"Agar talenan tetap bersih, cuci dengan air panas dan sabun setelah setiap kali digunakan; kemudian bilas dengan air bersih, lalu biarkan kering dengan diangin-anginkan atau lap hingga kering menggunakan tisu dapur bersih," jelas FSIS.
Cara Merawat Talenan agar Tidak Mudah Retak, Berbau, atau Berjamur

Talenan termasuk perlengkapan dapur yang digunakan hampir setiap hari, mulai dari memotong sayuran, mengiris buah, hingga menyiapkan daging dan ikan. Karena sering bersentuhan langsung dengan bahan makanan, kebersihan talenan tidak boleh dianggap sepele. Sayangnya, bagian ini kerap hanya dicuci sebentar setelah digunakan, lalu diletakkan begitu saja di dekat wastafel atau disimpan ketika masih lembap.
Padahal, kebiasaan tersebut dapat membuat talenan lebih cepat berbau, mengalami perubahan bentuk, bahkan ditumbuhi jamur jika kondisi penyimpanannya mendukung pertumbuhan mikroorganisme. Cara merawatnya pun perlu disesuaikan dengan bahan talenan, baik kayu, bambu, maupun plastik.
1. Segera cuci talenan setelah digunakan

ilustrasi mencuci talenan (freepik.com/freepik) Jangan membiarkan sisa makanan menempel terlalu lama pada permukaan talenan. Cairan daging, potongan sayuran, bumbu, dan minyak bisa tertinggal di celah bekas pisau maupun permukaan yang tidak rata. Jika dibiarkan, residu tersebut dapat menimbulkan bau dan menjadi sumber kontaminasi ketika talenan digunakan kembali.
Food Safety and Inspection Service (FSIS) dari U.S. Department of Agriculture (USDA) menyarankan agar talenan dicuci menggunakan air panas dan sabun setelah setiap penggunaan, kemudian dibilas dengan air bersih. Panduan tersebut juga menekankan pentingnya mengeringkan talenan menggunakan tisu bersih atau membiarkannya kering dengan sendirinya.
2. Jangan merendam talenan kayu terlalu lama

ilustrasi mencuci talenan kayu (pexels.com/Annushka Ahuja) Talenan kayu memiliki tampilan alami yang menarik dan cukup nyaman digunakan untuk memotong berbagai bahan makanan. Namun, kayu dapat menyerap kelembapan sehingga perawatannya perlu lebih diperhatikan. Merendam talenan kayu terlalu lama atau membiarkannya terendam di dalam wastafel dapat meningkatkan risiko perubahan bentuk, retak, dan kerusakan pada sambungan kayu.
Gulsun Akdemir Evrendilek, Ph.D., Associate Extension Professor sekaligus spesialis teknologi hasil laut dan keamanan pangan di University of Maine Cooperative Extension, menjelaskan dalam panduan Safe Cutting Boards: Materials, Usage, and Cleaning Tips bahwa talenan kayu perlu dicuci setelah digunakan dan tidak boleh direndam terlalu lama. Panduan tersebut juga menyarankan agar talenan segera dikeringkan untuk mengurangi kelembapan yang tertahan di dalam material.
"Talenan kayu memerlukan perawatan rutin agar tetap aman dan efektif digunakan untuk menyiapkan makanan. Setelah digunakan, cucilah talenan secara menyeluruh menggunakan air hangat dan sabun cuci piring biasa (seperti sabun cuci piring yang tidak beraroma dan tidak mengandung antibakteri) agar tidak ada residu atau bau menyengat yang tertinggal pada kayu," jelas Evrendilek.
"Hindari merendam talenan kayu di dalam air, karena kelembapan berlebih dapat menyebabkan kayu melengkung atau retak seiring berjalannya waktu. Segera keringkan talenan dengan handuk bersih untuk mengurangi kadar air yang terserap," tambahnya.
3. Keringkan talenan dengan posisi yang tepat

ilustrasi talenan kayu (pexels.com/Arina Krasnikova) Talenan yang sudah dicuci belum tentu siap disimpan. Jika permukaannya masih lembap, terutama pada bagian bawah yang menempel pada meja, air dapat terperangkap dan membuat talenan sulit kering secara merata. Kondisi lembap yang berlangsung lama dapat mendukung pertumbuhan jamur dan mikroorganisme lainnya.
University of Maine Cooperative Extension dalam panduan perawatan talenan menyarankan agar talenan dikeringkan sepenuhnya sebelum disimpan. Meletakkannya dalam posisi tegak pada rak pengering membantu udara mengalir di kedua sisi sehingga kelembapan tidak terjebak.
Setelah dicuci, letakkan talenan secara vertikal pada rak yang bersih dan tidak terlalu rapat dengan peralatan lain. Pastikan kedua sisinya sudah kering sebelum talenan dimasukkan ke lemari atau laci. Jika dapur cenderung lembap, pilih tempat penyimpanan yang memiliki ventilasi baik dan hindari menumpuk beberapa talenan dalam keadaan basah.
4. Rawat permukaan talenan agar tidak cepat kering dan retak

ilustrasi talenan dan pisau (pexels.com/Towfiqu barbhuiya) Talenan kayu yang sering dicuci dan digunakan dapat kehilangan kelembapan alaminya seiring waktu. Jika kayu terlalu kering, perubahan kondisi lingkungan bisa membuat permukaannya lebih rentan retak atau melengkung. Selain itu, bekas pisau yang terlalu dalam dapat menjadi tempat tersangkutnya sisa makanan sehingga talenan lebih sulit dibersihkan.
University of Maine Cooperative Extension merekomendasikan penggunaan minyak mineral khusus yang aman untuk kontak dengan makanan atau lilin lebah untuk membantu merawat permukaan talenan kayu. Dalam panduannya, perawatan ini dapat dilakukan kira-kira sebulan sekali atau ketika permukaan kayu mulai terlihat kering.
Sebelum mengoleskan minyak, pastikan talenan bersih dan benar-benar kering. Gunakan produk yang secara khusus dinyatakan aman untuk talenan atau permukaan yang bersentuhan dengan makanan, lalu ikuti petunjuk pemakaiannya. Perawatan ini tidak bisa memperbaiki retakan yang sudah parah, tetapi dapat membantu menjaga kondisi kayu yang masih layak digunakan. Untuk talenan plastik, ikuti petunjuk perawatan bahannya dan jangan menggunakan minyak kayu.
5. Pisahkan penggunaan talenan dan ganti jika sudah rusak

ilustrasi talenan dan pisau (pexels.com/Arina Krasnikova) Satu talenan untuk semua bahan makanan mungkin terasa praktis, tetapi kebiasaan ini dapat meningkatkan risiko kontaminasi silang. Bakteri dari daging, unggas, atau ikan mentah dapat berpindah ke buah dan sayuran yang langsung dimakan tanpa dimasak.
Risiko tersebut semakin perlu diperhatikan jika talenan memiliki banyak goresan atau celah yang sulit dibersihkan. USDA melalui FSIS juga menyarankan penggunaan talenan terpisah untuk bahan pangan segar seperti buah dan sayuran serta untuk daging, unggas, dan makanan laut mentah.
"Konsumen boleh menggunakan talenan kayu maupun talenan dengan permukaan tidak berpori untuk memotong daging mentah dan unggas. Namun, sebaiknya gunakan satu talenan khusus untuk bahan pangan segar (seperti sayur dan buah) serta roti, dan gunakan talenan terpisah untuk daging mentah, unggas, dan makanan laut. Langkah ini akan mencegah bakteri yang mungkin tertinggal di talenan bekas daging mentah, unggas, atau makanan laut berpindah ke bahan makanan lain yang tidak akan dimasak lagi," jelasnya.
Panduan yang sama menjelaskan bahwa talenan dengan goresan dalam yang sulit dibersihkan sebaiknya diganti. Jadi, talenan yang tampak bersih belum tentu layak dipakai jika permukaannya sudah mengalami kerusakan berat. Agar lebih mudah, gunakan talenan berbeda untuk bahan mentah dan makanan siap santap.
Merawat talenan sebenarnya tidak membutuhkan banyak waktu, tetapi perlu dilakukan secara konsisten. Cuci setelah digunakan, hindari merendam talenan kayu terlalu lama, keringkan dengan posisi yang tepat, dan perhatikan kondisi permukaannya secara berkala. Dengan kebiasaan sederhana ini, talenan bisa lebih awet, tidak mudah berbau atau berjamur, serta tetap aman digunakan untuk membantu menyiapkan makanan sehari-hari.
























