Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Ilustrasi bekerja (unsplash.com/Photo by Redmind Studio)

Sudah mengirim lamaran kerja berkali-kali, mengecek email tiap hari, lalu berakhir dengan tidak ada panggilan dari perusahaan tentu bisa membuat siapa pun merasa capek. Apalagi jika teman sebaya sudah mulai bekerja, sementara kamu masih berkutat dengan CV, kirim lamaran, dan terus mencari lowongan kerja terbaru. Setelah puluhan kali mencoba, wajar jika muncul pertanyaan, “Sebenarnya, apa yang salah dari lamaranku?”

Namun, belum mendapat panggilan kerja bukan berarti kamu tidak kompeten atau tidak punya masa depan. Proses rekrutmen memang melibatkan banyak faktor. Meski tidak semua faktor bisa kamu kendalikan, ada baiknya kamu melakukan evaluasi agar lamaran berikutnya lebih baik.

1. CV masih terlalu umum dan tidak sesuai dengan posisi yang dilamar

ilustrasi seseorang membuat CV (pexels.com/cottonbro studio)

Salah satu yang mungkin sering dilakukan pencari kerja adalah menggunakan satu CV untuk melamar berbagai posisi. Hari ini CV dikirim untuk posisi admin, besok untuk customer service, lalu lusa untuk staf pemasaran tanpa perubahan berarti. Cara ini memang terasa praktis, tetapi bisa membuat kemampuan yang paling relevan dengan pekerjaan justru tidak terlihat oleh perekrut.

"Sesuaikan resume kamu dengan jenis posisi yang kamu incar. Ini bukan berarti seluruh pengalamanmu harus berkaitan secara langsung, tetapi resume kamu sebaiknya mencerminkan keterampilan, pengalaman, dan kontribusi yang akan dinilai berharga oleh pemberi kerja tersebut," demikian panduan HES: CREATE IMPACTFUL RESUMES AND COVER LETTERS dikutip dari Harvard FAS Mignone Center for Career Success.

Coba baca kembali deskripsi lowongan sebelum memperbaiki CV. Jika perusahaan mencari kandidat yang mampu mengelola data misalnya, tonjolkan pengalaman menggunakan Excel, membuat laporan, atau mengatur administrasi. Jika melamar posisi content writer, prioritaskan portofolio tulisan, kemampuan riset, dan pengalaman mengelola konten.

2. Pengalaman dan pencapaian belum dijelaskan secara konkret

ilustrasi membuat lamaran kerja (pexels.com/Anna Shvets)

Pernah menulis kalimat seperti “mampu bekerja dalam tim”, “komunikatif”, atau “menguasai Microsoft Office” di CV? Kalimat itu memang bisa menggambarkan kemampuanmu, tetapi belum cukup menjelaskan bagaimana kemampuan itu digunakan dalam situasi nyata. Perekrut perlu mendapatkan gambaran tentang kontribusi yang bisa kamu berikan, bukan hanya kumpulan sifat positif yang juga ditulis oleh kandidat lain.

"Resume adalah ringkasan singkat dan informatif mengenai kemampuan, pendidikan, dan pengalaman kamu yang relevan dengan posisi yang dilamar. Spesifik, bukan umum. Aktif, bukan pasif. Berfokus untuk mengomunikasikan kekuatan kamu. Jelas dan langsung, tanpa tambahan yang berlebihan. Berbasis fakta (sertakan angka atau kualifikasi jika memungkinkan). Mudah dipahami dalam sekali lihat," tips dari Harvard FAS Mignone Center for Career Success.

Jika pernah magang, mengikuti organisasi kampus, menjadi relawan, mengerjakan proyek kuliah, atau menjalankan usaha kecil, pengalaman tersebut tetap bisa relevan. Jelaskan apa yang kamu kerjakan, keterampilan yang digunakan, dan hasil yang dicapai. Contohnya, daripada menulis “bertanggung jawab atas media sosial organisasi”, kamu bisa menjelaskan bahwa kamu menyusun kalender konten, membuat materi publikasi, dan membantu meningkatkan jangkauan akun berdasarkan data yang tersedia.

3. Terlalu mengandalkan sistem ATS tanpa memeriksa kualitas dokumen

ilustrasi membuat lamaran kerja (freepik.com/freepik)

Applicant Tracking System (ATS) merupakan perangkat lunak yang digunakan sejumlah perusahaan untuk membantu mengelola proses rekrutmen. Sistem ini dapat membantu penyaringan atau pencarian kandidat berdasarkan informasi tertentu dalam dokumen lamaran.

Karena itu, banyak pencari kerja berusaha memasukkan kata kunci dari lowongan ke dalam CV. Namun, terlalu fokus mengejar skor ATS atau mengikuti semua saran dari internet juga bisa membuat dokumen kehilangan kejelasan.

Harvard FAS Mignone Center for Career Success, dalam panduan tentang penggunaan AI untuk resume dan surat lamaran, menyarankan agar teks hasil AI diperlakukan sebagai usulan penyuntingan, bukan hasil akhir yang langsung digunakan. Mereka juga mengingatkan pelamar untuk memastikan setiap informasi akurat dan benar-benar menggambarkan pengalaman mereka.

"Resume dan surat lamaran kamu harus mencerminkan diri kamu yang sebenarnya serta apa yang dapat kamu tawarkan. Untuk itu, AI generatif dapat menjadi alat yang berguna dalam proses penyuntingan. Namun, AI generatif sebaiknya tidak menjadi penulis utama, terutama karena hasil yang dihasilkannya cenderung sangat umum dan tidak spesifik," demikian panduannya.

Jadi, gunakan kata kunci yang sesuai dengan kompetensi dan persyaratan lowongan, tetapi jangan sekadar menyalin seluruh deskripsi pekerjaan ke dalam CV. Periksa kembali format dokumen, susunan bagian, ejaan, serta informasi kontak. Gunakan tata letak yang rapi dan mudah dibaca, lalu pastikan file PDF tidak mengalami perubahan format setelah disimpan.

Jika memakai AI untuk membantu menyusun CV, lakukan penyuntingan dengan memeriksa setiap kalimat dan hapus klaim yang tidak sesuai dengan pengalamanmu. Dokumen yang relevan, jujur, dan jelas lebih berguna daripada CV yang terlihat canggih tetapi tidak mencerminkan kemampuan sebenarnya.

4. Surat lamaran terlalu generik dan tidak menunjukkan ketertarikan

ilustrasi membuat lamaran kerja via email (pexels.com/KATRIN BOLOVTSOVA)

Selain CV, surat lamaran atau cover letter juga perlu diperiksa jika diminta oleh perusahaan atau relevan dengan posisi yang dituju. Surat yang hanya berisi kalimat umum seperti “Saya tertarik melamar di perusahaan Bapak/Ibu” tanpa penjelasan lebih lanjut tidak banyak membantu perekrut memahami alasan kamu cocok untuk pekerjaan tersebut.

Terlebih jika nama perusahaan atau posisi yang disebutkan masih salah, karena kamu menggunakan kembali dokumen dari lamaran sebelumnya. University of Pennsylvania Career Services menjelaskan bahwa cover letter yang efektif perlu merangkum alasan seseorang melamar sekaligus keterampilan dan pengetahuan yang membuatnya layak dipertimbangkan.

"Surat lamaran kerja secara singkat merangkum (1) alasan kamu melamar ke suatu organisasi atau untuk posisi tertentu, serta (2) keterampilan dan pengetahuan apa yang kamu miliki yang menjadikan kamu kandidat kuat untuk posisi tersebut. Ini adalah kesempatan untuk menyusun narasi yang menonjolkan dan menunjukkan keterampilan yang telah kamu gunakan atau sedang kamu kembangkan," dikutip dari panduan Effective Cover Letters University of Pennsylvania Career Services.

5. Strategi melamar belum terarah dan tidak pernah dievaluasi

Ilustrasi bekerja (unsplash.com/Photo by Redmind Studio)

Mengirim puluhan lamaran memang menunjukkan bahwa kamu berusaha mencari pekerjaan. Namun, jumlah lamaran bukan satu-satunya ukuran keberhasilan pencarian kerja. Jika kamu terus melamar posisi yang tidak sesuai dengan kualifikasi, mengabaikan persyaratan utama, atau mengirim dokumen yang sama tanpa evaluasi, kamu mungkin hanya mengulang strategi yang belum efektif.

Akibatnya, tenaga terkuras, sedangkan perkembangan kualitas lamaran sulit terlihat. Harvard University menjelaskan bahwa proses rekrutmen dapat mencakup peninjauan resume dan seleksi awal sebelum kandidat diundang ke tahap wawancara.

Dalam penjelasan proses rekrutmennya, Harvard juga menyebutkan bahwa kandidat mungkin tidak melanjutkan proses karena tidak memenuhi kualifikasi dasar atau karena ada pelamar lain yang lebih sesuai. Artinya, tidak adanya panggilan tidak selalu menunjukkan bahwa CV-mu buruk; bisa juga ada faktor persaingan dan kebutuhan perusahaan.

"Tim rekrutmen kami akan meninjau lamaran kamu dan, jika sesuai, menjadwalkan penyaringan awal untuk mengenal kamu lebih jauh. Penyaringan awal dapat dilakukan melalui berbagai format, seperti percakapan telepon, pertemuan daring, atau kuesioner pendahuluan," demikian bagaimana proses rekrutmen Harvard yang bisa menjadi panduanmu.

Mencari pekerjaan memang gak mudah, apalagi di zaman sekarang yang semua terasa lebih susah. Meskipun lowongan kerja tersedia, tampaknya itu tidak cukup untuk ‘menampung’ semua orang yang sedang berjuang untuk masa depannya. Akhirnya, persaingan pun menjadi lebih ketat. Tapi setidaknya, kamu bisa mulai dengan melakukan evaluasi sederhana seperti yang sudah dijelaskan di atas.

Curated For You

Editorial Team

Related Article