Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

6 Buku Nonfiksi untuk Asah Kemampuan Menulis Kritis

6 Buku Nonfiksi untuk Asah Kemampuan Menulis Kritis
rekomendasi buku untuk asah kemampuan menulis kritis (dok. Penguin/Culture and Imperialism | dok. Penguin Random House/Amusing Ourselves to Death)
Intinya Sih
  • Artikel merekomendasikan enam buku nonfiksi yang membantu pembaca mengasah kemampuan menulis dan berpikir kritis lewat analisis isu sosial, budaya, politik, hingga lingkungan.
  • Setiap buku menawarkan perspektif tajam: dari feminisme Andrea Dworkin, dekolonisasi Syed Hussein Alatas, imperialisme Edward Said, hingga pendidikan kritis Paulo Freire.
  • Karya Neil Postman dan Greta Thunberg melengkapi daftar dengan kritik terhadap media modern serta kesadaran krisis iklim, menegaskan pentingnya membaca untuk memperluas wawasan dan logika berpikir.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?
Share Article

Ingin tulisanmu lebih tajam dan dalam? Mungkin ini saatnya kamu melatih kemampuan analisamu lewat bacaan. Tergantung dari topik atau isu yang kamu suka sebenarnya. Silakan sesuaikan dengan isu yang ingin kamu dalami, tetapi kalau butuh bacaan yang cukup umum dan ilmunya universal, 6 buku nonfiksi berikut bisa jadi acuan.

Mereka bisa kamu pakai untuk menganalisa berbagai fenomena budaya, sosial, bahkan lingkungan. Dalam praktiknya, konsep-konsep di dalamnya bisa kamu pakai untuk mengupas film, musik, bahkan tren dan kasus yang sedang viral. Penasaran? Yuk, baca dulu sinopsisnya.

1. Woman Hating (Andrea Dworkin)

Woman Hating Andrea Dworkin
Woman Hating tulisan Andrea Dworkin (dok. Penguin/Woman Hating)

Woman Hating adalah buku nonfiksi yang ditulis Andrea Dworkin dengan penuh bara amarah. Bahkan sejak halaman pertama, Dworkin langsung membeberkan fakta mengerikan tentang pola perlakuan dan anggapan masyarakat, termasuk industri terhadap perempuan. Buku ini bisa menjelaskan mengapa kekerasan kepada perempuan terus terjadi dan bagaimana hal-hal yang kita konsumsi serta normalisasi berefek terhadap kelanggengan sikap desktruktif tersebut.

2. The Myth of Lazy Native (Syed Hussein Alatas)

The Myth of Lazy Natives
The Myth of Lazy Natives tulisan Syed Hussein Alatas (dok. Gerakbudaya/The Myth of Lazy Natives)

Anggapan bahwa orang Asia Tenggara adalah pemalas dibantah habis-habisan oleh Syed Hussein Alatas dalam buku ini. Menurut argumennya, anggapan itu salah besar dan merupakan konstruksi kolonial yang berhasil bikin banyak orang percaya secara turun-temurun. Faktanya mayoritas orang Asia memang bekerja lebih keras daripada orang-orang dari negara bekas penjajah. Buku ideal untuk melatih kemampuanmu menganalisa sebuah fenomena dengan kacamata dekolonisasi.

3. Culture and Imperialism (Edward Said)

Culture and Imperialism
Culture and Imperialism karya Edward Said (dok. Penguin/Culture and Imperialism)

Dikenal luas lewat buku Orientalism, Edward Said membuat buku lain berjudul Culture and Imperialism sebagai kelanjutannya. Lingkupnya lebih luas dan sering pula dipakai untuk mengupas fenomena politik. Secara umum, Said berargumen kalau apa yang kita lihat sebagai normal saat ini adalah konstruksi Barat, kemudian ia mengupas bagaimana ideologi Orientalisme (persepsi stereotipikal terhadap budaya dan peradaban non-Barat) itu tersebar lewat imperialisme.

4. Pedagogy of the Opressed (Paulo Freire)

Pedagogy of the Oppressed Paulo Freire
Pedagogy of the Oppressed karya Paulo Freire (dok. Penguin/Pedagogy of the Oppressed)

Ditulis seorang Marxist, Pedagogy of the Opressed adalah buku filsafat yang membedah bagaimana seharusnya pendidikan bekerja. Mereka harusnya membuka akses untuk kesetaraan dan keadilan, tetapi dalam praktiknya, seringkali yang kita temukan sia-sia. Ini karena kurikulum yang dipakai kerap tidak memberikan kebebasan berpikir kepada murid. Pelajaran sering diberikan satu arah dari atas. Meski tak lepas dari kritik karena dianggap terlalu utopis, buku ini sering dipakai untuk mengupas alur tumbuhnya autokrasi dalam sebuah negara, perlahan dan sistemik, dimulai dari pendidikan.

5. Amusing Ourselves to Death (Neil Postman)

Amusing Ourselves to Death Neil Postman
Amusing Ourselves to Death karya Neil Postman (dok. Penguin Random House/Amusing Ourselves to Death)

Buat pengamat sosial, Amusing Ourselves to Death bisa jadi bacaan yang kaya pisau analisa. Secara umum, Neil Postman membedah awal mula manusia jadi orang yang ignorant alias bodo amat, termasuk dalam politik. Media visual jadi salah satu penyebabnya. Mereka menyuguhi manusia dengan hiburan tanpa henti seolah menghipnotis dan menyakinkan kita kalau kondisi di luar baik-baik saja, padahal mungkin realitasnya tak sebaik yang kita kira. Buku ini sering pula dipakai untuk mengupas bagaimana demokrasi mati dan digantikan autokrasi.

6. The Climate Book (Greta Thunberg)

The Climate Book
The Climate Book karya Greta Thunberg (dok. Penguin Random House/The Climate Book)

Meski sering dinyinyir orang yang menganggap krisis iklim hanya hoax, Greta Thunberg gak berhenti mengedukasi khalayak. Lewat buku ini, ia mengumpulkan testimoni dari sejumlah ahli di berbagai bidang guna menyakinkan publik bahwa Bumi kita sedang tak baik-baik saja. Ia juga mencoba membongkar praktik greenwashing korporasi besar dan elite yang penuh kemunafikan.

Memang benar, kunci menulis yang baik adalah banyak-banyak membaca. Dari situlah kamu bisa memperkaya diri dengan wawasan baru dan tentu melatih kemampuan berpikir logis serta kritis.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Diana Hasna
EditorDiana Hasna

Related Articles

See More