Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
AI Bisa Bantu Membuat CV, Apakah Recruiter Menyukainya? Cek Faktanya!
ilustrasi melamar kerja (unsplash.com/Resume Genius)
  • Sekitar 45 persen pencari kerja memakai AI generatif untuk menyusun atau memperbarui resume; penggunaan fitur AI di Canva dan Grammarly juga menunjukkan tren yang masif.
  • Sebanyak 90 persen HR menerima penggunaan AI dalam materi lamaran, tetapi tetap menilai keaslian, gaya komunikasi, keterampilan interpersonal, serta kecocokan kandidat.
  • AI lebih diterima pada bidang teknis dan keuangan, sementara pelamar komunikasi atau kreatif perlu menjaga orisinalitas; gunakan AI untuk penyuntingan, format, dan penyesuaian CV.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Perkembangan kecerdasan buatan atau AI telah mengubah berbagai aspek kehidupan, termasuk cara seseorang menyusun Curriculum Vitae (CV). Kini, berbagai platform AI mampu membantu menyusun resume, memperbaiki tata bahasa, hingga membuat tampilan CV terlihat lebih profesional.

Kemudahan ini membuat banyak pencari kerja mengandalkan AI untuk meningkatkan peluang lolos seleksi. Namun, di balik efisiensi tersebut, muncul pertanyaan lain. Apakah recruiter benar-benar menyukai CV yang dibuat dengan bantuan AI?

1. Banyak job seeker memanfaatkan penggunaan AI untuk meningkatkan CV

ilustrasi melamar kerja/resume (pexels.com/anna shvets)

Survei yang dilakukan Yahoo dalam Forbes, menunjukkan bahwa sekitar 45 persen pencari kerja menggunakan AI generatif untuk menyusun, memperbarui, dan meningkatkan resume mereka. Survei tersebut melibatkan 5.000 manajer perekrutan dan 5.000 pencari kerja dari berbagai negara, termasuk Amerika Serikat hingga India.

Tingginya penggunaan AI juga tercermin dari data sejumlah platform yang menyediakan fitur berbasis kecerdasan buatan. Canva mencatat bahwa fitur Magic Write telah digunakan lebih dari lima juta kali sepanjang 2023, menunjukkan penggunaan AI yang semakin masif dalam membantu pembuatan dokumen, termasuk CV. Sementara itu, Grammarly melaporkan bahwa fitur Resume Skills Generator telah digunakan oleh sekitar 30 juta pengguna untuk menyusun dan mengoptimalkan keterampilan yang dicantumkan dalam resume.

Berbagai temuan tersebut menunjukkan bahwa AI telah menjadi alat yang banyak dimanfaatkan oleh para pencari kerja untuk menghasilkan CV yang lebih profesional. Tingginya penggunaan fitur-fitur AI di berbagai platform, juga mencerminkan meningkatnya kepercayaan job seeker terhadap teknologi ini sebagai pendukung dalam proses melamar pekerjaan.

2. Apakah HR menerima CV yang dibuat AI?

ilustrasi melamar kerja/resume (pexels.com/anna shvets)

Dalam survei Yahoo, juga ditemukan 90 persen HR menyatakan bahwa penggunaan AI generatif dalam materi aplikasi dapat diterima. Sebanyak 44 persen mengatakan bahwa tak masalah menggunakan AI untuk membuat konten wawancara.

Akan tetapi, melansir laman Randstastad, hiring manager berharap agar calon kandidat mempertahankan kualitas dan keaslian resume. Pihak HR melihat banyak alat AI menghilangkan gaya komunikasi individu, padahal proses ini menjadi salah satu tahap seleksi untuk mengevaluasi keterampilan interpersonal kandidat, kesesuaian budaya, dan potensi pertumbuhan.

Dalam sumber yang sama dijelaskan, pada bidang teknis seperti teknologi dan teknik, tercatat adanya penerimaan yang besar untuk resume yang dibantu AI. Pasalnya, bidang ini memprioritaskan kompetensi teknis dan pencapaian yang terukur sehingga tata bahasa bukan menjadi prioritas penilaian. Hal serupa juga berlaku untuk sektor keuangan yang lebih dominan mencari pelamar dengan keterampilan pemecahan masalah dan critical thinking.

Sementara respons berbeda terjadi bagi pelamar di bidang komunikasi dan kreatif. Penggunaan AI dapat menunjukkan kurangnya kreativitas dan rasa percaya diri. Terlebih, penggunaan AI berpotensi menimbulkan kekhawatiran terkait kesesuaian kandidat dengan pekerjaan yang dituju. Hal serupa juga berlaku bagi kandidat di bidang kreatif yang seharusnya menonjolkan konsep asli, kesesuaian desain visual, dan keterampilan estetika.

3. Cara memanfaatkan AI untuk proses seleksi kerja

ilustrasi melamar kerja/resume (pexels.com/anna shvets)

Menurut penelitian yang dilakukan oleh Talent Solutions and Business Consulting Firm, Robert Half, mayoritas HR atau sekitar 67 persen responden mengetahui resume yang telah dimodifikasi oleh AI. Meningkatnya penggunaan AI dalam proses perekrutan, menciptakan tantangan tersendiri bagi HR. Pasalnya, AI kerap kali mengarang atau memperindah riwayat dan keterampilan kerja pelamar. Hal ini mempersulit HR untuk membedakan pengalaman yang autentik dengan konten yang dihasilkan AI.

Untuk itu, manfaatkan AI untuk menunjang kebutuhan, bukan sebagai alat penggerak utama dalam menciptakan CV. Pelamar kerja disarankan menyiapkan resume dasar, lalu meminta AI untuk bertukar pikiran tentang bagian yang harus disorot agar sesuai dengan deskripsi kerja dari lowongan yang dituju.

Manfaatkan AI untuk membuat CV lebih profesional dengan mengurangi kesalahan dalam tata bahasa atau format umum yang dibutuhkan. Dari sisi desain, AI juga dapat membantu pelamar untuk menggunakan font yang konsisten hingga meningkatkan keterbacaan pada rekruter.

Penggunaan AI dalam batas yang wajar dapat membantu meningkatkan CV atau resume. Akan tetapi, mengubah keaslian atau keterampilan yang telah dimiliki pelamar demi menarik perhatian hiring manager, justru dapat mengganggu proses seleksi.

Curated For You

Editorial Team

Related Article