Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

5 Kesalahan yang Sebaiknya Kamu Hindari di Tempat Kerja

5 min read
5 Kesalahan yang Sebaiknya Kamu Hindari di Tempat Kerja
Ilustrasi terlambat berangkat kerja (magnific.com/magnific)
  • Keterlambatan berulang tanpa komunikasi dapat mengganggu jadwal kerja; siapkan kebutuhan lebih awal dan informasikan kendala serta perkiraan waktu kedatangan.
  • Jangan mengabaikan pesan kerja atau terlalu mencampurkan urusan pribadi saat bekerja; respons singkat dan pengaturan prioritas membantu tugas tetap berjalan lancar.
  • Hindari membicarakan privasi rekan kerja dan menutupi kesalahan; jaga kepercayaan, akui masalah secara jujur, lalu fokus memperbaiki solusi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Setiap tempat kerja punya aturan dan kebiasaan yang mungkin berbeda dari lingkungan yang pernah kamu jalani sebelumnya. Hal-hal kecil yang terlihat sepele terkadang bisa memengaruhi kelancaran pekerjaan dan cara rekan kerja melihat sikapmu. Karena itu, kamu perlu memahami kebiasaan yang berlaku agar lebih mudah menyesuaikan diri.

Kamu gak harus selalu bersikap sempurna di kantor. Kesalahan tetap bisa terjadi, terutama ketika kamu masih mempelajari cara kerja, aturan, dan kebiasaan di lingkungan baru. Yang penting, kamu mau memperhatikan dampaknya dan berusaha memperbaikinya ketika melakukan kesalahan.

Beberapa kesalahan berikut sebaiknya kamu perhatikan agar komunikasi dan hubungan dengan rekan kerja tetap berjalan dengan baik. Dengan memahami hal-hal sederhana yang sering terjadi di tempat kerja, kamu bisa membangun kebiasaan kerja yang lebih nyaman dan profesional.

  1. 1. Sering datang terlambat tanpa alasan yang jelas

    Seorang pria berjas membawa laptop sambil berlari di area parkir, menggambarkan keterlambatan berangkat kerja.
    Ilustrasi terlambat berangkat kerja (magnific.com/fanjianhua)

    Keterlambatan sesekali bisa terjadi karena kondisi yang gak terduga, seperti kemacetan, kendala kendaraan, atau situasi lain selama perjalanan. Situasi tersebut tentu bisa terjadi meski kamu sudah berusaha berangkat tepat waktu. Namun, datang terlambat secara berulang tanpa komunikasi yang jelas bisa mengganggu pekerjaan dan jadwal orang lain.

    Cobalah memperhitungkan waktu perjalanan dan menyiapkan kebutuhan sejak sebelumnya. Kamu bisa menyiapkan pakaian, barang bawaan, atau kebutuhan kerja pada malam hari agar waktu bersiap di pagi hari lebih singkat. Memberikan sedikit waktu tambahan untuk perjalanan juga bisa membantu ketika ada hambatan yang muncul di jalan.

    Kalau memang ada kendala yang membuatmu terlambat, sampaikan informasi tersebut kepada pihak yang perlu mengetahuinya. Beri tahu perkiraan waktu kedatangan dan lakukan penyesuaian jika ada pekerjaan atau agenda yang terdampak. Komunikasi yang jelas membantu rekan kerja memahami situasi dan mengatur pekerjaan dengan lebih baik.

  2. 2. Mengabaikan komunikasi dari rekan kerja

    Ilustrasi seseorang memegang ponsel dengan pesan masuk dari rekan kerja yang belum mendapat balasan.
    Ilustrasi tidak membalas pesan rekan kerja (pexels.com/www.kaboompics.com)

    Pesan atau email yang berkaitan dengan pekerjaan sebaiknya gak dibiarkan tanpa respons terlalu lama. Rekan kerja bisa saja sedang menunggu informasi yang kamu miliki untuk melanjutkan tugasnya. Jika pesan tersebut terus tertunda, pekerjaan yang berkaitan juga bisa ikut terhambat.

    Kalau belum bisa memberikan jawaban lengkap, kamu bisa memberikan respons singkat terlebih dahulu dan menyampaikan kapan dapat menindaklanjutinya. Dengan begitu, orang lain tahu bahwa pesan tersebut sudah kamu terima dan sedang kamu perhatikan. Kamu juga bisa menghindari kesan seolah-olah pesan tersebut terlewat atau gak ditanggapi.

    Kebiasaan memberikan respons dengan jelas dapat membantu komunikasi pekerjaan berjalan lebih lancar. Gak semua pesan harus langsung dijawab secara panjang, terutama ketika kamu sedang menyelesaikan pekerjaan lain. Yang penting, sampaikan informasi yang diperlukan sesuai kondisi agar rekan kerja bisa menyesuaikan langkah berikutnya.

  3. 3. Terlalu sering mencampurkan urusan pribadi dengan pekerjaan

    Seorang karyawan tampak lelah menatap laptop di meja kerja sambil memikirkan urusan pribadi yang mengganggu konsentrasi.
    Ilustrasi memikirkan urusan pribadi saat bekerja (magnific.com/DC Studio)

    Menggunakan waktu kerja untuk mengurus terlalu banyak urusan pribadi bisa membuat fokusmu terbagi. Mengecek pesan pribadi, mengurus pembayaran, atau menyelesaikan keperluan lain sesekali mungkin sulit dihindari. Jika dilakukan terlalu sering hingga pekerjaan ikut tertunda, kamu bisa kesulitan menyelesaikan tanggung jawab sesuai waktu yang sudah ditentukan.

    Kamu tetap bisa memiliki waktu untuk kebutuhan pribadi, tetapi usahakan menyesuaikannya dengan aturan dan situasi di tempat kerja. Kalau urusan tersebut gak mendesak, kamu bisa menyelesaikannya saat jam istirahat atau setelah pekerjaan selesai. Untuk kebutuhan yang memang harus ditangani segera, komunikasikan dengan atasan atau pihak terkait agar pekerjaan tetap bisa diatur.

    Mengatur waktu dengan baik membantu kamu menjaga batas antara urusan pribadi dan tanggung jawab pekerjaan. Dengan menyelesaikan task sesuai prioritas dan menggunakan waktu kerja secara bijak, kebutuhan pribadi tetap bisa diurus tanpa mengganggu pekerjaan. Kebiasaan ini juga membantu menjaga kepercayaan dan sikap profesional di lingkungan kerja.

  4. 4. Membicarakan rekan kerja sembarangan

    Ilustrasi rekan kerja berbincang di acara perusahaan, menggambarkan pembicaraan tentang kolega di tempat kerja.
    Ilustrasi membicarakan rekan kerja (magnific.com/magnific)

    Obrolan ringan memang sering terjadi di kantor dan bisa menjadi bagian dari interaksi sehari-hari. Kamu bisa saja mendengar cerita tentang kehidupan pribadi, kesalahan, atau masalah yang sedang dihadapi rekan kerja. Kalau informasi tersebut kemudian dibicarakan kepada orang lain tanpa izin, hal itu bisa menimbulkan salah paham dan membuat suasana kerja kurang nyaman.

    Sebelum membicarakan sesuatu, pertimbangkan apakah informasi tersebut memang perlu disampaikan. Cerita yang kamu dengar secara pribadi gak selalu perlu diteruskan, meski menurutmu terlihat sepele. Kalau ada hal yang berkaitan langsung dengan pekerjaan, sampaikan kepada orang yang memang perlu mengetahuinya melalui cara yang tepat.

    Menjaga privasi rekan kerja juga merupakan bagian dari sikap profesional. Kamu bisa tetap membangun hubungan yang dekat dan nyaman di kantor tanpa menjadikan cerita pribadi orang lain sebagai bahan obrolan. Kebiasaan sederhana ini dapat membantu menjaga kepercayaan dan membuat hubungan kerja tetap sehat.

  5. 5. Gak mau mengakui kesalahan

    Dua perempuan dewasa berdiskusi sambil melihat dokumen di meja sebagai ilustrasi sikap tidak mengakui kesalahan.
    Ilustrasi tidak mengakui kesalahan (magnific.com/freepik)

    Kesalahan dalam pekerjaan bisa terjadi pada siapa saja. Menyembunyikan kesalahan atau mencari alasan justru bisa membuat masalah menjadi lebih sulit ditangani. Ketika melakukan kesalahan, akui dengan jujur dan segera sampaikan kepada pihak yang berkaitan agar masalah bisa ditangani dengan tepat.

    Setelah mengakui kesalahan, fokus pada solusi yang bisa dilakukan. Cari tahu bagian mana yang perlu diperbaiki dan langkah apa yang bisa dilakukan agar pekerjaan kembali berjalan. Kamu juga bisa menjadikan pengalaman tersebut sebagai bahan evaluasi supaya kesalahan serupa gak terus terulang.

    Dunia kerja memang penuh dengan proses belajar, terutama ketika kamu masih beradaptasi dengan lingkungan dan tanggung jawab baru. Kamu mungkin pernah melakukan kesalahan selama menjalani proses tersebut. Yang penting adalah kemauan untuk mengevaluasi diri dan memperbaiki kebiasaan. Dengan menjaga komunikasi, menghargai rekan kerja, dan bertanggung jawab atas pekerjaan, kamu bisa membangun sikap profesional secara perlahan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More