ilustrasi bidan laki-laki (magnific.com/mdjaff)
Jika dilihat secara global, bidan laki-laki sebenarnya ada, meskipun jumlahnya sangat kecil. Di beberapa negara, laki-laki diperbolehkan menempuh pendidikan kebidanan dan menjalani profesi tersebut. Namun, tetap bidan jarang laki-laki karena faktor budaya dan preferensi pasien. Jadi, keberadaan mereka bukan sesuatu yang sepenuhnya tidak ada.
Pengalaman praktisi menunjukkan bahwa tantangan tersebut nyata terjadi di lapangan. Mengutip The University of Queensland, Arnel Curtis, salah satu bidan laki-laki di Australia, menyebut bahwa tidak jarang pasien merasa tidak nyaman jika ditangani oleh laki-laki, terutama dalam aspek perawatan yang sensitif. Ia juga menyoroti bahwa di beberapa budaya, perempuan memang tidak diperbolehkan menerima perawatan dari laki-laki, sehingga bidan laki-laki harus lebih adaptif dan sensitif terhadap kebutuhan pasien.
Meski demikian, keberadaan bidan laki-laki juga membawa perspektif baru dalam layanan kesehatan. Arnel menilai bahwa keberagaman tenaga medis dapat meningkatkan kualitas komunikasi dan membuat layanan lebih inklusif, termasuk membantu pasangan laki-laki merasa lebih terlibat dalam proses persalinan. Ia juga menambahkan bahwa dengan adanya kekurangan tenaga bidan di Australia, membuka peluang bagi laki-laki justru bisa menjadi salah satu solusi untuk meningkatkan kualitas layanan.
Melalui penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa fenomena ini bukanlah sesuatu yang terjadi secara kebetulan. Ia terbentuk dari berbagai faktor yang saling berkaitan, mulai dari regulasi hukum hingga norma sosial. Jalur pendidikan dan karakter profesi juga turut memperkuat perbedaan tersebut.
Ke depannya, perubahan tetap mungkin terjadi seiring berkembangnya perspektif masyarakat dan kebijakan yang lebih inklusif. Kita sudah mulai melihat peningkatan jumlah dokter kandungan perempuan dalam beberapa tahun terakhir. Namun, untuk profesi bidan di Indonesia, perubahan akan sangat bergantung pada regulasi yang ada. Selama aturan belum berubah, komposisi gender tersebut kemungkinan besar akan tetap bertahan.