Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Tips biar Tetap Makan Enak meski Berhemat, Nambah Semangat

4 min read
Tips biar Tetap Makan Enak meski Berhemat, Nambah Semangat
ilustrasi aneka makanan (pexels.com/3enn)
  • Saat kondisi keuangan sulit, penghematan perlu dilakukan cermat tanpa memangkas kebutuhan makan secara berlebihan, karena makanan juga mendukung kesehatan, kebahagiaan, dan semangat bekerja.
  • Pengeluaran makan bisa ditekan dengan membatasi jajan menjadi satu-dua kali seminggu, memilih bungkus daripada makan di tempat, memasak resep baru, serta membeli dari pedagang terdekat.
  • Makan enak tidak harus mewah: pilih berdasarkan rasa, manfaatkan promo atau kupon, dan sesuaikan pilihan menu dengan anggaran agar tetap hemat.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Siapa pun memang dianjurkan untuk tidak hidup boros. Apalagi ketika ekonominya, baik secara nasional maupun secara pribadi, memang sedang kurang baik. Kamu harus lebih cermat dalam membelanjakan uang yang ada.

Tidak ada jaminan situasi akan membaik dengan cepat. Dirimu perlu berjaga-jaga kalau-kalau keadaan stagnan bahkan makin buruk. Namun, dari berbagai cara untuk berhemat yang paling menyedihkan ialah apabila penghematan telah menyentuh anggaran makan.

Makan merupakan kebutuhan pokok. Dirimu bekerja utamanya buat mencukupkan kebutuhan akan makanan dulu. Bila anggaran ini kena efisiensi besar-besaran, kamu bisa merasa sangat buruk. Penurunan kesejahteraan terasa amat nyata, bahkan mungkin melebihi aslinya. Oleh sebab itu, sesekali makan enak tetap perlu. Kemudian, bagaimana tetap makan enak meski berhemat dan aman buat kantong?

  1. 1. Atur frekuensinya

    menikmati makanan
    ilustrasi menikmati makanan (pexels.com/hayriyenur .)

    Sebelumnya kamu mungkin bisa makan enak hampir setiap hari. Apa saja dibeli bahkan sehari lebih dari sekali. Misalnya, makan siang dan malam di luar yang lumayan menguras isi dompet.

    Berhubung sekarang kamu sedang berhemat, jangan sering-sering. Ubah frekuensinya dari semula setiap hari menjadi 1 sampai 2 kali saja dalam seminggu. Kamu tetap perlu menahan diri, tapi setidaknya kamu tahu masih akan makan enak sesuai jadwal yang ditetapkan. Hati pun lebih tenang ketika kamu menjalani hari-hari puasa jajan.

  2. 2. Daripada makan di tempat mending dibungkus

    seporsi makanan
    ilustrasi seporsi makanan (pexels.com/Mohammad Fahim)

    Makan di tempat sering kali membuat pengeluaran berlipat karena kamu harus membeli beberapa hal lain. Contohnya, minuman dan nasi. Padahal, harga keduanya kadang lumayan mahal dibandingkan menu utamanya.

    Kalau ini dikalikan jumlah anggota keluargamu, akan makin terasa. Jauh lebih hemat apabila dirimu membungkusnya saja. Nasi tinggal masak di rumah. Minuman pun bebas ditambah. Porsi makanan yang dibungkus juga tidak jarang lebih besar ketimbang makan di tempat sehingga dapat dinikmati ramai-ramai.

  3. 3. Coba resep baru

    seporsi masakan
    ilustrasi seporsi masakan (pexels.com/Antonius Ferret)

    Makan enak tak harus beli di luar. Kalau kamu memasaknya sendiri, tentu lebih irit. Selama ini rasa bosan bisa muncul karena tak ada tambahan resep baru ketika dirimu memutuskan mengurangi, bahkan berhenti total, makan di luar.

    Kamu menjadi hanya mengonsumsi makanan yang itu-itu saja karena keterbatasan resep yang diketahui. Solusinya, cari resep baru yang relatif mudah dan cobalah. Dirimu yang biasanya cuma memasak tahu dengan cara digoreng atau dimasak dengan santan dapat membuat sapo tahu ala restoran, misalnya.

  4. 4. Mengutamakan jajan di sekitar

    sate
    ilustrasi sate (pexels.com/Noval Gani)

    Kamu tetap jajan, tapi mengutamakan membelinya dari pedagang terdekat juga dapat menghemat pengeluaran. Tidak ada biaya bahan bakar karena kamu cukup berjalan kaki dari rumah atau kos-kosan. Bahkan barangkali pedagangnya lewat persis di depan pagar.

    Sama-sama sate misalnya, rasanya gak akan terlalu beda antara sate dari penjual di sekitarmu dengan sate yang lebih ternama tapi jauh. Intinya tetap sama, yaitu daging yang dibakar dan diberi bumbu kecap atau kacang. Di pedagang terdekat, seporsi sate tanpa lontong masih dihargai 15 sampai 20 ribu rupiah. Di penjual yang lebih jauh, ditambah biaya transportasi atau layanan pesan antar, tembus 30 ribu rupiah.

  5. 5. Ubah pemikiran makan enak harus mewah

    seporsi makanan
    ilustrasi seporsi makanan (pexels.com/Tamba Budiarsana)

    Kamu juga perlu meluruskan kembali pemahamanmu tentang makan enak. Dari kata enak saja, telah tampak bahwa sesungguhnya ini mengenai rasa makanannya. Bukan di mana dirimu membelinya, harga, atau tampilannya saat disajikan.

    Makanan bisa saja sama-sama enak. Namun, ketika dirimu mulai mengejar kemewahannya, maka menu sesederhana apa pun menjadi mahal. Harganya gak pas lagi dengan isi kantongmu yang sedang harus diirit. Belilah makanan berdasarkan kelezatannya, bukan kesan mewahnya.

  6. 6. Manfaatkan menu promo atau kupon

    seafood
    ilustrasi seafood (pexels.com/RDNE Stock project)

    Kalau kamu mau makan enak di tempat yang lumayan mahal juga boleh. Buatmu yang sebelumnya kerap ke sana pasti kangen berat bila lama tak icip-icip. Bedanya dengan dulu, sekarang dirimu sebaiknya memilih menu yang sedang promo saja.

    Jika kamu punya kupon yang dapat ditukarkan, juga gunakan saja. Mungkin kupon makan yang diperoleh setelah dirimu belanja sesuatu. Kamu memesan makanan melalui aplikasi pun sama. Biasanya ada menu-menu yang sedang diskon. Lain hari, menu yang ada promonya berganti, dirimu sekalian merasakan variasi makanan yang lezat-lezat.

    Berhemat sangat penting apalagi saat keuangan mulai terasa berat. Akan tetapi, tak kalah pentingnya adalah menjaga tubuh tetap sehat dan perasaan bahagia. Itulah yang menjadi bahan bakarmu untuk terus kuat bekerja. Sesekali tetap makan enak meski berhemat dengan pengaturan di atas sangatlah efektif buat menjaga semangat serta rasa cukup dalam hidup.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Related Articles

See More