Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Apakah Hubungan Sehat Tidak Selalu Harus Chat Setiap Saat?

Apakah Hubungan Sehat Tidak Selalu Harus Chat Setiap Saat?
ilustrasi pasangan (pexels.com/Khoa Võ)
Intinya Sih
  • Kesehatan hubungan tidak ditentukan frekuensi chat, melainkan keselarasan cara pasangan berkirim pesan yang berkaitan dengan kepuasan hubungan.

  • Chatting berlebihan belum tentu bermakna dan dapat memicu ketergantungan, isolasi, atau konflik; studi APA juga mengaitkan sexting rutin dengan potensi masalah hubungan.

  • Komunikasi tetap menjadi kunci: pasangan perlu meluangkan waktu untuk saling menanyakan kabar dan berdiskusi langsung agar memahami perasaan serta sudut pandang masing-masing.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Ada banyak faktor yang menentukan apakah sebuah hubungan bisa dikatakan sehat atau tidak. Setiap pasangan punya pola komunikasi yang berbeda dan sesuai dengan kebutuhan masing-masing. Ada yang harus mengirim pesan sepanjang hari, tetapi ada juga yang menjalani hari tanpa memerhatikan seberapa sering chatting.

Lalu, benarkah hubungan yang sehat tidak harus selalu chat setiap saat? Yuk, simak penjelasannya dalam artikel ini!

1. Hubungan yang sehat gak ditentukan dari frekuensi chat

Ilustrasi chatting
Ilustrasi chatting (pexels.com/cottonbro studio)

Cara mengirim pesan jauh lebih penting bagi kepuasan hubungan daripada seberapa sering mereka mengirim pesan teks. Hal ini dipaparkan melalui rilis dari American Psychological Association (APA) yang menyatakan bahwa chatting atau saling berkirim pesan itu sangat berpengaruh pada suatu hubungan. Pasangan dengan kebiasaan berkirim pesan yang serupa, cenderung lebih bahagia dan lebih puas.

Terdapat penelitian kepada 205 orang dewasa berusia 18-29 tahun yang sedang menjalin hubungan romantis. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa tingkat kepuasan hubungan pasangan yang seirama dalam mengirim pesan, cenderung lebih tinggi terlepas dari apa isi chat tersebut.

"Bagaimana cara pasangan berkirim pesan jauh lebih penting bagi kepuasan hubungan daripada seberapa sering mereka berkirim pesan," kata Leora Trub, PhD, dari Pace University kepada American Psychological Association (APA).

2. Frekuensi mengirim chat yang sering belum tentu menciptakan interaksi yang bermakna

Ilustrasi pasangan yang suka janji
Ilustrasi pasangan yang suka janji (pexels.com/Alena Darmel)

Hubungan yang sehat gak bisa dilihat dari seberapa banyak atau seberapa sering kamu chat pasangan. Leora Trub kepada APA menjelaskan bahwa bercakap-cakap melalui pesan teks bisa menciptakan ketergantungan. Nantinya, hal ini justru bisa menjadi penghalang untuk menciptakan interaksi yang bermakna.

Ia juga mengatakan, "Chatting sepanjang waktu juga bisa dipicu oleh rasa kesepian atau bosan. Hal itu dapat mengarah pada isolasi serta rasa terasing."

APA juga menunjukkan studi lain bahwa pasangan yang sering melakukan sexting (berkirim pesan bernuansa seksual) beberapa kali dalam seminggu atau bahkan setiap hari, cenderung mudah mengalami konflik dalam hubungan mereka. Bukan hal yang mustahil ada perselingkuhan dalam hubungan itu.

3. Komunikasi masih menjadi kunci utama dalam hubungan yang sehat

pasangan
ilustrasi pasangan (pexels.com/AI25.Studio AI GENERATIVE)

Setiap pasangan butuh usaha untuk mempertahankan hubungan yang romantis. Perlu ada usaha dari kedua belah pihak supaya hubungan tetap sehat dan baik. Salah satunya adalah menjaga komunikasi. Namun dalam hal ini, komunikasi yang dimaksud gak selalu tentang chatting.

Pasangan yang memiliki hubungan sehat punya waktu untuk saling menanyakan kabar secara teratur. Psikolog Robin S. Haight, PsyD dan Abrahamson, PhD kepada APA menjelaskan bahwa pasangan perlu meluangkan waktu beberapa menit setiap hari untuk deeptalk.

Daripada chatting, komunikasi langsung dengan berdiskusi justru bisa membantu menguatkan hubungan. Dengan begitu, tiap orang bisa saling belajar memahami perasaan dan sudut pandang pasangannya.

Jadi, kunci suatu hubungan yang sehat bukan soal seberapa sering kamu chat pasangan, ya. Tetapi, bagaimana kamu dan pasangan bisa punya komunikasi yang baik.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More