alasannya!
1. Mindfulness tidak dirancang untuk menuntaskan akar masalah, melainkan mengobati gejala

ilustrasi orang dalam keadaan tenang (pexels.com/Natalie Bond) Mindfulness memang bisa membantu seseorang dalam mengelola stres. Dengan mindfulness, seseorang bisa belajar mengolah emosi dan pikirannya. Melansir laman Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, mindfulness membuat individu mencegah diri untuk bereaksi secara agresif terhadap keadaan.
Meskipun dinilai solutif untuk menenangkan diri, kemampuan mengolah emosi ini gak serta merta mengubah situasi yang merusak di luar diri. Kalau stres dan tekanan yang kamu rasakan bersumber dari budaya kerja yang buruk, seperti tuntutan jam kerja yang berlebihan, gaji yang gak sesuai dengan beban kerja, atau manajemen yang kacau, mindfulness gak akan pernah bisa mengubah realitas itu. Praktik ini hanya mengubah cara pandang kamu terhadap kondisi yang kamu hadapi.
2. Mindfulness bukan berarti menerima secara pasif dan mengabaikan perubahan nyata

ilustrasi orang bersikap tenang (unsplash.com/Bookle Cagle) Salah satu inti dari mindfulness adalah menerima secara penuh dan berkesadaran tanpa menghakimi. Kondisi ini memang efektif untuk meredakan ketegangan emosi, tapi bukan berarti kamu abai terhadap keburukan lingkungan kerjamu dan berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja. Justru dengan mindfulness, kamu bisa berpikir kritis dalam menyadari bahwa sistem kerja yang kamu tinggali memang sudah gak layak atau rusak.
Meskipun begitu, praktik ini gak memberikan jalan keluar secara otomatis ya, dengan kata lain ada prosesnya. Mindfulness merupakan langkah awal untuk kamu bisa menyadari bahwa ada yang gak beres dengan sistem kerja di lingkunganmu dan karena itulah dibutuhkan aksi nyata serta evaluasi untuk menghadapi ataupun mengubah kondisi itu. Kamu perlu mengambil langkah tegas untuk berani menetapkan batasan, menyuarakan kritik maupun keluhan secara profesional, atau merencanakan strategi lainnya. Tanpa adanya tindakan tegas dari diri sendiri, membaca buku mindfulness hanya akan membuatmu terus terjebak dalam lingkungan yang rusak.
3. Mindfulness kerap dijadikan sebagai kapitalisasi industri

ilustrasi orang melakukan meditasi (pexels.com/냥이 고) Di era modern saat ini, mindfulness seakan telah bergeser dari praktik kesehatan menjadi komoditas bisnis. Hal ini bisa dibuktikan salah satunya dari banyaknya buku best-seller, aplikasi meditasi berbayar, sampai seminar kesehatan yang mengemas mindfulness seakan menjadi solusi efektif untuk setiap masalah.
Kapitalisasi ini sering dimanfaatkan oleh korporasi sebagai cara praktis dalam meredam krisis. Jadi, daripada perusahaan menaikkan gaji atau membuat jam kerja yang manusiawi, perusahaan lebih memilih mengadakan program mindfulness untuk membantu karyawan mereka mengelola stres. Secara gak langsung, hal tersebut merupakan taktik dalam mengalihkan tanggung jawab dari perusahaan ke individu. Padahal, sistem kerjanya yang toxic, tapi individunya yang justru diminta untuk menenangkan pikiran sendiri agar tetap bekerja secara produktif.
Pada akhirnya, buku mindfulness hanya memberikanmu pengetahuan teoretis dan langkah-langkah praktis. Praktik mindfulness berfungsi sebagai langkah awal untuk menyadari realitas di sekitarmu. Dan kesadaran itu harus diiringi pula dengan keberanian untuk bertindak nyata.






















