Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Kenapa Kamu Sering Lupa Tujuan Saat Masuk ke Sebuah Ruangan?

4 min read
Kenapa Kamu Sering Lupa Tujuan Saat Masuk ke Sebuah Ruangan?
ilustrasi membuka pintu (pexels.com/Marcus Aurelius)
  • Fenomena lupa tujuan setelah memasuki ruangan lain disebut doorway effect, ketika otak mengelompokkan pengalaman berdasarkan situasi dan tempat.
  • Pintu dapat menjadi penanda pergantian peristiwa; otak memperbarui konteks aktivitas sehingga tujuan sebelumnya lebih sulit diakses.
  • Memori kerja yang terbatas serta rangsangan di lingkungan baru dapat mengalihkan perhatian; fenomena ini sesekali terjadi dan tidak otomatis menandakan ingatan buruk.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Kamu mungkin pernah mengalami jalan ke dapur karena ingin mengambil sesuatu, tapi begitu sampai di sana, kamu justru lupa apa yang ingin diambil. Atau kamu masuk ke kamar dengan sebuah tujuan, lalu malah sibuk melihat barang-barang di sekitar tanpa ingat mau ngapain? Rasanya seperti menekan tombol reset pada otak sendiri. Padahal, beberapa detik sebelumnya kamu masih ingat betul apa yang ingin dilakukan.

Ternyata, fenomena ini cukup sering dialami banyak orang dan ada penjelasan psikologisnya. Bukan berarti ingatanmu bermasalah atau kamu sedang gak fokus. Ada proses kerja otak yang membuat tujuan awal bisa tiba-tiba hilang ketika kamu berpindah dari satu ruangan ke ruangan lain. Fenomena ini dikenal sebagai doorway effect atau efek ambang pintu. Yuk, kenali seperti apa sih doorway effect ini!

  1. 1. Apa itu doorway effect?

    ilustrasi pria sedang berpikir
    ilustrasi pria sedang berpikir (unsplash.com/huskerfan3)

    Doorway effect adalah fenomena ketika seseorang cenderung melupakan informasi atau tujuan tertentu setelah melewati pintu atau memasuki lingkungan yang berbeda. Istilah ini digunakan untuk menjelaskan pengalaman sederhana seperti saat kamu lupa mengambil barang ketika masuk ke ruangan lain. Misalnya, kamu sedang duduk di ruang keluarga dan tiba-tiba teringat ingin mengambil charger di kamar.

    Kamu pun berjalan menuju kamar. Namun, setelah melewati pintu, pikiranmu mendadak kosong. Kamu bahkan gak ingat apakah tadi ingin mengambil charger, buku, atau sekadar mengecek sesuatu. Fenomena ini bukan mitos atau lelucon tentang orang yang pelupa. Faktanya, memang otak kita sering mengelompokkan pengalaman berdasarkan situasi dan tempat tertentu. Itulah kenapa kamu bisa tiba-tiba lupa.

  2. 2. Otak menganggap pintu sebagai batas peristiwa

    Membuka pintu
    ilustrasi membuka pintu (pexels.com/mart production)

    Salah satu teori yang menjelaskan doorway effect adalah event segmentation theory. Teori ini menjelaskan bahwa otak manusia cenderung membagi aktivitas dan pengalaman menjadi beberapa peristiwa agar informasi lebih mudah diproses. Ketika kamu sedang memasak di dapur, misalnya, otak akan mengumpulkan berbagai informasi yang berkaitan dengan aktivitas tersebut.

    Mulai dari bahan makanan, peralatan, hingga langkah memasak yang sedang kamu lakukan. Namun, ketika kamu berpindah ke ruang makan, otak dapat menganggap bahwa kamu sedang memasuki peristiwa atau konteks baru. Pintu menjadi salah satu penanda perubahan tersebut dan ini membuat otak memperbarui konteks aktivitas yang sedang berlangsung. Akibatnya, informasi yang berkaitan dengan tujuan sebelumnya sulit diakses.

  3. 3. Memori kerja punya kapasitas terbatas

    Berpikir
    ilustrasi berpikir (pexels.com/ Michael Burrows)

    Selain perubahan lingkungan, fenomena lupa ini juga berkaitan dengan memori kerja. Bagian ini berperan menyimpan informasi sementara yang sedang kamu gunakan untuk melakukan aktivitas. Contohnya, ketika kamu berjalan menuju kamar untuk mengambil dompet, tujuan tersebut perlu dipertahankan dalam pikiran selama perjalanan.

    Namun, kapasitas memori kerja manusia terbatas, lho! Informasi baru yang muncul bisa mengganggu informasi yang sedang kamu pertahankan. Bayangkan saat kamu berjalan menuju dapur, lalu melihat piring kotor di meja, mendengar notifikasi ponsel, atau teringat pekerjaan yang belum selesai. Hal-hal tersebut dapat mengalihkan perhatian dan membuat tujuan awal semakin sulit diingat.

  4. 4. Perubahan lingkungan membuat fokus ikut berubah

    ilustrasi kamar tidur
    ilustrasi kamar tidur (unsplash.com/madalyncox)

    Setiap ruangan memiliki suasana dan rangsangan yang berbeda. Kamar tidur bakal bikin kamu ingat waktu istirahat, dapur identik dengan makanan, sedangkan ruang kerja membuatmu teringat pekerjaan. Ketika memasuki ruangan baru, perhatianmu bisa secara otomatis tertuju pada hal-hal yang ada di sekitarnya. Kamu bisa melihat pakaian yang belum dilipat, buku yang tergeletak, atau barang yang perlu dirapikan.

    Tanpa sadar, perhatianmu sudah beralih dari tujuan awal. Hal ini menunjukkan bahwa ingatan gak bekerja secara terpisah dari lingkungan. Konteks tempat, benda yang terlihat, dan aktivitas bisa memengaruhi pikiranmu. Misalnya, kamu masuk kamar untuk mengambil botol minum. Namun, begitu melihat laptop di meja, kamu justru teringat pekerjaan yang belum selesai. Tujuan mengambil botol minum pun terlupakan karena perhatianmu berpindah ke hal lain.

  5. 5. Apakah doorway effect berarti kamu punya ingatan buruk?

    Berpikir
    ilustrasi berpikir (pexels.com/Vanessa Garcia)

    Mengalami doorway effect sesekali gak berarti kamu memiliki daya ingat yang buruk. Fenomena ini wajar saja dan menjadi bagian dari cara otak memproses informasi dan menyesuaikan diri dengan perubahan lingkungan. Menariknya, efek ini juga tidak selalu muncul setiap kali kamu melewati pintu kok.

    Pengaruh perpindahan ruangan terhadap ingatan juga bisa bergantung pada kondisi dan tingkat gangguan yang sedang kamu alami. Jika kamu sedang sangat fokus pada suatu tujuan, informasi tersebut bisa tetap mudah diingat meskipun sudah berpindah tempat. Jadi, lupa tujuan saat masuk ke ruangan bukanlah sesuatu yang perlu langsung dikhawatirkan, ya!

    Lupa tujuan awal saat masuk ke sebuah ruangan ternyata bukan sekadar kebiasaan konyol yang sering dijadikan bahan candaan. Bisa jadi, otakmu hanya sedang berpindah konteks lebih cepat daripada kemampuanmu mengingat tujuan awal.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Related Articles

See More