Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 Alasan Gen Z Sangat Mudah Kehabisan Energi, Selalu Multitasking?
ilustrasi Gen Z yang kehabisan energi (magnific.com/stockking)

Gen Z sering dikenal sebagai generasi yang dekat dengan teknologi, cepat beradaptasi, dan terbiasa melakukan banyak hal dalam waktu bersamaan. Namun, di balik kemampuan tersebut, banyak dari mereka yang merasa lebih mudah lelah, kehilangan motivasi, atau membutuhkan waktu sendiri setelah menjalani aktivitas sehari-hari. Bahkan, aktivitas yang terlihat sederhana terkadang bisa terasa sangat menguras energi.

Rasa lelah tentu tidak selalu berarti seseorang malas atau tidak produktif. Ada banyak hal dalam kehidupan masa kini yang secara perlahan menguras energi fisik maupun mental. Nah, berikut IDN Times Community membagikan lima alasan kenapa Gen Z bisa sangat mudah merasa kehabisan energi dalam kesehariannya. Check it out!

1. Terlalu lama terpapar media sosial

ilustrasi mengecek ponsel saat bangun tidur (magnific.com/jcomp)

Media sosial membuat Gen Z terus terhubung dengan berbagai informasi, tren, berita, dan kehidupan orang lain. Dalam satu waktu, seseorang bisa melihat pencapaian teman, konten hiburan, berita negatif, hingga berbagai opini yang saling bertentangan. Otak akhirnya menerima begitu banyak rangsangan tanpa benar-benar mendapatkan kesempatan untuk beristirahat.

Selain itu, kebiasaan membandingkan diri dengan kehidupan orang lain juga bisa menguras energi secara emosional. Melihat orang lain mendapatkan pekerjaan impian, bepergian, menikah, atau mencapai sesuatu yang diinginkan dapat membuat seseorang merasa tertinggal. Padahal, apa yang terlihat di media sosial hanyalah sebagian kecil dari kehidupan seseorang.

2. Terbiasa melakukan banyak hal sekaligus

ilustrasi terlalu banyak pekerjaan (magnific.com/wayhomestudio)

Gen Z tumbuh di tengah teknologi yang memungkinkan banyak aktivitas dilakukan secara bersamaan. Bekerja sambil membuka media sosial, membalas pesan ketika sedang belajar, atau menonton video sambil mengerjakan tugas mungkin terasa biasa. Namun, berpindah-pindah fokus terus-menerus dapat membuat pikiran terasa lebih cepat lelah.

Ketika terlalu banyak hal meminta perhatian dalam waktu yang sama, kita juga bisa merasa seolah-olah tidak pernah benar-benar selesai melakukan sesuatu. Akibatnya, meskipun seharian berada di depan laptop atau ponsel, tubuh dan pikiran tetap terasa membutuhkan istirahat. Bukan karena tidak melakukan apa-apa, melainkan karena perhatian terus digunakan untuk berbagai hal.

3. Tekanan untuk selalu produktif

ilustrasi seorang perempuan sedang tertekan karena pekerjaan (freepik.com/wayhomestudio)

Saat ini, produktivitas sering dianggap sebagai sesuatu yang harus terus dikejar. Media sosial dipenuhi konten tentang rutinitas pagi, target karier, olahraga, belajar keterampilan baru, hingga berbagai cara untuk menjadi versi terbaik dari diri sendiri. Melihat semua itu setiap hari dapat membuat seseorang merasa harus selalu melakukan sesuatu.

Padahal, manusia tetap membutuhkan waktu untuk berhenti dan beristirahat. Jika setiap waktu kosong dianggap sebagai kesempatan yang harus digunakan untuk menjadi produktif, seseorang bisa merasa bersalah ketika sedang tidak melakukan apa-apa. Dalam jangka panjang, pola seperti ini dapat membuat istirahat pun terasa seperti sebuah kesalahan.

4. Ketidakpastian tentang masa depan bisa menguras pikiran

ilustrasi Gen Z yang kehabisan energi (magnific.com/stockking)

Memikirkan masa depan merupakan hal yang wajar, terutama ketika seseorang sedang berada di fase membangun karier dan kehidupan mandiri. Namun, Gen Z juga menghadapi banyak perubahan dalam dunia kerja, biaya hidup, teknologi, serta tuntutan sosial. Hal tersebut dapat membuat masa depan terasa penuh dengan tanda tanya.

Pikiran yang terus memikirkan apakah karier sudah cukup baik, apakah penghasilan akan mencukupi, atau apakah keputusan yang diambil sudah benar bisa menjadi beban tersendiri. Bahkan ketika tubuh sedang beristirahat, pikiran belum tentu ikut berhenti. Inilah yang membuat seseorang bisa bangun setelah tidur tetapi tetap merasa belum benar-benar mendapatkan energi kembali.

5. Kurang memberikan ruang untuk benar-benar beristirahat

ilustrasi terlalu fokus pada ponsel (magnific.com/jcomp)

Istirahat bukan sekadar berhenti bekerja selama beberapa menit. Jika waktu istirahat selalu diisi dengan scrolling media sosial, membaca berita, membalas pesan, atau memikirkan pekerjaan, otak mungkin tetap mendapatkan banyak stimulasi. Akibatnya, seseorang bisa merasa sudah beristirahat tetapi sebenarnya belum mendapatkan jeda yang berkualitas.

Memberikan ruang untuk melakukan hal sederhana tanpa tuntutan juga penting. Tidur yang cukup, berjalan santai, menikmati hobi, berbicara dengan orang terdekat, atau sekadar duduk tanpa membuka ponsel dapat menjadi bentuk istirahat yang berbeda. Tidak semua waktu harus menghasilkan sesuatu karena manusia juga membutuhkan waktu untuk sekadar memulihkan diri.

Kondisi ini bisa menjadi tanda bahwa tubuh dan pikiran sedang menerima terlalu banyak tuntutan atau stimulasi. Karena itu, selain berusaha menjadi lebih produktif, penting juga untuk belajar mengenali kapan diri sendiri membutuhkan jeda. Karena pada akhirnya, menjaga energi bukan hanya tentang bagaimana kita bisa melakukan lebih banyak hal, tetapi juga tentang mengetahui kapan harus berhenti.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

EditorAtqo Sy

Related Article