Gaya hidup minim sampah atau zero waste semakin banyak diminati, terutama oleh generasi muda yang semakin sadar akan dampak lingkungan dari konsumsi sehari-hari. Membawa tumbler, menggunakan tas belanja kain, hingga mengurangi penggunaan plastik sekali pakai menjadi langkah sederhana yang banyak dilakukan. Namun, di Indonesia, upaya hidup minim sampah sering kali berhadapan dengan kenyataan bahwa berbagai produk kebutuhan sehari-hari masih didominasi oleh kemasan saset.
Kemasan saset memang menawarkan harga yang lebih terjangkau dan mudah diakses oleh berbagai lapisan masyarakat. Sayangnya, kemasan berukuran kecil ini menjadi salah satu penyumbang sampah yang sulit didaur ulang karena terdiri dari beberapa lapisan material. Akibatnya, banyak orang yang ingin hidup lebih ramah lingkungan menghadapi berbagai dilema dalam kesehariannya. Berikut lima dilema yang sering muncul ketika mencoba menerapkan gaya hidup minim sampah di tengah kepungan kemasan sasetan.
