Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

5 Tips WFA atau WFH setelah Lebaran, Perlu Support Keluarga

5 Tips WFA atau WFH setelah Lebaran, Perlu Support Keluarga
ilustrasi bekerja dari rumah (pexels.com/Sezer Uzunoğlu)
Intinya Sih
  • Kebijakan WFA atau WFH pasca Lebaran diterapkan agar karyawan tak tergesa kembali dari mudik dan untuk mengurangi kemacetan arus balik.
  • Pemerintah turut mendorong kebijakan ini karena ancaman krisis energi akibat situasi di Timur Tengah, sehingga efisiensi kerja jarak jauh menjadi solusi sementara.
  • Artikel memberikan lima tips agar WFA atau WFH berjalan efektif, mulai dari menjaga disiplin kerja, dukungan keluarga, hingga menyiapkan ruang dan koneksi internet yang memadai.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Bagaimana dengan kebijakan kantormu setelah Lebaran? Beberapa kantor memberlakukan work from anywhere (WFA) atau work from home (WFH). Ada beberapa alasan yang melatarbelakangi. Pertama, supaya karyawan yang mudik tidak tergesa-gesa kembali ke rantau.

Kalau kebijakan WFA atau WFH tak diberlakukan, kemacetan arus balik juga bertambah parah. Kemudian, apabila karyawan dipaksa datang ke kantor seperti biasa, pasti banyak yang terlambat, bahkan bolos sekalian. Bekerja dari rumah atau tempat-tempat lainnya dirasa lebih efektif dan efisien sampai musim libur Idulfitri benar-benar selesai.

Penetapan WFA atau WFH juga tidak terlepas dari situasi di Timur Tengah. Ancaman krisis energi mendorong pemerintah untuk mengimbau adanya WFA atau WFH selagi memungkinkan. Bisa satu hari tiap minggu atau sesuai kebutuhan kantor. Buatmu yang belum terbiasa bekerja dari luar kantor, berikut ini tips WFA atau WFH setelah Lebaran yang perlu diperhatikan.

1. Pahami betul bahwa ini bukan hari libur, jangan santai-santai

bekerja dari rumah
ilustrasi bekerja dari rumah (pexels.com/Polina Tankilevitch)

Bekerja dari rumah, kafe, atau tempat lain di luar kantor jangan disamakan dengan hari libur. Konsepnya sama seperti ketika anak sekolah diminta gurunya belajar di rumah dan kegiatan belajar-mengajar di kelas ditiadakan sementara. Jangan malah anak di rumah cuma sibuk main.

Kamu yang bekerja serta diarahkan untuk WFH juga tidak boleh bersikap semaunya sendiri. Kalau perlu, dirimu memasang kalender besar di atas meja atau di dinding. Lingkari tanggal hari itu tebal-tebal untuk membangun kesadaran bahwa ini tanggal hitam.

Memang suasana santai bakal tetap terasa. Setidaknya dirimu tidak perlu bangun terlalu pagi buat bergegas ke kantor dan membelah kemacetan lalu lintas. Namun, konsepnya jelas. Kamu tetap bekerja seserius biasanya di kantor.

2. Keluarga di rumah juga kudu mengerti dan tidak mengganggu

bekerja dari rumah
ilustrasi bekerja dari rumah (pexels.com/Mikhail Nilov)

Masalah kerap timbul ketika WFA atau WFH karena keluarga di rumah belum terbiasa dengan hal ini. Kamu sadar penuh bahwa sekarang bukan hari libur. Namun, orang-orang di rumah, utamanya yang lanjut usia atau masih kecil, sering belum mengerti.

Dirimu malah disuruh-suruh terus oleh orangtua seakan-akan gak ada kerjaan. Anak yang masih balita lebih sukar lagi diberi tahu tentang hal ini. Kamu tidak menutup pintu kamar agar lebih fokus bekerja. Ia terus saja masuk dan mengganggu.

Namun, pintu dikunci pun, malah dia berteriak-teriak dari luar atau menggedor-gedornya. Kamu mesti sesering mungkin menjelaskan kepada orang-orang di rumah tentang WFA atau WFH. Bersikaplah lebih tegas jika tetap ada gangguan.

Contohnya, kamu menolak perintah orangtua buat mengantarnya ke sana ke mari. Opsinya, dirimu bakal mengantar setelah jam kerja selesai. Untuk anak balita yang terus mengajakmu bermain, pasangan atau keluargamu yang lain yang gak ngapa-ngapain kudu menanganinya dulu.

3. Disiplin mandi dan makan agar tak mengganggu jalannya pekerjaan

bekerja dari rumah
ilustrasi bekerja dari rumah (pexels.com/Sami Abdullah)

Siapa, nih, yang mandi pagi hanya saat harus ke kantor? Di hari libur kamu malas sekali mandi pagi. Begitu juga soal jadwal sarapan atau makan siang yang auto berantakan tiap akhir pekan. Dampaknya akan terasa ketika kamu mesti WFA atau WFH.

Dirimu juga tidak mandi dan sarapan sepagi biasanya. Padahal, kamu tetap mesti bekerja dan tugasmu padat. Apabila di tengah waktu kerja dirimu mandi atau makan, pekerjaan justru terhambat.

Lebih baik bersikap seakan-akan dirimu mesti ke kantor seperti biasa. Mandi dan sarapan sebelum jam kerja. Makan siang juga sesuai waktu istirahat di kantor. Dengan begitu, jam-jam berikutnya tinggal difokuskan untuk tugas. Gak ada banyak distraksi.

4. Koneksi internet harus stabil dan gadget dipakai sendiri

bekerja dari rumah
ilustrasi bekerja dari rumah (pexels.com/cottonbro studio)

Bekerja dari kantor biasanya sudah ada fasilitas Wi‑Fi yang mumpuni. Letak kantor juga di tengah kota sehingga jaringannya bagus. Akan tetapi, rumahmu yang di pinggiran boleh jadi agak susah sinyal serta koneksi internet lemah.

Ini akan bikin kamu stres ketika harus WFA atau WFH. Barangkali dirimu sampai perlu mengungsi ke tempat lain yang jauh buat mendapatkan sambungan internet yang lebih baik. Bila kamu tetap mau bekerja dari rumah, kamu kudu memilih ulang penyedia layanan internet yang bagus.

Gadget seperti laptop serta smartphone juga wajib hanya digunakan olehmu. Bukan gawai dipakai bareng anak atau pasangan. Nanti kamu kesulitan ketika hendak menggunakannya, tapi perangkat sedang dipakai oleh anggota keluarga.

5. WFA/WFH lama atau rutin, ciptakan ruangan yang lebih mendukung

ruang kerja
ilustrasi ruang kerja (pexels.com/www.kaboompics.com)

Kebijakan WFH atau WFA pasca Lebaran bisa gak sama di setiap kantor? Ada kantor yang hanya sedang memberikan kelonggaran kepada karyawan di momen Idulfitri. Daripada pekerja masuk kantor lagi di akhir bulan mending sekalian bulan depan.

Akan tetapi, jika kebijakan work from anywhere atau work from home diambil sebagai upaya penghematan bahan bakar di tengah konflik Timur Tengah, mungkin bakal lama. Sampai ancaman krisis energi berlalu, kamu akan disuruh WFA atau WFH. Barangkali tidak setiap hari.

Dalam sepekan cuma satu atau beberapa hari WFH atau WFA. Dirimu memerlukan ruangan di rumah yang lebih cocok untuk ini. Sebaiknya kamu jangan terus bekerja di ruang tamu atau ruang tengah yang penuh dengan gangguan. Tata satu kamar untukmu bekerja dengan tenang.

Apa pun kebijakan kantor, kamu kudu siap bekerja dengan sama baiknya. Sekalipun WFA atau WFH merupakan pengalaman baru untukmu. Terpenting, dirimu tidak terlalu santai serta mengondisikan rumah atau lokasi kerjamu yang lain biar lebih kondusif selama kamu harus berkonsentrasi. Sebagai permulaan, terapkan tips WFA atau WFH setelah Lebaran agar dirimu mulai terbiasa.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Debby Utomo
EditorDebby Utomo
Follow Us