Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Merawat Semangat Kerja saat Ekonomi Suram, Bisa Bikin Kaya?

5 min read
Merawat Semangat Kerja saat Ekonomi Suram, Bisa Bikin Kaya?
ilustrasi bekerja (pexels.com/Mudrik Sulaiman)
  • Ekonomi suram menekan semangat kerja, terutama kelas menengah ke bawah yang tetap harus bekerja karena biaya hidup meningkat dan tidak memiliki simpanan maupun pendapatan pasif.
  • Meski kerja keras belum tentu meningkatkan kelas ekonomi, pendapatan dari pekerjaan dinilai tetap membantu membiayai hidup dan menjaga semangat hidup agar tidak makin meredup.
  • Artikel mendorong pekerja saling menguatkan, menyadari keterbatasan bantuan bagi kelas menengah, serta terus bergerak karena peluang positif tak terduga masih mungkin muncul.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Mayoritas orang paham bahwa situasi ekonomi yang sedang gak baik-baik saja harus disikapi dengan sabar seraya tetap bekerja keras. Namun, keadaan ekonomi nasional yang suram juga menggembosi semangat kerja masyarakat. Rasanya bekerja sampai kepala jadi kaki dan kaki menjadi kepala tidak mengubah nasib secara signifikan.

Hanya rasa lelahnya yang luar biasa, baik secara fisik maupun psikis. Sementara pendapatan tetap sulit mengejar harga berbagai kebutuhan. Dari hari ke hari kita merasa harus menyeret-nyeret langkah untuk tetap pergi bekerja.

Semangat kerja yang merosot seiring dengan kondisi ekonomi dalam negeri yang kacau harus kembali ditingkatkan. Walaupun semangatmu tetap tak sama seperti saat perekonomian lebih baik, minimal tidak sampai membuatmu menyerah. Baca pelan-pelan poin di bawah ini untuk merawat semangat kerja saat ekonomi suram dan mari menguat bersama.

  1. 1. Kalangan atas tak bekerja beberapa hari masih bisa hidup, kita tidak

    berdagang
    ilustrasi berdagang (pexels.com/sirhan bahasuan)

    Kalangan menengah ke bawah selalu menjadi pihak yang paling cepat terpukul ketika kondisi ekonomi nasional memburuk. Kita dituntut untuk dapat bertahan sekalipun biaya hidup terasa tambah berat, bahkan mencekik. Masyarakat kelas menengah ke bawah mesti sadar betul bahwa tetap bekerja adalah satu-satunya jalan untuk bertahan hidup.

    Kita bukan kalangan atas yang memiliki banyak simpanan uang serta beragam investasi yang memberikan pendapatan pasif di samping pekerjaan sehari-hari. Orang yang kaya raya bahkan dapat tetap hidup nyaman tanpa perlu bekerja sekian hari, minggu, atau bulan. Masih pula mereka bisa berlibur. Kita yang tak punya privilese tersebut wajib tetap bekerja apa pun yang terjadi.

  2. 2. Hasil kerja belum bikin kaya, tapi minimal gak tambah sengsara

    bekerja
    ilustrasi bekerja (pexels.com/nhavantuonglai)

    Kita pasti pernah merasa sedih saat memikirkan betapa kerja keras sedemikian rupa tidak juga membuat hidup naik kelas. Kita masih di kelas yang sama setelah bekerja begitu keras. Bahkan sekarang sebagian dari kelas menengah terus mengalami penurunan kemampuan finansial.

    Mereka terancam jatuh ke dalam kemiskinan. Apakah ini artinya kerja keras kita sia-sia? Bisa ya atau tidak. Kalau sampai kelas ekonomi kita menurun walau sudah bekerja keras, tentu rasanya menyesakkan sekali.

    Kendati demikian, jika kita masih bekerja dan memperoleh pendapatan, setidaknya ada uang untuk membiayai hidup. Seandainya kita sampai malas bahkan tidak mau lagi bekerja, hidup pasti jauh lebih susah. Hidup yang tengah sulit gak boleh makin dipersulit.

  3. 3. Kalau semangat kerja terus turun, semangat hidup pasti juga redup

    bekerja
    ilustrasi bekerja (pexels.com/Heru Dharma)

    Keduanya sangat saling memengaruhi. Penurunan semangat hidup sudah pasti juga menurunkan semangat kerja. Namun, semangat bekerja yang duluan drop pada akhirnya juga rentan bikin keinginan hidup melemah.

    Dunia kerja, betapa pun kondisinya, gak seideal yang seharusnya, masih kasih harapan akan masa depan. Suasana kerjanya tetap dinamis. Pekerjaan juga terus mempertemukanmu dengan orang baru serta tantangan.

    Apabila semangat kerja kian anjlok, hidup rasanya berhenti di satu titik. Kita akan merasa hilang arah. Segala hal di kehidupan ini terasa tidak berarti lagi, termasuk diri sendiri yang terasa payah karena tak berkutik dihajar situasi ekonomi yang kejam.

  4. 4. Saling menguatkan dengan teman-teman

    target pekerjaan
    ilustrasi target pekerjaan (pexels.com/ANTONI SHKRABA production)

    Empati dan solidaritas di masyarakat harus ditingkatkan di tengah kondisi ekonomi yang memburuk. Situasi begini terlalu berat kalau ditanggung sendiri. Sebetulnya bukan cuma satu orang yang mengalaminya.

    Namun, rasanya bakal seperti itu apabila kita hanya diam dan memendam semua beban sendirian. Kita harus berani membicarakannya pada kawan-kawan. Itu akan memberi tahu kita bahwa hampir semua orang merasakan hal yang sama.

    Kita bukan sekadar saling mengeluh, melainkan membangun kekuatan kelompok melalui berbagi cerita. Kekuatan kelompok seperti ini penting sebagai support system yang paling mudah dijangkau. Memang kekuatan circle tak serta-merta menghilangkan masalah ekonomi yang sesungguhnya. Akan tetapi, itu menambah ketabahan kita dalam menghadapi kenyataan hidup yang makin berat.

  5. 5. Ingat, kita tak menerima bantuan apa pun dari pemerintah

    bekerja
    ilustrasi bekerja (pexels.com/Peter Kambey)

    Kelas menengah mendominasi masyarakat di Indonesia. Secara ekonomi tentu kelas menengah lebih baik daripada kelompok miskin. Sayangnya, hal ini justru membuat kita sering dilupakan oleh para pembuat kebijakan.

    Kelas menengah diperlakukan seperti orang kaya yang memiliki daya tahan jauh lebih baik dalam situasi krisis. Kita tidak punya banyak kekayaan, tetapi juga tak pernah tersentuh bantuan. Dalam situasi yang paling sulit sekalipun, kelas menengah harus menghadapinya sendirian.

    Fakta yang menyedihkan memang. Namun, kesadaran akan hal ini sangat penting untuk tetap menyalakan semangat kerja kita. Kita tidak boleh lengah sedikit pun, bahkan saat jiwa dan raga sebetulnya lelah.

  6. 6. Peluang baik dan tak terduga tetap ada asal terus bergerak

    menunggui dagangan
    ilustrasi menunggui dagangan (pexels.com/Peter Kambey)

    Saat fakta saat ini masih jauh dari harapan, kita memperhitungkan peluang saja. Kondisi ekonomi nasional yang tidak baik-baik saja pastinya bikin kita kerap pesimis tentang masa depan. Jangankan 10 tahun ke depan.

    Sekarang pun mungkin kita tidak yakin bisa kuat menjalani 1 atau 2 tahun lagi bila situasi perekonomian nasional tak juga membaik. Terlebih jika keadaan bertambah buruk. Walau demikian, peluang positif tentu tetap ada.

    Segala hal yang belum terjadi masih mungkin menjadi nyata. Walaupun sifatnya tidak pasti, inilah tumpuan harapan agar kita tetap semangat. Bekerja tak ubahnya memutar roda keberuntungan dengan usaha-usaha yang jelas dan terukur. Mustahil apabila semangat kerja yang terjaga hanya mempertemukan kita dengan kegagalan sepenuhnya atau masa depan yang suram.

    Khususnya bagi kita yang pekerjaan serta penghasilannya terdampak oleh situasi ekonomi akhir-akhir ini, tentu menjalani hari demi hari menjadi tak mudah. Kita kadang di titik frustrasi harus mencari uang dengan cara apa lagi supaya bisa bertahan. Mari bergandengan tangan merawat semangat kerja saat ekonomi suram, walau terkadang rasanya sudah di titik nadir.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Kisah Koperasi Perempuan di Tepi Rel

Related Articles

See More