Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
8 Cara Mencegah Kebakaran di Rumah, Cek Listrik hingga Gas
ilustrasi kebakaran (pexels.com/Jani Kantokoski)
  • Korsleting dan penggunaan instalasi listrik bertumpuk perlu dicegah dengan sambungan aman serta perangkat elektronik, kompor, selang gas, dan regulator berlabel SNI.
  • Kompor menyala tidak boleh ditinggal; dapur perlu ventilasi baik, sementara sumber api, kabel, dan stopkontak harus dijauhkan dari jangkauan anak-anak.
  • Sebelum bepergian jauh, cabut kabel dan lepas selang gas; hindari tidur dengan lilin menyala serta sediakan APAR atau karung goni dekat sumber air.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Kebakaran menjadi musibah yang masih cukup sering terjadi. Apalagi di kawasan permukiman padat penduduk. Rumah yang berimpitan serta bahan bangunan semi permanen memudahkan api membesar dan menjalar dengan cepat.

Tentu ini berbahaya sekali. Jika api telanjur membesar akan sangat sulit dengan cepat dikendalikan. Harus dengan bantuan petugas Damkar. Maka dari itu, melakukan pencegahan kebakaran di rumah-rumah jauh lebih baik.

Dengan demikian, potensi jatuhnya korban jiwa serta kerugian material dapat dihindari. Setiap penghuni rumah memiliki kewajiban untuk mengamankan huniannya. Hal-hal terkait kelistrikan dan sumber-sumber api mesti diwaspadai. Lakukan langkah dasar pencegahan kebakaran sebagai berikut.

1. Memastikan sambungan listrik di rumah aman

ilustrasi anak bermain di rumah (pexels.com/Atlantic Ambience)

Korsleting listrik sangat sering menjadi penyebab kebakaran di rumah. Pemandangan kabel sambung-menyambung di stopkontak umum dijumpai. Satu stokkontak di dinding dihubungkan dengan stopkontak sambungan dengan beberapa lubang.

Di situ setiap lubang stopkontak sudah penuh kabel. Salah satunya lagi-lagi kabel sambungan dengan stopkontak beberapa lubang. Niat hati menghemat daripada memanggil tukang dan menambah instalasi listrik yang aman serta rapi, malah bisa bikin kebakaran.

2. Menggunakan peralatan elektronik dan kompor yang sudah SNI

ilustrasi teko listrik (pexels.com/Engin Akyurt)

Label SNI bukan sekadar formalitas. Produk yang sudah ber-SNI menandakan kualitasnya telah teruji. Itu mencegah terjadinya kerusakan dalam waktu singkat, termasuk potensi korsleting dan kebakaran pada peralatan elektronik.

Gak cuma peralatan listrik. Kompor, selang gas, dan regulator juga mesti sudah SNI. Harga produk ber-SNI memang lebih mahal. Akan tetapi, kalau sampai terjadi kebakaran hebat yang menghabiskan rumah tentu kerugiannya jauh lebih besar.

3. Tidak meninggalkan kompor yang menyala

ilustrasi kompor menyala (pexels.com/Magda Ehlers)

Sering kali orang melakukan beberapa pekerjaan sekaligus di rumah biar cepat selesai. Ketika memasak misalnya, ditinggal ke sana kemari buat mengepel, mencuci, dan sebagainya. Bahkan ada orang yang enteng saja meninggalkan kompor dalam kondisi menyala buat pergi ke warung.

Kalau terjadi apa-apa tidak akan ketahuan dengan cepat. Api telanjur membesar. Bila pun kamu mau menyambi sesuatu, pilih pekerjaan yang dapat dilakukan di dapur atau sangat dekat dengan dapur.

4. Sirkulasi udara di dapur harus baik

ilustrasi dapur (pexels.com/Alec Vagnozzi)

Dapur gak boleh terlalu tertutup tanpa ventilasi. Pastikan setidaknya ada satu jendela yang cukup besar dan dibuka ketika kamu memasak. Ini penting supaya seandainya ada kebocoran gas tidak memenuhi ruangan. Gas bisa berkurang dengan keluar melalui jendela dan mengurangi risiko kebakaran.

5. Menjauhkan sumber api dari jangkauan anak-anak

ilustrasi anak di rumah (pexels.com/Towfiqu barbhuiya)

Apakah ada anak di rumah? Kalau ya, orangtua dan semua orang dewasa di rumah kudu waspada. Anak-anak punya rasa ingin tahu yang tinggi dan belum memahami potensi bahaya. Stopkontak, aneka kabel, dan kompor mesti ditempatkan jauh dari anak. Salah-salah malah anak memainkannya dan menyebabkan kebakaran.

6. Jangan tidur dengan lilin menyala

ilustrasi tidur dengan lilin menyala (pexels.com/Liudmyla Shalimova)

Lilin sering dinyalakan tidak hanya saat mati listrik di malam hari. Kalau kamu suka suasana romantis plus aromaterapi juga mungkin ingin tidur dengan lilin aromaterapi menyala. Akan tetapi, bahayanya sangat besar.

Saat dirimu tidur tidak akan menyadari kalau api kena angin dan menyambar bahan mudah terbakar di sekitarnya. Seperti gorden atau buku. Apalagi di rumah ada binatang peliharaan yang bebas ke sana kemari. Takutnya lilin tersenggol, jatuh, dan apinya membakar benda apa pun.

7. Mencabut kabel dan melepas selang gas sebelum bepergian jauh

ilustrasi stopkontak (pexels.com/Саша Алалыкин)

Bepergian jauh gak bisa asal berangkat. Rumah mesti terlebih dahulu dipastikan keamanannya untuk ditinggal beberapa hari. Guna mencegah korsleting listrik selama dirimu tidak di rumah sebaiknya semua kabel dilepas dari stopkontak.

Jika pun kulkas mau tetap dinyalakan karena berisi bahan makanan yang rentan busuk di suhu ruang, hindari pergi terlalu lama. Bila rumah akan kosong lebih dari seminggu mending bahan makanan yang gak awet di luar kulkas dihabiskan dulu supaya lemari es dapat dimatikan. Selang tabung gas juga dilepas saja.

8. Menyediakan peralatan pemadam api

ilustrasi apar (pexels.com/Jan van der Wolf)

Apar atau alat pemadam api seperti di atas perlu dimiliki. Apalagi di permukiman padat penduduk karena api dapat menyebar dengan sangat cepat. Kalaupun gak ada apar, kamu bisa menyiapkan beberapa karung goni di dekat sumber air. Begitu ada api membesar langsung masukkan karung ke air dan tutupkan ke sumber api. Api akan segera padam.

Pencegahan kebakaran lebih utama daripada api telanjur membesar dan kamu bingung apa yang harus dilakukan. Hindari pemikiran kebakaran cuma terjadi dalam berita serta jauh dari tempat tinggalmu. Sebab di setiap rumah pasti ada listrik serta sumber api yang dapat menyebabkan kebakaran kalau tidak ditangani dengan hati-hati.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Topics

Editorial Team

Related Article