Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 Profesi yang Kian Populer, Alarm Kegagalan Lapangan Kerja?
ilustrasi UMKM (unsplash.com/Umar ben)
  • Pengemudi ojol, usaha online, konten kreator, pekerja migran, serta pedagang kecil menjadi pilihan penghasilan yang makin diakses saat pekerjaan formal sulit didapat.
  • Meski mudah dimulai atau menawarkan peluang lebih besar, profesi-profesi tersebut menghadapi pendapatan tidak stabil, persaingan, biaya operasional, risiko kerja, dan perlindungan yang belum memadai.
  • Artikel menyoroti tanggung jawab pemerintah untuk memperluas pekerjaan layak, memperkuat dukungan UMKM, serta memastikan kebijakan ketenagakerjaan tidak membebankan risiko mencari nafkah kepada masyarakat.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Mencari pekerjaan yang bisa menjamin kehidupan layak terasa semakin menantang bagi sebagian masyarakat Indonesia. Di tengah kebutuhan hidup yang terus berjalan, orang harus memutar otak agar tetap punya penghasilan, bahkan ketika pekerjaan yang tersedia tidak sesuai dengan kebutuhan atau kualifikasi mereka. Situasi ini membuat cara masyarakat mencari nafkah ikut berubah, sekaligus memunculkan pertanyaan tentang kondisi lapangan kerja di dalam negeri.

Ketika semakin banyak orang harus menciptakan sumber penghasilan sendiri atau mencari peluang jauh dari tempat tinggalnya, persoalannya tidak bisa selalu dibebankan kepada individu. Kegigihan untuk bertahan hidup memang patut dihargai, tetapi hal itu tidak menghapus tanggung jawab pemerintah dalam menyediakan kesempatan kerja yang layak. Lantas, apakah pekerjaan yang makin menjamur ini menunjukkan masyarakat semakin punya banyak peluang, atau justru menandakan bahwa lapangan kerja yang tersedia belum mampu menampung kebutuhan mereka?

1. Pengemudi ojol menjadi pilihan saat lowongan kerja sulit didapat

ilustrasi ojol (unsplash.com/Afif Ramdhasuma)

Pekerjaan sebagai pengemudi ojek online menawarkan kesempatan untuk memperoleh penghasilan tanpa harus melewati proses rekrutmen perusahaan yang panjang. Selama memenuhi persyaratan platform dan memiliki kendaraan yang sesuai, seseorang bisa mulai mencari pemasukan dengan mengantar penumpang, makanan, atau barang. Pekerjaan ini juga terbuka bagi orang dengan latar belakang pendidikan dan pengalaman yang beragam. Tidak sedikit orang yang menjadikan profesi ini sebagai sumber pendapatan utama karena membutuhkan pekerjaan yang bisa sesegera mungkin menghasilkan uang.

Namun, kemudahan untuk mulai bekerja tidak selalu sejalan dengan kepastian pendapatan. Penghasilan pengemudi bergantung pada jumlah pesanan, tarif, insentif, biaya bahan bakar, perawatan kendaraan, dan potongan yang berlaku. Ketika pekerjaan formal sulit diperoleh, sebagian orang mungkin terpaksa menerima ketidakpastian tersebut demi tetap memiliki pemasukan.

Situasi ini seharusnya menjadi perhatian pemerintah, terutama jika semakin banyak orang masuk ke pekerjaan yang sama sementara peluang kerja lain tidak bertambah sebanding. Masyarakat memang membutuhkan pekerjaan yang mudah diakses, tetapi mereka juga membutuhkan pekerjaan yang mampu memberikan penghasilan layak dan perlindungan yang memadai.

2. Usaha online menjadi alternatif ketika pekerjaan formal terbatas

ilustrasi online shop (Pexels.com/cottonbro)

Berjualan melalui marketplace dan media sosial semakin mudah dilakukan. Orang bisa menawarkan pakaian, makanan rumahan, produk kecantikan, hingga barang kebutuhan sehari-hari tanpa harus menyewa toko fisik. Sebagian orang memang sengaja membangun bisnis digital karena melihat peluang pasar yang menjanjikan. Namun, ada pula yang mencoba berjualan setelah berkali-kali melamar pekerjaan tanpa hasil atau kehilangan sumber penghasilan sebelumnya.

Mendirikan usaha online tidak otomatis menyelesaikan persoalan ekonomi seseorang. Penjual masih harus menghadapi persaingan harga, biaya promosi, ongkos operasional, dan penjualan yang tidak selalu stabil. Bahkan, usaha yang terlihat ramai belum tentu menghasilkan keuntungan bersih yang cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Jika masyarakat semakin banyak beralih ke usaha mandiri karena tidak menemukan pekerjaan yang sesuai, pemerintah perlu mengevaluasi apakah pertumbuhan ekonomi benar-benar diikuti oleh penciptaan lapangan kerja. Jangan sampai kemampuan masyarakat bertahan dengan berjualan sendiri justru dijadikan alasan untuk mengabaikan terbatasnya kesempatan kerja yang tersedia.

3. Konten kreator semakin dilirik sebagai sumber penghasilan

ilustrasi konten kreator (pexels.com/Gustavo Fring)

Profesi konten kreator menawarkan peluang mendapatkan uang melalui iklan, kerja sama merek, siaran langsung, komisi afiliasi, dan penjualan produk. Seseorang bisa memulai dari rumah dengan memanfaatkan telepon genggam dan koneksi internet. Tidak heran jika pekerjaan ini menarik perhatian, terutama bagi mereka yang ingin memperoleh penghasilan tanpa harus mengikuti jalur karier kantoran. Sebagian memang menekuninya karena memiliki minat dan kemampuan di bidang kreatif, sedangkan sebagian lainnya melihat media sosial sebagai alternatif ketika sulit mendapatkan pekerjaan.

Masalahnya, pendapatan konten kreator tidak selalu stabil. Penghasilan bisa bergantung pada jumlah penonton, perubahan algoritma, tren, dan ketersediaan kerja sama komersial. Tidak semua orang yang rutin membuat konten mampu memperoleh pendapatan yang cukup untuk hidup mandiri. Karena itu, meningkatnya minat terhadap profesi ini tidak semestinya langsung dianggap sebagai keberhasilan ekonomi digital. Pemerintah tetap perlu memperluas pilihan pekerjaan yang layak agar masyarakat tidak merasa harus mengandalkan platform digital demi memperoleh pemasukan. Profesi kreatif seharusnya bisa menjadi salah satu pilihan karier, bukan pelarian karena kesempatan kerja yang lain sulit ditemukan.

4. Bekerja ke luar negeri menjadi jalan untuk memperbaiki ekonomi keluarga

ilustrasi pekerja migran (unsplash.com/EqualStock)

Banyak pekerja migran Indonesia memilih bekerja di luar negeri untuk memperoleh penghasilan yang lebih besar dibandingkan peluang yang mereka temukan di daerah asal. Mereka bekerja di berbagai sektor, termasuk pekerjaan rumah tangga, perawatan, manufaktur, perkebunan, dan jasa. Penghasilan yang diperoleh dapat digunakan untuk membiayai pendidikan anak, memenuhi kebutuhan keluarga, membangun rumah, atau menyiapkan modal usaha. Bagi sebagian orang, bekerja di luar negeri memang merupakan keputusan yang direncanakan untuk meningkatkan taraf hidup.

Akan tetapi, keputusan merantau juga bisa dipengaruhi oleh terbatasnya pekerjaan dengan upah memadai di dalam negeri. Pekerja harus menanggung konsekuensi tinggal jauh dari keluarga, beradaptasi dengan lingkungan baru, dan menghadapi risiko selama bekerja. Perbedaan upah antarnegara memang menjadi faktor penting, sehingga migrasi tenaga kerja tidak bisa langsung disebut sebagai bukti kegagalan pemerintah.

Meski begitu, pemerintah patut mengevaluasi kondisi ketika masyarakat merasa peluang untuk memperbaiki kehidupan lebih terbuka di negara lain daripada di daerah sendiri. Keberhasilan penempatan pekerja migran perlu berjalan beriringan dengan upaya menciptakan pekerjaan layak di dalam negeri, bukan menggantikannya.

5. Pedagang kaki lima dan UMKM menjadi tumpuan mencari nafkah

ilustrasi pedagang kaki lima (commons.wikimedia.org/Gunawan Kartapranata)

Di berbagai sudut kota, pedagang gorengan, penjual nasi, pemilik warung kecil, dan pelaku usaha rumahan menjadi bagian dari aktivitas ekonomi sehari-hari. Sebagian membangun bisnis karena melihat kebutuhan konsumen dan ingin mengembangkan usaha sendiri. Namun, bagi orang yang tidak kunjung memperoleh pekerjaan, berjualan di pinggir jalan bisa menjadi cara paling memungkinkan untuk mendapatkan pemasukan. Mereka tidak selalu memiliki modal besar atau jaminan bahwa dagangannya akan laku setiap hari, tetapi tetap harus berusaha memenuhi kebutuhan hidup.

Keberadaan UMKM memang penting untuk menggerakkan perekonomian dan membuka kesempatan kerja. Namun, banyaknya usaha yang bermunculan tidak otomatis menunjukkan bahwa kondisi ketenagakerjaan sudah baik. Pedagang kecil masih menghadapi kenaikan harga bahan baku, persaingan, daya beli konsumen yang terbatas, dan keuntungan yang tidak menentu.

Jika seseorang membuka usaha hanya karena tidak memiliki pilihan pekerjaan lain, ia sebenarnya sedang menghadapi persoalan yang berbeda dari orang yang memulai bisnis berdasarkan peluang. Pemerintah perlu memastikan bahwa dukungan terhadap UMKM tidak berhenti pada program bantuan modal atau pelatihan, tetapi juga mencakup akses pasar dan pendampingan agar usaha bisa berkembang. Pada saat yang sama, penciptaan lapangan kerja formal tetap perlu diperhatikan supaya masyarakat tidak terus-menerus menanggung sendiri risiko mencari nafkah.

Masyarakat Indonesia tidak kekurangan cara untuk berusaha. Namun, kegigihan masyarakat tidak seharusnya menutupi tanggung jawab pemerintah dalam menyediakan kesempatan kerja yang layak. Jika berbagai pekerjaan tersebut semakin banyak dipilih karena orang kesulitan mendapatkan alternatif yang lebih menjanjikan, persoalannya bukan sekadar masyarakat harus lebih kreatif, melainkan juga apakah kebijakan ekonomi dan ketenagakerjaan sudah menjawab kebutuhan mereka. Keberhasilan pemerintah tidak cukup diukur dari banyaknya orang yang bekerja, tetapi juga dari tersedianya pekerjaan yang mampu menopang kehidupan secara layak tanpa membuat masyarakat terus berjuang sendirian untuk bertahan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article