ilustrasi penulis (pexels.com/www.kaboompics.com)
Tuduhan semacam ini sebenarnya cukup sering diterima oleh penulis yang banyak membaca referensi dari berbagai sumber dan berbagai bahasa. Hanya karena pilihan katanya dianggap berbeda atau gaya penulisannya tidak umum (tidak seperti susunan kalimat dalam bahasa Indonesia, misalnya), sebagian langsung berasumsi bahwa tulisan tersebut hanyalah hasil terjemahan dari artikel berbahasa lain.
Padahal, banyak penulis memang memiliki cara bertutur yang terbentuk dari kebiasaan membaca buku, jurnal, atau media dari berbagai negara. Ada pula penulis yang terbawa gaya menulisnya dengan gaya bicaranya sehari-hari (misalnya, terbiasa berbicara dalam bahasa asing). Gaya menulis yang berbeda tidak otomatis berarti karya tersebut tidak orisinal.
Ada juga situasi ketika penulis membahas topik yang belum banyak diangkat sehingga sudut pandangnya terasa awam bagi sebagian pembaca. Alih-alih melihat keseluruhan isi dan argumen yang disampaikan, perhatian justru beralih pada dugaan bahwa tulisan itu bukan hasil pemikiran sendiri. Bahkan mencantumkan kutipan wawancara atau pernyataan ahli masih dituduh kalau terkesan terlalu opini. Padahal, sebuah karya bisa lahir dari sebuah perjalanan yang sangat panjang, pengalaman pribadi penulis, serta pastinya pengolahan informasi dari banyak sumber yang sah. Jika setiap tulisan yang terdengar berbeda langsung dicurigai sebagai terjemahan, kreativitas seorang penulis justru menjadi semakin sempit.
Menilai karya memang hak setiap orang, tetapi melontarkan tuduhan yang bisa merusak kredibilitas seorang penulis adalah hal yang berbeda. Sebelum menyimpulkan sesuatu tentang seorang penulis, ada baiknya melihat fakta atau tulisan mereka secara utuh, tidak hanya mengandalkan dugaan semata. Kalau posisinya di balik pembaca sebagai penulis, apa tetap akan diam saja menghadapi berbagai tuduhan yang tidak benar ini?