Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Cara Menghindari Quiet Burnout Sebelum Terlambat, Jangan Dibiarkan!

Cara Menghindari Quiet Burnout Sebelum Terlambat, Jangan Dibiarkan!
ilustrasi merasa burn out (pexels.com/MART PRODUCTION)
Intinya Sih
  • Quiet burnout ditandai kelelahan berkepanjangan, hadir bekerja tanpa keterlibatan mental, sinisme, konsentrasi dan kepercayaan diri menurun, serta gangguan tidur, meski seseorang tampak baik-baik saja.
  • Pencegahan perlu dilakukan dengan memprioritaskan kesehatan mental, memanfaatkan fasilitas dukungan secara proaktif, dan melihat tanda awal burnout sebagai informasi, bukan kelemahan.
  • Sekitar 30 persen karyawan mengalami quiet burnout; fenomena ini dipengaruhi stres kronis dan faktor struktural seperti batas kerja kabur, tekanan ekonomi, serta ritme kerja modern.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Pernah gak sih, merasa capek terus meski sudah merasa tidur cukup? Namun, tetap ada perasaan berat yang gak kunjung hilang? Bisa jadi itu tanda dari quiet burnout, jenis burnout yang lebih sulit dikenali karena gak menunjukkan gejala dramatis seperti breakdown atau menangis di tengah pekerjaan.

Fenomena ini justru sering luput karena penderitanya cenderung menekan gejala dan tetap terlihat baik-baik saja di depan orang lain. Quiet burnout lebih sering menyerang orang-orang yang terbiasa mengutamakan kebutuhan orang lain di atas kebutuhan diri sendiri, sampai akhirnya merasa kewalahan dan kelelahan secara emosional. Yuk, simak beberapa cara buat menghindari quiet burnout sebelum semuanya terlambat!

1. Kenali tanda-tanda yang jarang disadari

ilustrasi burn out (pexels.com/cottonbro studio)
ilustrasi burn out (pexels.com/cottonbro studio)

Menurut Karishma Patel Buford, Chief People Officer di Spring Health, dilansir Forbes, ada beberapa tanda umum yang perlu diwaspadai. Mulai dari kelelahan yang terus-menerus meski udah cuti panjang, presenteeism atau tetap hadir bekerja tapi secara mental gak benar-benar terlibat, sinisme atau rasa gak peduli yang meningkat, penurunan konsentrasi dan kepercayaan diri, sampai gangguan tidur.

"Faktanya, riset kami menunjukkan kalau masalah tidur jadi tantangan kesehatan mental nomor satu di kalangan karyawan (36 persen), tapi jauh lebih sedikit HR leader yang mengenalinya sebagai perhatian utama. Ini menciptakan gap yang bisa menunda intervensi dini padahal sangat butuh segera dipersempit," jelas Karishma.

Ia juga menegaskan kalau siapa pun bisa mengalami quiet burnout tanpa memandang latar belakang. Meski begitu, makin banyak tanggung jawab yang dikelola seseorang, makin besar pula kemungkinan itu terjadi.

2. Cara melindungi diri dari quiet burnout

ilustrasi burn out (pexels.com/ANTONI SHKRABA production)
ilustrasi burn out (pexels.com/ANTONI SHKRABA production)

Kebiasaan work-life balance sering dianggap sebagai lini pertahanan terbaik buat melawan quiet burnout. Tapi, Karishma menekankan kalau upaya pencegahan sebenarnya jauh lebih luas dari sekadar kebiasaan individu.

"Burnout sering berakar dari stres kronis yang gak berhasil dikelola dengan baik. Meski begitu, kita harus selalu memprioritaskan kesehatan mental dan kesejahteraan diri," ujarnya.

Karishma pun membagikan beberapa strategi konkret yang bisa diterapkan. Pertama, manfaatkan fasilitas kesehatan mental secara proaktif, bukan cuma reaktif saat masalah udah muncul. Kedua, anggap tanda-tanda awal burnout sebagai informasi bukan kelemahan.

3. Jangan anggap remeh quiet burnout

ilustrasi burn out (pexels.com/Ron Lach)
ilustrasi burn out (pexels.com/Ron Lach)

Quiet burnout bukan isu yang niche atau cuma dialami segelintir orang. Spring Health menemukan kalau sekitar 30 persen karyawan mengalami quiet burnout. Lalu, hampir 20 persen HR leader percaya kalau fenomena ini berdampak setidaknya pada separuh tenaga kerja mereka.

"Kita sering membicarakan burnout seolah itu masalah individu dengan solusi individu. Tapi kalau 30 persen tenaga kerja diam-diam mengalami burnout, itu bukan lagi kegagalan personal. Itu adalah sinyal soal sistem yang kita semua jalani. Ritme kerja modern, batasan yang makin kabur akibat percepatan sistem remote dan hybrid, tekanan ekonomi yang bikin sulit merasa cukup, semua ini adalah kekuatan struktural," kata Karishma.

Karishma percaya kalau quiet burnout paling sering dialami oleh karyawan teladan, yaitu mereka yang paling berdedikasi dan jadi tumpuan tim.

Itu dia beberapa cara menghindari quiet burnout yang perlu kamu ketahui. Jangan dianggap remeh, ya!

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More