Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Gen Z Berani Ghosting Interview, 93 Persen Kabur Tanpa Kabar
ilustrasi menunggu, pekerja kantoran (magnific.com/freepik)
  • Survei Indeed menunjukkan Gen Z paling sering melakukan ghosting dalam proses rekrutmen, dengan 93% pernah tidak hadir wawancara tanpa kabar dan 87% absen di hari pertama kerja.
  • Banyak Gen Z menganggap ghosting sebagai bentuk kendali atas karier mereka, merasa lebih bebas menentukan arah pekerjaan tanpa harus memberi penjelasan panjang kepada perusahaan.
  • Faktor seperti pengalaman buruk terhadap perusahaan, ulasan negatif, serta pertimbangan gaji dan biaya hidup tinggi turut memicu meningkatnya praktik ghosting di kalangan pencari kerja muda.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Mencari pekerjaan saat ini ternyata gak hanya menantang bagi pencari kerja, tapi juga bagi perusahaan. Salah satu fenomena yang semakin sering terjadi adalah ghosting dalam proses rekrutmen.

Istilah ini merujuk pada tindakan menghilang tanpa memberikan kabar atau penjelasan kepada pihak lain. Jika dulu praktik seperti ini lebih sering dikaitkan dengan dunia percintaan, sekarang kondisinya mulai merambah ke dunia kerja.

Survei terbaru dari Indeed menunjukkan bahwa banyak kandidat memilih menghentikan komunikasi secara tiba-tiba saat proses perekrutan berlangsung. Gen Z bahkan menjadi kelompok yang paling sering melakukan tindakan tersebut dibandingkan dengan generasi lainnya.

1. Gen Z menjadi kelompok yang paling sering ghosting

ilustrasi lowongan pekerjaan (pexels.com/cottonbro studio)

Survei Indeed yang melibatkan 1.500 perusahaan dan 1.500 pekerja di Inggris menemukan bahwa 86 persen pencari kerja pernah tidak menghadiri wawancara tanpa memberi pemberitahuan terlebih dahulu. Temuan ini menunjukkan bahwa ghosting bukan lagi kasus yang jarang terjadi dalam proses perekrutan.

Banyak perusahaan kini harus menghadapi kandidat yang tiba-tiba menghilang di tengah tahapan seleksi. Kondisi tersebut membuat proses rekrutmen menjadi lebih sulit dan memakan waktu.

Gen Z berusia 18 hingga 24 tahun tercatat sebagai kelompok yang paling sering melakukan ghosting. Sebanyak 93 persen responden Gen Z mengaku pernah gak datang ke wawancara kerja tanpa memberikan kabar. Angka tersebut menjadi yang tertinggi dibandingkan dengan kelompok usia lainnya. Sebanyak 87 persen bahkan mengaku pernah gak muncul pada hari pertama kerja setelah menerima tawaran pekerjaan.

2. Banyak Gen Z ingin memiliki kendali atas karier mereka

ilustrasi wawancara kerja (unsplash.com/Jason Goodman)

Sebagian pekerja muda memandang ghosting sebagai bentuk kebebasan dalam menentukan arah karier. Mereka merasa gak harus melanjutkan proses rekrutmen yang dianggap sudah gak sesuai dengan kebutuhan atau tujuan pribadi. Cara pandang ini membuat sebagian kandidat lebih berani mengambil keputusan tanpa merasa perlu memberikan penjelasan panjang. Akibatnya, praktik ghosting menjadi lebih mudah dilakukan.

Survei yang sama menunjukkan bahwa 18 persen responden Gen Z merasa bahwa ghosting membuat mereka lebih memegang kendali atas perjalanan karier mereka. Temuan ini menunjukkan adanya perubahan dalam cara pandang terhadap hubungan antara kandidat dan perusahaan.

Banyak pekerja muda merasa posisi mereka dalam proses perekrutan kini lebih setara dibandingkan sebelumnya. Mereka ingin memiliki otonomi yang lebih besar saat menentukan peluang kerja yang akan dipilih.

3. Pengalaman buruk perusahaan ikut memicu ghosting

ilustrasi memandang HP (pexels.com/Lisa Fotios)

Alasan seseorang melakukan ghosting ternyata gak selalu berkaitan dengan ketidaksopanan atau kurangnya profesionalisme, lho. Sebagian kandidat mengaku memutuskan menghilang setelah menemukan informasi yang kurang baik mengenai perusahaan tujuan mereka. Ulasan negatif dari mantan karyawan menjadi salah satu faktor yang cukup berpengaruh. Kondisi tersebut membuat kandidat memilih untuk mencari peluang lain yang dianggap lebih menjanjikan.

Sebanyak 14 persen responden Gen Z menyebut pengalaman buruk karyawan di perusahaan sebagai alasan utama mereka melakukan ghosting. Danny Stacy, selaku UK Head of Talent Intelligence di Indeed, menjelaskan bahwa banyak pekerja juga merasa pernah mengalami ghosting dari pihak perusahaan.

Kandidat sering kali gak mendapatkan kabar lanjutan setelah mengikuti wawancara atau proses seleksi tertentu. Situasi tersebut membuat sebagian pencari kerja menganggap ghosting sebagai sesuatu yang lumrah untuk dilakukan.

4. Faktor gaji dan biaya hidup tak bisa diabaikan

ilustrasi gaji (vecteezy.com/nuttawan jayawan)

Masalah keuangan menjadi salah satu pertimbangan terbesar bagi pencari kerja saat ini. Banyak kandidat lebih selektif dalam memilih pekerjaan karena biaya hidup yang terus meningkat. Mereka cenderung membandingkan beberapa tawaran kerja sebelum mengambil keputusan akhir. Kondisi tersebut membuat peluang ghosting menjadi semakin besar ketika ada penawaran yang lebih menarik.

Survei Indeed menunjukkan bahwa 37 persen responden lebih mungkin melakukan ghosting apabila menemukan pekerjaan lain dengan gaji lebih tinggi atau biaya perjalanan yang lebih rendah. Danny Stacy menjelaskan bahwa kompensasi finansial masih menjadi faktor utama yang memengaruhi keputusan kandidat.

Transparansi mengenai gaji dan manfaat pekerjaan sejak awal dinilai dapat membantu mengurangi risiko ghosting. Langkah tersebut juga membantu kandidat memahami nilai yang ditawarkan perusahaan secara lebih jelas.

5. Ghosting memberikan dampak besar bagi perusahaan

ilustrasi stres di tempat kerja (pexels.com/cottonbro)

Fenomena ghosting ternyata bukan hanya merugikan perusahaan dari sisi waktu. Banyak tim perekrutan harus mengulang proses pencarian kandidat ketika seseorang tiba-tiba menghilang. Kondisi tersebut membuat pekerjaan perekrut menjadi lebih berat dan kurang efisien. Dampaknya semakin terasa ketika perusahaan membutuhkan tenaga kerja dalam jumlah besar.

Sebanyak 89 persen perusahaan dalam survei tersebut menganggap ghosting sebagai masalah serius dalam proses rekrutmen. Lebih dari separuh perusahaan, atau 55 persen, mengaku kesulitan merekrut karyawan akibat fenomena ini.

Sebanyak 55 persen juga menyebut ghosting meningkatkan tingkat stres tim perekrutan, sementara 48 persen mengatakan kondisi tersebut memperparah risiko burnout. Menariknya, 20 persen pekerja mengaku pernah mengalami perusahaan yang gak muncul saat wawancara telepon, sehingga banyak orang menilai ghosting memang terjadi dari kedua belah pihak.

Fenomena ghosting dalam dunia kerja semakin menjadi hal yang umum, terutama di kalangan pekerja muda. Gen Z tercatat sebagai kelompok yang paling sering melakukannya, baik saat tahap wawancara maupun setelah menerima pekerjaan. Keinginan untuk memiliki kendali atas karier, pengalaman buruk terhadap perusahaan, serta pertimbangan finansial menjadi beberapa alasan utama di balik tindakan tersebut.

Meski begitu, ghosting tetap menimbulkan konsekuensi bagi perusahaan maupun kandidat. Komunikasi yang terbuka dan transparan menjadi salah satu cara terbaik untuk mengurangi praktik ini. Hubungan yang lebih sehat antara perusahaan dan pencari kerja pada akhirnya dapat menciptakan proses rekrutmen yang lebih efektif bagi semua pihak.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

Related Article