Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Apa Itu Low-Effort Family? saat Kamu Terus Berusaha Menjaga Hubungan

4 min read
Apa Itu Low-Effort Family? saat Kamu Terus Berusaha Menjaga Hubungan
ilustrasi makan bersama keluarga (pexels.com/nicolemichalou)

Pernah merasa jadi satu-satunya orang yang rajin menghubungi keluarga, tetapi jarang mendapat respons sepadan? Lama-kelamaan, hal ini melelahkan karena hubungan seolah hanya bertahan berkat usahamu sendiri. Kondisi ini disebut low-effort family, yaitu pola hubungan keluarga dengan usaha menjaga kedekatan yang gak seimbang.

Setiap anggota keluarga memang punya cara berbeda dalam menunjukkan perhatian. Namun, ketika satu orang terus mengambil inisiatif sementara yang lain cenderung pasif, ketimpangan ini bisa menguras energi emosional. Yuk, kenali pengertian, tanda-tanda, dan cara menghadapi low-effort family dengan lebih sehat!

  1. 1. Apa yang dimaksud dengan low-effort family?

    ilustrasi makan bersama keluarga (pexels.com/askarabayev)
    ilustrasi makan bersama keluarga (pexels.com/askarabayev)

    Low-effort family adalah kondisi ketika anggota keluarga gak sama-sama berusaha menjaga kedekatan. Hubungan ini mungkin terlihat baik-baik saja tanpa pertengkaran besar, tetapi sebenarnya ada masalah komunikasi dan kurangnya perhatian yang membuat hubungan terasa renggang.

    “Low-effort family didefinisikan bukan berdasarkan konflik, melainkan berdasarkan penghindaran,” ujar Maryellen Eller, seorang psikiater, dikutip dari HuffPost.

    Pola ini bisa terbentuk ketika satu orang terbiasa mengambil sebagian besar tanggung jawab emosional, seperti mengingat ulang tahun, merencanakan pertemuan, dan menanyakan kabar. Menurut Margaret Sigel, terapis pernikahan dan keluarga, dikutip laman yang sama, anggota keluarga lainnya bisa menjadi pasif karena sudah terbiasa ada orang yang mengurus semuanya, dikutip dari laman yang sama.

    Kondisi ini gak selalu berarti anggota keluarga sengaja gak peduli. Menurut Ayla Fleming, terapis keluarga, dikutip dari laman yang sama, pola ini bisa dipengaruhi rasa gak aman, depresi, kecemasan, kurangnya kepercayaan, kesulitan mengungkapkan emosi, hingga pengalaman keluarga lintas generasi. Akibatnya, seseorang merasa harus terus berusaha agar tetap disayangi dan dekat dengan keluarganya.

  2. 2. Tanda-tanda kamu menghadapi low-effort family

    ilustrasi photoshoot  keluarga (pexels.com/ronlach)
    ilustrasi photoshoot keluarga (pexels.com/ronlach)

    Salah satu tanda low-effort family adalah kamu hampir selalu menjadi pihak yang memulai komunikasi, mulai dari mengirim pesan, menanyakan kabar, hingga mengajak berkumpul. Sementara itu, anggota keluarga lainnya jarang mengambil inisiatif sehingga kamu merasa harus terus menjaga hubungan agar tetap dekat.

    Tanda lainnya, komunikasi terasa berjalan satu arah. Pesanmu mungkin hanya dibaca tanpa respons, bahkan percakapan berhenti ketika membahas hal serius atau membutuhkan dukungan emosional. Menurut Ayla Fleming, ketimpangan ini terlihat ketika satu orang menanggung sebagian besar usaha untuk menjaga hubungan, termasuk memperbaiki keadaan setelah konflik.

    “Orang-orang dalam keluarga seperti ini melakukan segala cara untuk menghindari pembicaraan yang mendalam atau bermakna,” ujar Dr. Sherrie Campbell, seorang psikolog, dikutip dari Your Tango.

    Kamu mungkin merasa bersalah saat mengurangi usaha karena takut gak ada keluarga yang mencarimu. Menurut Margaret Sigel, ketakutan ini bisa berakar dari pengalaman masa kecil ketika seseorang belajar bahwa hubungan hanya bertahan jika dirinya terus berusaha. Meski begitu, perbedaan gaya komunikasi gak selalu menandakan masalah karena setiap orang punya kebutuhan kedekatan yang berbeda.

  3. 3. Cara menghadapi low-effort family

    ilustrasi keluarga piknik (pexels.com/askarabayev)
    ilustrasi keluarga piknik (pexels.com/askarabayev)

    1. Belajar mengelola emosi

    Saat menghadapi dinamika keluarga yang sulit, cobalah menenangkan diri melalui latihan pernapasan, teknik grounding, atau relaksasi singkat. Maryellen Eller menyarankan agar kamu menemukan cara yang paling cocok dan melatihnya secara rutin supaya bisa merespons situasi dengan lebih tenang.

    2. Tentukan nilai dan batasan dalam hubungan

    Pahami kebutuhan yang ingin kamu pertahankan dan tentukan batasan yang sehat. Kamu bisa mulai dengan gak selalu menjadi orang pertama yang mengirim pesan, membalas percakapan grup keluarga, atau mengambil tanggung jawab untuk menyelesaikan setiap konflik. Menurut Margaret Sigel, memberi ruang bagi rasa gak nyaman dapat membantumu mengenali pola hubungan yang selama ini dijalani.

    3. Pertimbangkan untuk mengambil jarak

    Jika hubungan keluarga terus membuatmu kewalahan, cemas, atau mengabaikan kebutuhan sendiri, pertimbangkan untuk mengambil jarak yang sehat. Ayla Fleming menjelaskan bahwa hubungan yang tidak seimbang dapat memicu kelelahan dan kebencian terpendam, bahkan menimbulkan gejala fisik maupun emosional.

    “Seiring berjalannya waktu, hubungan yang tidak seimbang dapat menyebabkan kelelahan, kebencian yang terpendam, bahkan gejala fisik dan emosional,” ujar Ayla Fleming.

    4. Bangun hubungan yang lebih seimbang

    Kamu gak bisa memaksa anggota keluarga berubah, tetapi kamu bisa menentukan cara bersikap dan hubungan seperti apa yang ingin dipertahankan. Kamu tetap bisa menyayangi keluarga sambil membangun kedekatan dengan teman, pasangan, atau orang lain yang mampu memberikan dukungan emosional secara timbal balik.

    Menghadapi low-effort family bukan berarti kamu harus langsung menjauh atau memutus hubungan dengan keluarga. Kamu bisa mulai dengan menetapkan batasan, memahami kebutuhan diri sendiri, dan memberi ruang bagi hubungan yang lebih sehat tanpa harus memikul semuanya sendirian.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Kisah Koperasi Perempuan di Tepi Rel

Related Articles

See More