Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

5 Alasan Masuk Kerja Lewat Orang Dalam Gak Selalu Menguntungkan

5 Alasan Masuk Kerja Lewat Orang Dalam Gak Selalu Menguntungkan
ilustrasi pekerja (pexels.com/AI25.Studio AI GENERATIVE)
Intinya Sih
  • Masuk kerja lewat orang dalam bisa menimbulkan beban moral besar, seperti rasa sungkan saat ingin resign atau menolak permintaan di luar tanggung jawab pekerjaan.
  • Rasa percaya diri karyawan bisa menurun karena merasa diterima bukan atas kemampuan sendiri, sehingga sulit bangga dengan pencapaian yang diraih.
  • Keberhasilan sering dianggap hasil koneksi, bukan kerja keras pribadi, dan kesalahan kecil dapat mencoreng nama baik orang yang merekomendasikan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Punya kenalan atau 'orang dalam' yang bisa masukin kerja sering kali dianggap sebagai keberuntungan besar. Banyak orang melihat jalur ini sebagai tiket emas biar bisa langsung keterima kerja tanpa perlu pusing mikirin ketatnya persaingan.

Padahal, di balik kemudahannya, jalur ini sebenarnya punya banyak sisi gak enak yang jarang disadari. Kalau kamu mau tahu kenapa pilihan ini justru bisa bikin posisi kamu serba salah di kantor, simak penjelasan berikut ini!

1. Telanjur utang budi bikin kamu serba salah kalau mau resign

Tidak nyaman bekerja
ilustrasi tidak nyaman bekerja (pexels.com/Anna Tarazevich)

Waktu kamu masuk kerja lewat bantuan orang dalam, secara gak langsung kamu bakal merasa punya utang budi yang besar. Masalahnya, gak ada yang bisa jamin kalau kamu bakal langsung betah atau cocok sama budaya kerja di sana. Saat kamu mulai merasa gak nyaman dan kepikiran buat keluar, kamu gak bisa langsung ajukan surat resign begitu saja.

Ada rasa sungkan yang besar karena takut dicap gak tahu terima kasih sama orang yang sudah menolongmu. Situasi dilematis ini akhirnya memaksamu buat bertahan di lingkungan kerja yang sebetulnya sudah gak sehat. Sebelum memutuskan buat menerima bantuan kerja lewat jalur orang dalam coba pikirkan ulang apakah kamu siap dengan beban moral seketat ini.

2. Muncul rasa ragu atas kemampuan diri karena tahu proses seleksi cuma formalitas

Ragu dengan diri sendiri
ilustrasi ragu dengan diri sendiri (pexels.com/cottonbro studio)

Meskipun kamu tetap mengikuti seluruh rangkaian tes dari awal, kamu tahu betul kalau semua proses itu sebetulnya cuma formalitas. Nama kamu sudah dipastikan bakal diterima sejak awal karena posisi tersebut sudah ditandai untukmu. Hal inilah yang dalam jangka panjang bisa membuat kamu terus-menerus merasa kurang percaya diri dengan kemampuan yang kamu miliki.

Rasa minder ini biasanya bakal makin terasa menyiksa saat kamu dihadapkan pada tugas-tugas baru yang lebih menantang di kantor. Kamu jadi gampang cemas dan menganggap semua keberhasilanmu selama ini terjadi karena faktor bantuan dari orang lain, bukan karena usahamu sendiri. Karena tahu hasilnya sudah diatur sejak awal, kamu pun jadi susah buat merasa bangga dengan posisi yang kamu tempati sekarang.

3. Sulit menolak jika diberi tugas di luar tanggung jawab pekerjaan

Bekerja
ilustrasi bekerja (pexels.com/Yan Krukau)

Bekerja di satu tempat dengan orang yang membawamu masuk sering kali membuat kamu berada di posisi yang serba salah. Kamu mungkin bakal merasa gak enak buat menolak permintaannya, bahkan ketika tugas itu sebetulnya di luar tanggung jawab pekerjaanmu. Batasan antara urusan kantor dan personal jadi campur aduk karena adanya rasa utang budi yang belum lunas tadi.

Kondisi ini bakal makin rumit kalau orang yang membawamu memanfaatkan rasa sungkanmu untuk menyelesaikan pekerjaan pribadi mereka. Kamu bakal terjebak di posisi sulit karena ingin menolak tapi takut dicap sebagai orang yang gak tahu terima kasih. Akibat terlalu sibuk membantu urusan dia, tugas utama kamu sendiri malah jadi terbengkalai.

4. Sebagus apa pun hasil kerjamu, orang lain telanjur menganggap itu karena koneksi

Dibicarakan rekan kerja
ilustrasi dibicarakan rekan kerja (pexels.com/Kampus Production)

Mungkin hal ini jadi yang paling terasa mengecewakan bagi seluruh kerja keras yang sudah kamu lakukan. Saat kamu berhasil mencapai target atau memberikan kontribusi besar buat tim, orang-orang di sekitar cenderung gak melihatnya secara objektif. Rekan kerja atau atasan bakal dengan mudah menganggap kalau keberhasilanmu itu terjadi karena kamu dibantu oleh koneksimu.

Dampaknya, motivasi kamu buat memberikan yang terbaik perlahan bisa luntur karena merasa semua usahamu gak pernah dihargai dengan adil. Kamu seperti harus bekerja dua kali lebih keras hanya untuk mendapatkan pengakuan yang sebetulnya layak kamu terima. Rasa lelah karena harus terus-menerus membuktikan kemampuan diri ini lama-kelamaan bisa membuat kamu merasa jenuh dengan pekerjaan.

5. Nama baik orang yang membawamu masuk ikut dipertaruhkan jika kamu bikin kesalahan

Karyawan diberi teguran
ilustrasi karyawan diberi teguran (pexels.com/Edmond Dantès)

Ketika kamu masuk lewat bantuan kenalan, setiap hasil kerjamu di kantor otomatis akan selalu dikaitkan dengan orang tersebut. Begitu kamu melakukan kesalahan atau gagal mencapai target, perusahaan biasanya akan ikut mempertanyakan keputusan orang yang membawamu. Salah sedikit saja dari dirimu bisa ikut menyeret nama baiknya yang sebetulnya cuma berniat baik memberimu pekerjaan.

Hal ini jelas bisa merusak hubungan kamu dengannya, bahkan bukan gak mungkin merembet ke urusan pribadi di luar kantor. Kenalanmu itu bisa saja kehilangan kepercayaan dari atasan untuk memberikan rekomendasi karyawan lagi di masa depan. Akhirnya, rasa bersalah karena telah mengecewakan teman sendiri bakal berubah jadi beban pikiran yang bikin kamu gak nyaman selama bekerja.

Mencari kerja dengan kemampuan sendiri dari awal memang melelahkan karena harus bersaing dengan banyak orang. Namun, cara ini jauh lebih bikin tenang karena kamu gak perlu merasa sungkan atau terbebani sama siapa pun saat bekerja. Mulai hari ini, yuk lebih percaya sama skill yang kamu punya dan jangan ragu buat ikutan melamar di tempat impianmu!

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Siantita Novaya
EditorSiantita Novaya

Related Articles

See More