"Uang adalah salah satu sumber kecemasan yang paling umum dalam kehidupan modern. Survei secara konsisten menempatkan stres finansial sebagai penyebab utama kekhawatiran bagi orang dewasa-melampaui kekhawatiran tentang kesehatan, hubungan, dan pekerjaan," kata pendidik psikologi Dr. Elena Vasquez dikutip dari Simply Psychology.
Bekerja Full Time tapi Tetap Takut Lihat Saldo, Kamu Rasain Juga?

Gaji sudah masuk tapi bukannya lega, kamu malah takut buka mobile banking. Rasanya aneh karena kamu kerja full time, bangun pagi, lembur, capek tiap hari, tapi tetap merasa uang selalu kurang. Di media sosial orang-orang seusia kamu terlihat bisa healing, beli gadget baru, nongkrong tiap minggu, bahkan mulai investasi.
Sementara kamu masih mikir keras sebelum checkout makanan online. Perasaan seperti ini ternyata makin sering dirasakan pekerja muda. Bukan cuma soal nominal gaji, tapi juga rasa cemas yang muncul setiap kali memikirkan uang.
1. Gaji habis bukan karena boros, tapi biaya hidup memang naik

Banyak pekerja muda merasa bersalah setiap kali saldo menipis. Padahal, masalahnya sering kali bukan sekadar 'kurang hemat'. Tapi karena harga kebutuhan pokok naik, biaya transportasi makin mahal, biaya tempat tinggal juga terus bertambah. Akhirnya, gaji bulanan terasa hanya numpang lewat hingga memunculkan rasa cemas.
Survei yang dibahas oleh Investopedia yang melipatkan 2.000 responden, orang berusia 18 hingga 35 tahun, sumber stres utama mereka adalah biaya hidup, yang disebutkan oleh lebih dari tiga perempat responden. Hampir setengahnya menyebutkan ketidakamanan pekerjaan, 46 persen mengatakan biaya sewa dan perumahan membebani mereka, 41 persen menyebutkan utang, dan hampir sepertiga mencatat kekhawatiran tentang kemampuan untuk membiayai keadaan darurat yang tak terduga.
2. Banyak orang takut cek rekening karena cemas mentalnya drop

Kebiasaan menunda atau jarang buka aplikasi m-banking ternyata cukup umum. Ada orang yang sengaja tidak melihat tagihan, takut buka notifikasi kartu kredit, atau pura-pura tidak sadar saldo tinggal sedikit. Semakin dihindari, rasa cemas biasanya justru makin besar.
Menurut Dr. Elena Vasquez, financial anxiety sering membuat seseorang mengalami “avoidance of financial tasks”. Mereka menghindari aktivitas terkait uang seperti mengecek saldo atau membuka tagihan.
"Kecemasan finansial ditandai dengan kekhawatiran, ketakutan, dan penghindaran yang berlebihan terkait uang dan masalah keuangan. Hal ini melampaui kekhawatiran biasa tentang keuangan," jelasnya.
3. Media sosial bikin kita merasa selalu ketinggalan

Tanpa sadar, media sosial membuat banyak orang terus membandingkan hidupnya dengan orang lain. Baru buka Instagram lima menit, tiba-tiba muncul rasa minder karena teman terlihat lebih sukses, lebih mapan, atau lebih santai menikmati hidup.
Penelitian dalam jurnal “Financial Stress and Consumer Anxiety Among Young Consumers” menemukan bahwa 68,2 persen anak muda merasa media sosial memengaruhi perilaku konsumsi mereka. Lalu 41,2 persen mengalami kecemasan yang signifikan terkait konsumsi.
"Biaya hidup, pembelian besar (misalnya, rumah/mobil), dan pengalaman hiburan pribadi diidentifikasi sebagai sumber utama stres finansial," tulis laporan tersebut.
Menurut Survei Milenial Deloitte dikutip dari laman Teen Vogue, banyak kaum muda merasakan tingkat stres yang tinggi, dan uang berada di urutan teratas daftar kekhawatiran mereka. Survei tersebut menemukan bahwa 41 persen responden milenial dan 46 persen responden Gen Z merasa stres sepanjang waktu atau sebagian besar waktu, dan sekitar dua pertiga dari setiap kelompok menyebutkan masa depan keuangan mereka sebagai sumber kekhawatiran yang signifikan.
4. Kerja full time tidak selalu membuat orang merasa aman

Dulu banyak orang percaya pekerjaan tetap berarti hidup aman. Sekarang kenyataannya berbeda. Banyak pekerja muda tetap merasa khawatir meski sudah punya penghasilan bulanan. Ada rasa takut tiba-tiba kena layoff, takut sakit, atau takut muncul kebutuhan mendadak. Semua ketidakpastian ini memberikan tekanan tersendiri bagi generasi muda.
“Ketidakpastian finansial dapat menjadi sumber stres yang besar bagi siapa pun, tetapi terutama bagi kaum muda,” kata Israa Nasir, seorang konselor kesehatan mental kepada Teen Vogue.
“Kecemasan dan stres finansial sangat membebani generasi milenial/Gen Z saat ini karena dunia yang kita tinggali sekarang. Meskipun beberapa tahun yang lalu, kaum muda dapat membeli rumah dan hidup nyaman dua hingga tiga tahun setelah lulus kuliah, hal itu tidak lagi memungkinkan mengingat iklim ekonomi dan pasar keuangan saat ini. Ketidakpastian yang ditimbulkan oleh pandemi, utang mahasiswa, dan kenaikan harga perumahan dapat menambah lapisan stres pada masa-masa sulit dalam hidup,” tambahnya.
5. Takut soal uang bukan berarti kamu gagal

Sering kali orang merasa malu mengakui dirinya stres soal uang. Padahal kenyataannya, banyak pekerja muda mengalami hal yang sama. Mereka tetap bekerja, tetap berusaha produktif, tapi diam-diam cemas memikirkan masa depan finansialnya.
Penelitian berjudul "Determinants of financial well-being in young adults' quarter-life crisis" oleh Badriatul Mawadah dan Sumiati Faculty of Economics and Business, Brawijaya University, menemukan bahwa financial stress menjadi salah satu faktor terbesar yang memengaruhi kesejahteraan hidup generasi muda usia 25–35 tahun. Tekanan finansial bukan hanya memengaruhi dompet, tapi juga kesehatan mental dan rasa percaya diri seseorang.
Financial stress memang bisa memicu kecemasan tersendiri bagi kamu. Karena itu, rasa takut melihat saldo bukan berarti kamu lemah atau gagal, melainkan tanda bahwa tekanan hidup sekarang memang berat untuk banyak orang, bukan kamu sendiri.
Banyak pekerja muda yang hari ini hidup di tengah tuntutan besar: harus mandiri, punya tabungan, membantu keluarga, tetap terlihat sukses, dan tetap menjaga kesehatan mental. Tidak heran kalau akhirnya banyak orang merasa lelah secara emosional hanya karena memikirkan keuangan.


















