5 Kesalahan Membuat CV yang Bikin Pengalaman Magang Kurang Menonjol

- Deskripsi magang di CV perlu merinci kontribusi dan peran spesifik dalam proyek tim, bukan sekadar daftar tugas umum atau keterlibatan tanpa penjelasan.
- Gunakan angka yang dapat dipertanggungjawabkan untuk menunjukkan skala pekerjaan, seperti jumlah konten, artikel, laporan, atau kegiatan yang ditangani selama magang.
- Sesuaikan pengalaman dengan posisi yang dilamar dan tampilkan poin-poin singkat berisi tanggung jawab atau hasil paling relevan agar mudah dipindai perekrut.
Pengalaman magang bisa menjadi modal penting ketika kamu mulai melamar pekerjaan, terutama kalau belum punya banyak pengalaman profesional. Dari kegiatan magang, kamu mungkin sudah pernah mengerjakan proyek, menggunakan tools tertentu, berkoordinasi dengan tim, atau membantu menyelesaikan pekerjaan yang berkaitan dengan posisi yang ingin dilamar. Sayangnya, semua pengalaman itu belum tentu terlihat menarik kalau cara menuliskannya di CV kurang tepat.
Di sisi lain, pengalaman magang yang sebenarnya cukup berharga bisa terlihat seperti sekadar kegiatan rutin kalau deskripsinya terlalu umum atau kurang menunjukkan kontribusi. Perekrut perlu memahami apa yang pernah kamu kerjakan, kemampuan apa yang digunakan, dan apa yang bisa kamu bawa ke posisi yang sedang dilamar. Supaya pengalaman magangmu gak tenggelam di antara informasi lain, perhatikan lima kesalahan berikut saat menyusun CV.
1. Hanya menulis daftar tugas tanpa menjelaskan kontribusi

ilustrasi rekruter perusahaan sturtup memegang CV dan portofolio (magnific.com/DC Studio) Menulis pengalaman magang dengan kalimat seperti, “bertanggung jawab membantu tim pemasaran” atau “membantu membuat konten media sosial” memang bisa menjelaskan pekerjaanmu secara umum. Namun, deskripsi tersebut belum menunjukkan bagian pekerjaan yang benar-benar kamu tangani dan kemampuan apa yang kamu gunakan selama menjalani magang. Akibatnya, pengalamanmu bisa terlihat sama dengan pengalaman magang kandidat lain meskipun sebenarnya ada banyak hal yang sudah kamu kerjakan.
Coba jelaskan aktivitas yang lebih spesifik agar perekrut bisa membayangkan kontribusimu. Misalnya, kamu bisa menulis bahwa selama magang kamu melakukan riset topik, menyusun kalender konten, menulis draf caption, atau menjadwalkan unggahan media sosial. Detail seperti ini membuat pengalamanmu lebih mudah dipahami tanpa harus menggunakan kalimat yang terdengar hebat atau berlebihan.
2. Gak menjelaskan peranmu dalam proyek tim

ilustrasi kerja sama tim dalam lingkungan kerja (pexels.com/fauxels) Pengalaman mengerjakan proyek bersama tim bisa menjadi nilai tambah, tetapi deskripsinya perlu menunjukkan bagian yang menjadi tanggung jawabmu. Contohnya, kamu menulis bahwa kamu ikut membantu pelaksanaan acara, mengerjakan kampanye pemasaran, atau terlibat dalam peluncuran produk tanpa menjelaskan apa yang benar-benar kamu lakukan. Perekrut akhirnya hanya mengetahui bahwa kamu pernah terlibat dalam proyek tersebut, tetapi belum bisa menilai kontribusimu secara spesifik.
Kalau kamu pernah bekerja bersama beberapa orang, jelaskan peranmu dalam proses pengerjaannya. Misalnya, kamu menangani dokumentasi acara, menghubungi peserta, menyusun materi publikasi, atau mengolah data hasil kampanye, sementara anggota tim lain mengerjakan bagian berbeda. Pembagian peran seperti ini membantu menunjukkan pengalaman kerja sama sekaligus kemampuan yang memang kamu miliki.
3. Melewatkan angka yang bisa memperjelas pengalaman

ilustrasi wanita sedang interview kerja (pexels.com/Anna Shvets) Deskripsi pengalaman magang terkadang terasa kurang meyakinkan karena hanya berisi penjelasan umum tanpa gambaran skala pekerjaan. Padahal, angka bisa membantu perekrut memahami seberapa banyak tugas yang kamu tangani atau seberapa besar cakupan proyek yang pernah dikerjakan. Misalnya, kalimat “membuat konten media sosial” memberikan informasi yang terbatas dibandingkan deskripsi yang menyebut jumlah konten, frekuensi produksi, atau periode pengerjaannya.
Kamu gak harus selalu memiliki angka pertumbuhan penjualan atau peningkatan engagement untuk membuat pengalaman magang terlihat berbobot. Kalau memang punya datanya, kamu bisa mencantumkan jumlah artikel yang ditulis, konten yang diproduksi, laporan yang disusun, atau kegiatan yang ditangani selama magang. Gunakan angka yang benar-benar bisa kamu pertanggungjawabkan karena tujuannya adalah memberikan gambaran konkret, bukan membuat pencapaian terlihat lebih besar daripada kenyataannya.
4. Menuliskan semua pengalaman tanpa menyesuaikannya dengan posisi yang dilamar

ilustrasi wanita sedang interview kerja (pexels.com/MART PRODUCTION) Pengalaman magang bisa mencakup banyak hal, mulai dari pekerjaan administrasi, koordinasi tim, pembuatan konten, sampai pengolahan data. Namun, gak semua aktivitas tersebut perlu mendapatkan porsi yang sama dalam setiap CV karena perekrut biasanya ingin mengetahui pengalaman yang paling berkaitan dengan posisi yang sedang dibuka. Ketika semua tugas dituliskan tanpa mempertimbangkan relevansinya, kemampuan yang sebenarnya paling dibutuhkan justru bisa tertutup oleh informasi lain.
Misalnya, kamu pernah magang di bagian pemasaran dan sekarang melamar posisi content writer. Kamu bisa lebih menonjolkan pengalaman melakukan riset topik, menulis artikel, mengembangkan ide konten, atau menyunting naskah daripada terlalu panjang menjelaskan tugas administratif yang gak berkaitan langsung. Pengalaman lain tetap boleh dicantumkan, tetapi atur penekanannya agar perekrut lebih mudah melihat hubungan antara pengalaman magang dan pekerjaan yang kamu incar.
5. Membuat deskripsi pengalaman magang terlalu panjang

ilustrasi orang membawa CV resume (magnific.com/Drazen Zigic) Keinginan untuk menunjukkan semua hal yang pernah dikerjakan selama magang terkadang membuat bagian pengalaman kerja dipenuhi paragraf panjang. Kamu mungkin ingin menjelaskan setiap tugas, proses pengerjaan, kendala, dan hasilnya sekaligus, padahal CV seharusnya membantu perekrut menemukan informasi penting dengan cepat. Kalau deskripsinya terlalu padat, pengalaman yang sebenarnya relevan justru bisa sulit dipindai.
Coba pilih beberapa tanggung jawab atau pencapaian yang paling penting, lalu tuliskan dalam poin-poin singkat dengan kata kerja yang jelas. Satu poin bisa menjelaskan tindakan yang kamu lakukan, sedangkan poin berikutnya menunjukkan proyek atau hasil yang relevan jika memang tersedia. Dengan susunan seperti ini, bagian pengalaman magang akan lebih rapi dan perekrut bisa menemukan informasi yang dibutuhkan tanpa harus membaca penjelasan panjang.
Pengalaman magang gak harus selalu menghasilkan pencapaian besar untuk layak dicantumkan di CV. Hal yang lebih penting adalah bagaimana kamu menjelaskan pekerjaan yang pernah ditangani, kontribusi yang diberikan, dan kemampuan yang berkembang selama prosesnya. Jadi sebelum mengirim lamaran berikutnya, coba baca kembali bagian pengalaman magangmu dan pastikan perekrut bisa langsung memahami apa yang pernah kamu kerjakan, bukan hanya mengetahui tempat kamu pernah magang.







![[QUIZ] Pilih Karakter Upin & Ipin, Kami Tebak Kamu Frugal atau Gengsian](https://image.idntimes.com/post/20261009/img_20261009_103928_105150_a6ca5fa2-c10d-4e09-93c6-019820010a86.jpeg)















