Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Ini Bahaya Oversharing Saat Pertama Kali Datang Interview

4 min read
Ini Bahaya Oversharing Saat Pertama Kali Datang Interview
Ilustrasi interview kerja (pexels.com/Tima Miroshnichenko)
  • Oversharing saat interview dapat terjadi karena gugup atau ingin mencairkan suasana, tetapi informasi pribadi yang berlebihan berisiko mengalihkan fokus recruiter dari kompetensi kandidat.
  • Saat menjelaskan alasan resign atau pengalaman kerja, kandidat disarankan tetap jujur dengan menekankan alasan profesional, tanpa membeberkan konflik, drama, atau masalah pribadi.
  • Jawaban tentang diri sendiri sebaiknya singkat dan relevan: soroti pengalaman, kemampuan, serta ketertarikan pada posisi, sambil tetap autentik tanpa menjadikan interview sebagai curhat pribadi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Deg-degan sebelum interview kerja itu sangat wajar, apalagi kalau ini kesempatan pertama kali bertemu dengan recruiter. Saking gugupnya, kadang mulut jalan lebih cepat daripada pikiran. Pertanyaan sederhana seperti, “Ceritakan tentang dirimu” bisa berubah menjadi cerita panjang soal keluarga, hubungan, hingga mungkin masalah pribadi.

Padahal, interview pertama seharusnya menjadi momen untuk menunjukkan pengalaman, kemampuan, dan alasan kamu cocok dengan posisi tersebut. Kenapa oversharing bisa jadi masalah saat baru pertama bertemu interviewer? 

Oversharing adalah ketika kita membagikan informasi pribadi terlalu banyak, terlalu cepat, atau bahkan sebenarnya tidak relevan dengan situasi yang ada. Kebiasaan ini bisa muncul karena ingin mencairkan suasana, terlihat jujur, atau sekadar mengusir rasa gugup.

Namun, interviewer belum tentu membutuhkan seluruh cerita di balik jawabanmu. Informasi yang tidak perlu justru bisa mengalihkan fokus dari kompetensi yang ingin kamu tunjukkan. Supaya obrolan tetap natural tanpa kebablasan, beberapa hal ini perlu diperhatikan.

  1. 1. Cerita masalah pribadi yang gak ada hubungannya dengan pekerjaan

    Ilustrasi interview
    Ilustrasi interview (unsplash.com/Amy Hirschi)

    Ketika recruiter bertanya tentang pengalaman kerja atau alasan kamu mencari pekerjaan baru, mungkin ada banyak cerita di baliknya. Misalnya, kamu sebenarnya resign karena adanya konflik dengan atasan sebelumnya atau sedang punya masalah pribadi yang cukup berat. Meski cerita tersebut benar, bukan berarti semuanya perlu diceritakan pada interview pertama. Apalagi, kalau detailnya gak membantu recruiter memahami kemampuan atau alasan profesionalmu melamar pekerjaan tersebut.  

    Menurut Carly Richter, Senior Recruiter dan Account Manager di HR Annie Recruitment, “Sebenarnya bukan soal informasi apa yang kamu bagikan. Yang lebih penting, kami ingin wawancara tetap berfokus pada pekerjaan dan kemampuanmu menjalankan pekerjaan tersebut. Ini juga bisa melindungimu sebagai kandidat karena kamu tidak perlu membagikan terlalu banyak informasi pribadi,” dikutip dari Mac’s List.

    Misal jika ada pertanyaan yang berkaitan dengan alasanmu resign, cukup dengan jawaban yang  memang berkaitan dengan lingkungan kerja yang kurang cocok, gak perlu membuka seluruh dramanya. Kamu bisa mengarahkannya menjadi jawaban seperti ingin mencari lingkungan yang lebih sesuai dengan kemampuan dan tujuan kariermu. Tetap jujur, tetapi gak perlu membuat recruiter ikut masuk ke dalam masalah personalmu. 

  2. 2. Menjawab “Ceritakan tentang dirimu” seperti sedang bikin autobiografi

    Ilustrasi interview kerja
    Ilustrasi interview kerja (pexels.com/Gustavo Fring)

    Pertanyaan ini mungkin memang terdengar sederhana, tetapi sering kali bikin kandidat kebablasan saat menjawabnya. Karena merasa diminta menceritakan diri sendiri, kita jadi mulai dari sekolah, kuliah, organisasi, sampai cerita yang sebenarnya gak ada hubungannya dengan posisi yang dilamar. Padahal, recruiter lebih membutuhkan gambaran singkat tentang pengalaman dan kemampuan yang relevan dengan pekerjaan. 

    Menurut Jennifer Herrity, profesional berpengalaman di bidang layanan karier di Indeed, “Alih-alih menceritakan riwayat hidup secara kronologis, cobalah untuk menentukan apakah ada alasan yang relevan untuk membagikan detail tentang kehidupanmu di masa lalu. Menceritakan seluruh kisah hidup tidak mempertimbangkan tujuan perusahaan, yaitu menghubungkan pengalamanmu sebelumnya dengan prioritas perusahaan,” dilansir Indeed. 

    Daripada menceritakan seluruh perjalanan hidup, coba pilih beberapa pengalaman yang paling nyambung dengan posisi tersebut. Kamu bisa mulai dari kegiatan atau pekerjaanmu sekarang, lanjut ke pengalaman yang membentuk kemampuanmu, lalu tutup dengan alasan kenapa kamu tertarik dengan posisi itu. Jawaban jadi lebih singkat, tetapi recruiter tetap mendapat gambaran tentang siapa dirimu.

  3. 3. Terlalu banyak “curhat” demi terlihat autentik

    Ilustrasi interview online
    Ilustrasi interview (pexels.com/Anna Shvets)

    Menjadi diri sendiri memang penting saat interview. Namun, “jadi diri sendiri” bukan berarti semua hal tentang dirimu harus langsung diketahui recruiter. Ada cerita yang cocok dibagikan kepada teman dekat, tetapi kurang tepat kalau diceritakan kepada orang yang baru pertama kali kamu temui dalam konteks profesional. Terlebih lagi, kalau cerita tersebut menyangkut hubungan, masalah keluarga, kondisi finansial, atau konflik pribadi. 

    Kamu tetap bisa menunjukkan kepribadian tanpa harus membuka semua sisi personal. Cerita tentang hobi, ketertarikan pada bidang tertentu, atau pengalaman yang membuatmu belajar sesuatu masih bisa jadi cara untuk mencairkan suasana. Intinya, autentik boleh, tetapi tetap kasih sedikit filter sebelum memulai mode “podcast pribadi”.

    Interview terkadang memang bikin tegang, apalagi kalau kamu benar-benar menginginkan posisi tersebut. Karena gugup, wajar kalau kadang jawaban jadi lebih panjang dari yang direncanakan. Tapi, gak semua hal yang benar tentang dirimu harus diceritakan saat itu juga.

    Pilih informasi yang relevan dan bisa membantu recruiter melihat kemampuanmu. Jadi, sebelum kamu menjawab, kamu bisa tarik napas dulu dan pikirkan “ini relevan untuk diceritakan atau tidak ya?”

Share Article
Editorial Team

Dari Kebun Nilam ke Pasar Dunia

Related Articles

See More