ilustrasi pedagang kaki lima (commons.wikimedia.org/Gunawan Kartapranata)
Di berbagai sudut kota, pedagang gorengan, penjual nasi, pemilik warung kecil, dan pelaku usaha rumahan menjadi bagian dari aktivitas ekonomi sehari-hari. Sebagian membangun bisnis karena melihat kebutuhan konsumen dan ingin mengembangkan usaha sendiri. Namun, bagi orang yang tidak kunjung memperoleh pekerjaan, berjualan di pinggir jalan bisa menjadi cara paling memungkinkan untuk mendapatkan pemasukan. Mereka tidak selalu memiliki modal besar atau jaminan bahwa dagangannya akan laku setiap hari, tetapi tetap harus berusaha memenuhi kebutuhan hidup.
Keberadaan UMKM memang penting untuk menggerakkan perekonomian dan membuka kesempatan kerja. Namun, banyaknya usaha yang bermunculan tidak otomatis menunjukkan bahwa kondisi ketenagakerjaan sudah baik. Pedagang kecil masih menghadapi kenaikan harga bahan baku, persaingan, daya beli konsumen yang terbatas, dan keuntungan yang tidak menentu.
Jika seseorang membuka usaha hanya karena tidak memiliki pilihan pekerjaan lain, ia sebenarnya sedang menghadapi persoalan yang berbeda dari orang yang memulai bisnis berdasarkan peluang. Pemerintah perlu memastikan bahwa dukungan terhadap UMKM tidak berhenti pada program bantuan modal atau pelatihan, tetapi juga mencakup akses pasar dan pendampingan agar usaha bisa berkembang. Pada saat yang sama, penciptaan lapangan kerja formal tetap perlu diperhatikan supaya masyarakat tidak terus-menerus menanggung sendiri risiko mencari nafkah.
Masyarakat Indonesia tidak kekurangan cara untuk berusaha. Namun, kegigihan masyarakat tidak seharusnya menutupi tanggung jawab pemerintah dalam menyediakan kesempatan kerja yang layak. Jika berbagai pekerjaan tersebut semakin banyak dipilih karena orang kesulitan mendapatkan alternatif yang lebih menjanjikan, persoalannya bukan sekadar masyarakat harus lebih kreatif, melainkan juga apakah kebijakan ekonomi dan ketenagakerjaan sudah menjawab kebutuhan mereka. Keberhasilan pemerintah tidak cukup diukur dari banyaknya orang yang bekerja, tetapi juga dari tersedianya pekerjaan yang mampu menopang kehidupan secara layak tanpa membuat masyarakat terus berjuang sendirian untuk bertahan.