Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Kenapa Gen Z Lebih Suka Pengalaman daripada Barang Mewah?

Kenapa Gen Z Lebih Suka Pengalaman daripada Barang Mewah?
Ilustrasi traveling (unsplash.com/Photo by Y S)
Share Article

Jika generasi sebelumnya sering mengukur kesuksesan dari rumah besar, mobil mahal, atau barang bermerek, banyak Gen Z justru memiliki cara pandang yang berbeda. Mereka cenderung mengalokasikan uang untuk liburan, konser musik, kelas pengembangan diri, hingga pengalaman kuliner yang unik dibanding membeli barang mewah yang sifatnya hanya kepemilikan.

Fenomena ini bukan sekadar tren media sosial. Di tengah perkembangan teknologi dan media sosial, Gen Z juga semakin menyadari bahwa kenangan, cerita, dan hubungan sosial sering kali lebih berharga daripada sekadar koleksi barang mahal.

1. Pengalaman memberikan kebahagiaan yang lebih tahan lama

Ilustrasi bersenang-senang dan bahagia (unsplash.com/Photo by alexey turenkov)
Ilustrasi bersenang-senang dan bahagia (unsplash.com/Photo by alexey turenkov)

Salah satu alasan utama Gen Z lebih memilih pengalaman adalah karena pengalaman menciptakan kenangan yang bisa dinikmati kembali dalam waktu lama. Liburan, perjalanan, atau menghadiri acara tertentu akan terus dikenang bahkan bertahun-tahun setelahnya.

"Oleh karena itu, hal-hal seperti pembelian barang baru awalnya membuat kita bahagia, tetapi dengan cepat kita beradaptasi dengannya, dan itu tidak lagi memberi kita banyak kegembiraan," kata profesor psikologi Thomas Gilovich dikutip dari Cornell Chronicle.

Menurut Gilovich, manusia cenderung cepat terbiasa dengan barang baru. Setelah beberapa waktu, rasa senang karena membeli barang mahal akan menurun. Sebaliknya, pengalaman terus hidup dalam bentuk cerita, kenangan, dan emosi yang dapat diingat kembali kapan saja.

2. Pengalaman membentuk identitas diri

Ilustrasi menyendiri (pexels.com/Photo by Nguyễn Thành Nhân)
Ilustrasi menyendiri (pexels.com/Photo by Nguyễn Thành Nhân)

Bagi Gen Z, pengalaman bukan hanya hiburan tetapi juga bagian dari pembentukan identitas. Mereka ingin dikenal melalui aktivitas yang dilakukan, tempat yang pernah dikunjungi, atau keterampilan yang dipelajari.

Dalam kajian "A Wonderful Life: Experiential Consumption and the Pursuit of Happiness" dikutip dari Wiley Online Library, Thomas Gilovich dan tim penelitinya menjelaskan bahwa pengalaman menjadi bagian dari diri seseorang lebih kuat dibanding barang yang dimiliki. Pengalaman membantu seseorang memahami siapa dirinya dan bagaimana ia ingin berkembang.

"Pembelian pengalaman meningkatkan hubungan sosial lebih mudah dan efektif daripada barang materi. Pembelian pengalaman membentuk bagian yang lebih besar dari identitas seseorang," tulis laporan tersebut.

Karena itulah banyak anak muda rela menabung untuk mengikuti kursus, travelling, atau menghadiri festival tertentu. Aktivitas tersebut dianggap memberikan nilai personal yang lebih besar daripada membeli barang mewah yang mungkin hanya memberikan kepuasan sesaat.

3. Pengalaman lebih mudah dibagikan dan membangun hubungan sosial

Ilustrasi pertemanan (pexels.com/Sıla Onorevole)
Ilustrasi pertemanan (pexels.com/Sıla Onorevole)

Di era digital, pengalaman memiliki nilai sosial yang tinggi. Bukan sekadar untuk dipamerkan di media sosial, tetapi juga menjadi bahan cerita yang mempererat hubungan dengan orang lain.

“Orang lebih cenderung membicarakan pengalaman mereka daripada pembelian barang-barang mereka, dan mereka mendapatkan lebih banyak kebahagiaan dari hal itu,” kata peneliti psikologi dari Cornell University Amit Kumar dikutip dari Cornell Chronicle.

Ketika seseorang menceritakan pengalaman mendaki gunung, menonton konser, atau berwisata, cerita tersebut sering kali memicu percakapan yang lebih mendalam. Hal ini menciptakan koneksi sosial yang lebih kuat dibanding sekadar menunjukkan barang yang dimiliki.

4. Gen Z lebih kritis terhadap budaya konsumtif

Ilustrasi merenung (pexels.com/Wolrider YURTSEVEN)
Ilustrasi merenung (pexels.com/Wolrider YURTSEVEN)

Generasi Z tumbuh di tengah banjir informasi tentang kesehatan mental, keberlanjutan lingkungan, dan dampak konsumsi berlebihan. Akibatnya, mereka cenderung lebih kritis terhadap budaya yang menilai seseorang dari barang yang dimiliki.

Meta-analisis yang diterbitkan Sage Journals berjudul of Personality and Social Psychology" menemukan bahwa orientasi materialistis memiliki hubungan negatif dengan kesejahteraan psikologis seseorang. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa semakin besar fokus seseorang pada kepemilikan materi, semakin rendah tingkat kesejahteraan yang cenderung dirasakan.

Temuan ini membuat banyak anak muda mulai mempertanyakan apakah membeli barang mahal benar-benar akan membuat hidup lebih bahagia. Mereka kemudian mengalihkan pengeluaran ke aktivitas yang memberikan pengalaman, pembelajaran, dan relasi sosial yang lebih bermakna.

5. Waktu dan kualitas hidup kini dianggap lebih berharga

Ilustrasi merasa bahagia (pexels.com/Ryanniel Masucol)
Ilustrasi merasa bahagia (pexels.com/Ryanniel Masucol)

Banyak Gen Z menyadari bahwa waktu adalah sumber daya yang tidak bisa digantikan. Karena itu, mereka lebih memilih menggunakan uang untuk meningkatkan kualitas hidup dibanding sekadar menambah koleksi barang.

Laporan Reuters mengungkap bahwa banyak Gen Z dan milenial kini memprioritaskan pengeluaran yang mendukung kesejahteraan, kesehatan mental, serta kualitas hidup. Georgia Lord, perencana keuangan dari Corbett Road Wealth Management, mengatakan bahwa anak muda saat ini sengaja mengeluarkan uang untuk hal-hal yang mendukung kebahagiaan mereka. Ia mengingatkan pentingnya bertanya, “Apakah pengeluaran ini membangun sesuatu untukmu, atau malah mematikan sesuatu?”.

Pandangan tersebut menjelaskan mengapa banyak Gen Z lebih memilih menghabiskan uang untuk travelling, olahraga, konser, atau kegiatan yang meningkatkan kualitas hidup. Mereka melihat pengalaman sebagai investasi terhadap diri sendiri, bukan sekadar pengeluaran konsumtif.

Perubahan pola pikir Gen Z menunjukkan bahwa definisi kesuksesan terus berkembang. Jika dahulu kemewahan identik dengan barang mahal, kini banyak anak muda menilai kekayaan hidup dari pengalaman yang dimiliki, hubungan yang dibangun, serta kenangan yang diciptakan.

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Pinka Wima Wima
EditorPinka Wima Wima

Related Articles

See More

Kenapa Nongkrong Sekarang Lebih Sering di Coffee Shop daripada Mall?

21 Jun 2026, 11:00 WIBLife