Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Internalized Stigma dan Kaitannya dengan Minority Stress

Internalized Stigma dan Kaitannya dengan Minority Stress
ilustrasi wanita sedang sedih (pexels.com/MART PRODUCTION)
  • Internalized stigma terjadi ketika seseorang menyerap pandangan negatif tentang kelompok identitasnya, lalu mengarahkannya pada diri sendiri setelah paparan stigma, stereotip, atau diskriminasi berulang.
  • Dalam minority stress, diskriminasi, ekspektasi penolakan, penyembunyian identitas, dan internalized stigma menjadi sumber stres tambahan; tekanan eksternal dapat berubah menjadi tekanan yang menetap di dalam diri.
  • Penelitian mengaitkan internalized stigma dengan kesehatan mental yang lebih buruk, termasuk kecemasan dan depresi; dukungan sosial, komunitas, lingkungan aman, serta bantuan profesional dapat membantu mengurangi dampaknya.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Pernahkah seseorang merasa kurang nyaman dengan bagian dari dirinya karena terlalu sering mendengar pandangan negatif dari lingkungan sekitar? Perasaan tersebut bisa berkaitan dengan internalized stigma, yaitu ketika stigma atau pandangan negatif dari masyarakat perlahan ikut diterima dan diarahkan kepada diri sendiri.

Istilah ini penting dipahami karena stigma tidak hanya muncul melalui perlakuan buruk dari orang lain, tetapi juga dapat memengaruhi cara seseorang memandang dirinya sendiri. Dalam minority stress model, pengalaman diskriminasi, kekhawatiran akan penolakan, penyembunyian identitas, dan internalisasi stigma termasuk proses yang dapat menjadi sumber stres tambahan. Yuk, kenali lebih dalam apa itu internalized stigma dan kaitannya dengan minority stress!

  1. 1. Apa itu internalized stigma?

    ilustrasi perempuan bermain ponsel
    ilustrasi perempuan bermain ponsel (pexels.com/mikoto.raw Photographer)

    Internalized stigma adalah kondisi ketika seseorang menyerap atau menginternalisasi pandangan, stereotip, maupun penilaian negatif yang berkembang terhadap kelompok yang menjadi bagian dari identitasnya. Akibatnya, penilaian yang awalnya berasal dari lingkungan dapat berubah menjadi pikiran negatif terhadap diri sendiri. Dalam konteks kelompok minoritas seksual dan gender, hal ini dapat muncul sebagai penerimaan terhadap pandangan negatif mengenai orientasi seksual atau identitas gender sendiri.

    Internalized stigma tidak berarti seseorang sengaja memilih untuk berpikir negatif tentang dirinya. Proses tersebut dapat berkembang setelah seseorang berulang kali terpapar stigma, diskriminasi, stereotip, atau pesan sosial yang merendahkan kelompok tertentu. Penelitian menunjukkan bahwa internalized stigma merupakan salah satu bentuk proximal minority stress yang dapat berkaitan dengan kesehatan mental dan kesejahteraan.

  2. 2. Bagaimana internalized stigma bisa terbentuk?

    ilustrasi perempuan sedih
    ilustrasi perempuan sedih (pexels.com/Austin Guevara)

    Internalized stigma dapat berkembang ketika seseorang terus-menerus berhadapan dengan pesan bahwa identitas atau kelompoknya dianggap kurang berharga, tidak sesuai, atau tidak diterima. Pengalaman tersebut dapat berasal dari lingkungan sosial, keluarga, komunitas, media, maupun struktur sosial yang mempertahankan stigma. Seiring waktu, pesan dari luar tersebut dapat memengaruhi cara seseorang menilai dirinya sendiri.

    Prosesnya juga tidak selalu berlangsung secara sadar atau langsung terlihat. Seseorang dapat merasa malu, bersalah, takut diketahui orang lain, atau berusaha menjauhkan diri dari identitas kelompoknya tanpa menyadari bahwa pengalaman tersebut berkaitan dengan stigma yang telah terinternalisasi. Kajian longitudinal menunjukkan bahwa stigma dan diskriminasi serta sejumlah minority stressor lain dapat berperan dalam perkembangan internalized stigma dari waktu ke waktu.

  3. 3. Apa hubungan onternalized stigma dengan minority stress?

    ilustrasi perempuan sedang melamun
    ilustrasi perempuan sedang melamun (pexels.com/Engin Akyurt)

    Minority stress merujuk pada stres tambahan yang berkaitan dengan posisi sosial yang distigmatisasi, sehingga berbeda dari stres umum yang dapat dialami siapa saja. Dalam teori minority stress, terdapat distal stressors, seperti diskriminasi dan viktimisasi, serta proximal stressors, seperti ekspektasi akan penolakan, penyembunyian identitas, dan internalized stigma.

    Hubungannya dapat dipahami seperti sebuah rangkaian: stigma dari lingkungan dapat menciptakan pengalaman diskriminasi atau penolakan, kemudian pengalaman tersebut dapat memengaruhi cara seseorang memandang dirinya sendiri. Internalized stigma pada akhirnya menjadi salah satu bentuk stres yang berada di dalam diri, sehingga seseorang dapat terus merasakan tekanan bahkan ketika tidak sedang menghadapi perlakuan diskriminatif secara langsung.

  4. 4. Apa dampaknya terhadap kesehatan mental?

    ilustrasi perempuan sedang menahan emosi sedih dan marah
    ilustrasi perempuan sedang menahan emosi sedih dan marah (pexels.com/Pavel Danilyuk)

    Internalized stigma telah dikaitkan dengan berbagai masalah kesehatan mental dalam penelitian mengenai kelompok minoritas seksual dan gender. Tinjauan sistematis tahun 2024, misalnya, menyebut internalized sexual stigma sebagai salah satu faktor risiko yang telah mapan untuk kesehatan mental yang lebih buruk pada individu minoritas seksual.

    Tekanan yang berlangsung terus-menerus dapat berkaitan dengan munculnya gejala seperti kecemasan, depresi, tekanan psikologis, atau kesulitan dalam membangun hubungan yang suportif. Namun, hubungan tersebut tidak berarti setiap orang yang mengalami stigma pasti akan mengalami masalah kesehatan mental karena dampaknya dapat dipengaruhi oleh dukungan sosial, lingkungan, strategi menghadapi stres, serta berbagai faktor lainnya.

  5. 5. Mengapa dukungan sosial dan lingkungan positif penting?

    ilustrasi wanita berpelukan
    ilustrasi wanita berpelukan (pexels.com/Mental Health America)

    Dukungan sosial dapat menjadi salah satu faktor yang membantu seseorang menghadapi tekanan yang berkaitan dengan stigma. Dalam minority stress model, mekanisme koping, dukungan sosial, dan keterhubungan dengan komunitas dipandang sebagai faktor yang dapat membantu mengurangi dampak negatif dari stresor minoritas.

    Oleh karena itu, memahami internalized stigma bukan hanya tentang melihat kondisi individu, tetapi juga memahami lingkungan tempat seseorang hidup. Upaya mengurangi diskriminasi dan menciptakan lingkungan yang lebih aman dan suportif dapat menjadi bagian penting dalam mengurangi sumber minority stress, sementara bantuan profesional dapat dipertimbangkan ketika tekanan tersebut mulai mengganggu kehidupan sehari-hari. Penelitian terbaru juga menunjukkan bahwa intervensi psikologis tertentu berpotensi membantu mengurangi beberapa bentuk minority stress, meskipun efektivitasnya dapat berbeda berdasarkan jenis stresor dan pendekatan yang digunakan.

    Terkadang, memahami istilah internalized stigma dan kaitannya dengan minority stress menjadi langkah kecil untuk melihat pengalaman seseorang dengan cara yang berbeda. Dari sana, percakapan tentang stigma bisa bergerak ke arah yang lebih manusiawi, bukan sekadar tentang label, tapi tentang bagaimana setiap orang ingin merasa aman menjadi dirinya sendiri.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More