Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Butuh Tenang? 7 Buku Ini Bisa Bantu Kamu Pulih Secara Mental

Butuh Tenang? 7 Buku Ini Bisa Bantu Kamu Pulih Secara Mental
ilustrasi seorang wanita sedang membaca (pexels.com/Gül Işık)
Intinya Sih
  • Artikel menyoroti pentingnya kesehatan mental yang kini makin diperhatikan, serta bagaimana membaca buku bertema self-healing bisa membantu memahami dan menerima diri dengan lebih lembut.
  • Tujuh buku direkomendasikan dengan fokus berbeda, mulai dari penerimaan diri, pengelolaan emosi, adaptasi terhadap perubahan hidup, hingga memahami sensitivitas dan kekuatan batin.
  • Keseluruhan bacaan menawarkan refleksi ringan namun bermakna bagi pembaca yang merasa lelah secara emosional, mengingatkan bahwa proses pulih dimulai dari mengenali dan menghargai diri sendiri.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Belakangan ini, isu mental health semakin sering dibicarakan, dan itu hal yang baik. Banyak orang mulai sadar bahwa kesehatan mental sama pentingnya dengan kesehatan fisik. Di tengah tekanan hidup, ekspektasi sosial, dan rutinitas yang melelahkan, kadang kita cuma butuh sesuatu yang bisa membantu memahami diri sendiri dengan lebih lembut.

Salah satu cara sederhana untuk mulai merawat diri adalah lewat membaca. Buku-buku bertema mental health bukan cuma memberi teori, tapi juga bisa jadi teman refleksi yang membuat kita merasa lebih dipahami. Kalau kamu mau mulai membaca, ada tujuh buku yang bisa kamu coba!

1. What's So Wrong About Your Life — Ardhi Mohamad

cover buku What's So Wrong About Your Life
cover buku What's So Wrong About Your Life (gramedia.com)

Buku ini membahas keresahan hidup yang sering dirasakan banyak orang dewasa muda. Tentang merasa tertinggal, bingung dengan arah hidup, atau mempertanyakan apakah hidup yang dijalani sudah benar. Ardhi Mohamad menulis dengan gaya yang santai dan dekat dengan keseharian, membuat pembaca merasa seperti sedang diajak ngobrol oleh teman sendiri.

Alih-alih memberi jawaban mutlak, buku ini justru mengajak pembaca untuk lebih jujur terhadap perasaannya sendiri. Isinya banyak membahas penerimaan diri, tekanan sosial, dan bagaimana cara menghadapi hidup tanpa terus membandingkan diri dengan orang lain. Cocok untuk pembaca yang sedang merasa lost dan butuh validasi emosional yang hangat.

2. Don't Let Your Mood Become Your Attitude — Lemon Psychology

cover buku Don't Let Your Mood Become Your Attitude
cover buku Don't Let Your Mood Become Your Attitude (gramedia.com)

Buku ini membahas bagaimana suasana hati bisa memengaruhi cara kita bersikap dan mengambil keputusan. Kadang saat emosi sedang buruk, kita jadi lebih mudah marah, impulsif, atau menyakiti diri sendiri tanpa sadar. Lemon Psychology mencoba menjelaskan hubungan antara emosi dan perilaku dengan bahasa yang ringan dan mudah dipahami.

Yang menarik, buku ini tidak hanya membahas teori psikologi, tapi juga memberi tips praktis untuk mengelola emosi sehari-hari. Pembaca diajak belajar mengenali mood, memahami pemicunya, dan mengatur respons dengan lebih sehat agar emosi tidak terus mengendalikan hidup.

3. Hargai Diri Sendiri dan Berhentilah Tersakiti — Yoo Eun Jung

cover buku Hargai Diri Sendiri dan Berhentilah Tersakiti
cover buku Hargai Diri Sendiri dan Berhentilah Tersakiti (gramedia.com)

Buku ini fokus pada pentingnya self-worth dan batasan diri dalam hubungan dengan orang lain. Banyak orang terlalu sibuk menyenangkan orang lain sampai lupa menjaga dirinya sendiri. Yoo Eun Jung membahas bagaimana kebiasaan itu bisa membuat seseorang terus merasa lelah dan terluka secara emosional.

Dengan gaya khas buku self-help Korea yang lembut dan reflektif, buku ini mengajak pembaca belajar menghargai diri sendiri tanpa merasa egois. Inti pesannya menyampaikan bahwa kamu tetap berharga meskipun tidak selalu memenuhi ekspektasi semua orang.

4. Seni Menyikapi Hidup: Rahasia Melampaui Diri Sendiri — Fahruddin Faiz

cover buku Seni Menyikapi Hidup
cover buku Seni Menyikapi Hidup (gramedia.com)

Buku ini membawa pembaca pada refleksi yang lebih filosofis tentang hidup dan manusia. Fahruddin Faiz membahas bagaimana seseorang bisa menghadapi kehidupan dengan lebih bijak melalui pemahaman diri, kesadaran batin, dan cara berpikir yang lebih luas.

Walaupun bernuansa filsafat, penyampaiannya tetap ringan dan mudah dipahami. Buku ini cocok untuk pembaca yang suka merenung dan ingin memahami hidup dari perspektif yang lebih dalam, terutama saat merasa lelah secara mental dan emosional.

5. Adaptasi: Life is Transition — Nisrina Putri Utami

cover buku Adaptasi: Life is Transition
cover buku Adaptasi: Life is Transition (gramedia.com)

Perubahan hidup sering kali menjadi sumber stres yang besar, dan buku ini membahas bagaimana manusia bisa beradaptasi dengan berbagai fase kehidupan. Mulai dari perubahan karier, hubungan, lingkungan, hingga kehilangan, semuanya dibahas dari sudut pandang psikologi yang praktis.

Buku ini terasa relatable karena membahas hal-hal yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Pembaca diajak memahami bahwa perubahan memang tidak selalu nyaman, tapi bukan berarti kita tidak mampu melewatinya. Isinya menenangkan dan memberi banyak perspektif baru tentang proses bertumbuh.

6. Buku untuk yang Supersensitif — Jeon Hong Jin

cover buku Buku untuk yang Supersensitif
cover buku Buku untuk yang Supersensitif (transmediapustaka.com)

Buku ini cocok untuk pembaca yang merasa terlalu mudah merasa sedih, cemas, atau memikirkan sesuatu secara berlebihan. Jeon Hong Jin menjelaskan bahwa menjadi sensitif bukan kelemahan, melainkan karakter yang perlu dipahami dan dikelola dengan baik.

Dengan pendekatan psikologis yang hangat, buku ini membantu pembaca memahami bagaimana cara menjaga energi emosional dan menghadapi dunia yang sering terasa terlalu ramai. Bacaan ini terasa menenangkan karena tidak menghakimi sensitivitas seseorang, justru membantu pembaca lebih menerima dirinya sendiri.

7. Diri (mu) adalah Kekuatan — Martaria Rizky Rinaldi

cover buku Diri (mu) adalah Kekuatan
cover buku Diri (mu) adalah Kekuatan (gramedia.com)

Buku ini berbicara tentang kekuatan diri yang sering kali tidak disadari oleh banyak orang. Martaria Rizky Rinaldi mengajak pembaca melihat bahwa ketahanan mental bukan berarti selalu kuat, tetapi kemampuan untuk tetap bangkit meski sedang terluka atau lelah.

Isinya dipenuhi refleksi dan pendekatan psikologi yang ringan namun menguatkan. Buku ini cocok dibaca saat sedang kehilangan motivasi atau merasa tidak cukup baik.

Proses merawat diri dimulai dari hal sederhana, seperti memahami emosi sendiri, belajar menerima diri, dan berhenti terlalu keras pada diri sendiri. Buku-buku ini hadir sebagai pengingat bahwa kita juga berhak merasa tenang dan didengar.

Kalau akhir-akhir ini hidup terasa berat atau pikiran terlalu penuh, mungkin salah satu buku di atas bisa menjadi teman yang membantu kamu bernapas sedikit lebih lega. Pelan-pelan saja, karena menjaga mental health juga merupakan proses belajar memahami diri sendiri setiap hari.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Siantita Novaya
EditorSiantita Novaya
Follow Us

Related Articles

See More