Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

5 Contoh Puisi Hari Kesaktian Pancasila 2025, Menggetarkan Jiwa!

5 Contoh Puisi Hari Kesaktian Pancasila 2025, Menggetarkan Jiwa!
ilustrasi logo garuda (unsplash.com/Mufid Majnun)

Setiap 1 Oktober diperingati sebagai Hari Kesaktian Pancasila. Ini merupakan momen penting dan bersejarah bagi seluruh masyarakat Indonesia untuk mengenang peristiwa Gerakan 30 September atau G30S/PKI. Selain itu, peringatan tersebut juga berfungsi sebagai pengingat bahwa Pancasila merupakan ideologi negara yang tidak bisa digantikan oleh paham apa pun.

Ada berbagai cara yang dapat dilakukan untuk menjadikan peringatan Hari Kesaktian Pancasila lebih bermakna, salah satunya dengan mengadakan lomba menulis atau membaca puisi. Nah, bagi kamu yang sedang mencari inspirasi, berikut beberapa contoh puisi tentang Hari Kesaktian Pancasila 2025 yang menggetarkan jiwa, dikutip dari berbagai sumber. Yuk, disimak!

  1. 1. Kesaktian Pancasila

    ilustrasi kegiatan upacara (pexels.com/Gabriel Judas)
    ilustrasi kegiatan upacara (pexels.com/Gabriel Judas)

    Mengutip buku Pancasila Sakti (Antologi Puisi Pancasila Sakti Indonesia Jaya) yang diterbitkan Guepedia dan sumber lainnya, berikut puisi bertajuk Kesaktian Pancasila karya Ira Novita Situmorang.

    30 September mengukir sejarah pilu bagi bangsa ini

    Menyisakan darah yang tertumpah untuk melawan pengkhianat negara

    Para Jendral memberikan kesetiaannya pada negara, pada Indonesia

    Sebagai bukti kecintaannya pada bangsa kita

    Ā 

    Mereka melawan penganut komunisme

    Yang bertentangan dengan prinsip-prinsip Pancasila

    Yang mencoba merebut kekuasaan negara

    Yang mencoba mengambil alih negara

    Ā 

    1 Oktober 1965

    Indonesia menggaungkan saktinya Pancasila

    Sebagai ideologi berbangsa dan bernegara

    Mari kita jaga dan pertahankan Pancasila

    Jangan sampai muda membiaskan makna Pancasila

    Karena Pancasila bukti dari kesetiaan kita

    Pada negara pada Indonesia

  2. 2. Warna Merah yang Berdarah

    ilustrasi kegiatan upacara bendera (unsplash.com/Teguh Setiawan)
    ilustrasi kegiatan upacara bendera (unsplash.com/Teguh Setiawan)

    Berikut adalah puisi bertajuk Warna Merah yang Berdarah karya Arsy Ramadhan.

    Jika teringat kembali tentang kisah

    Sebuah keadaan yang sedikit tak berarah

    Sedikit membabi buta namun itu sejarah

    Karena adanya percaya yang beda arah

    Ā 

    Memberikan sebuah doa padanya yang tidak tercatat

    Sebagai rasa kata yang tidak berkutat

    Begitu katanya rasa sakit yang merambat

    Namun jiwa tak bisa berbuat

    Ā 

    Hari itu langit berwarna merah

    Hari itu juga jiwa mulai tak berarah

    Warna merah yang disebut dengan darah

    Memberikan suatu cerita yang terkisah

  3. 3. Indonesia Tangguh Berlandaskan Pancasila

    ilustrasi seorang anak sekolah (pexels.com/Rosyid Arifin)
    ilustrasi seorang anak sekolah (pexels.com/Rosyid Arifin)

    Puisi bertajuk Indonesia Tangguh Berlandaskan Pancasila karya Ozy V. Alandika, berikut puisinya:

    Indonesia tangguh berlandaskan Pancasila

    Bersatu walau ada beragam rupa

    Dari Sabang sampai Merauke

    Dari Miangas sampai Pulau Rote

    Ā 

    Indonesia tangguh dalam segenap asa

    Menyatukan rakyat dengan kelima sila

    Ketuhanan Yang Maha Esa adalah yang utama

    Disertai harapan keadilan sosial bagi semua

    Ā 

    Pancasila adalah dasar negara kita

    Pada setiap butir nilainya bernilai amalan cinta

    Damai dan berbuat baik terhadap sesama

    Juga segunung abdi untuk menggapai jaya

    Ā 

    Indonesia tangguh berlandaskan Pancasila

    Janganlah kita berpecah-belah dalam upaya

    Singkirkan para pengkhianat dari rasa

    Agar Bumi Pertiwi aman tenteram sentosa

  4. 4. Aliran Darah dalam Gulita

    ilustrasi mengibarkan bendera merah putih (unsplash.com/Teguh Setiawan)
    ilustrasi mengibarkan bendera merah putih (unsplash.com/Teguh Setiawan)

    Dikutip buku Pancasila Sakti (Antologi Puisi Pancasila Sakti Indonesia Jaya) yang diterbitkan Guepedia dan sumber lainnya, di bawah ini puisi berjudul Aliran Darah dalam Gulita karya Zulfa Ihz.

    Gulitaku kau kira pejam?

    Sayang, Kau salah Sayang

    Gulitaku semarak Petasan

    Sayang, bukan Sayang

    Ā 

    Aku ingin terpejam sepertimu

    Mengukir mimpi yang hendak diraih bangsa ini

    Lagi-lagi ku bilang sayang,

    Nyatanya belum sempat kepala menyentuh bantal

    Tubuhku lebih dulu dibangunkan

    Ā 

    Pintu-pintuku berteriak

    ā€œada orang - ada orang!ā€

    Dinding-dinding bergetar

    Ada pelatuk yang ditarik dengan gentar

    Ā 

    Lantas?

    Aliran darah dalam gulita

    Membawaku hilang dibekap malam

    Meski tak mengalir sederas sungai

    Arus darah-darah itu sampai pada sejarah

  5. 5. Saktinya Pancasila

    ilustrasi paskibra (unsplash.com/Mufid Majnun)
    ilustrasi paskibra (unsplash.com/Mufid Majnun)

    Dilansir buku Pancasila Sakti (Antologi Puisi Pancasila Sakti Indonesia Jaya) yang diterbitkan Guepedia dan sumber lainnya, inilah puisi dengan judul Saktinya Pancasila karya Dea Ayu Anggraini.

    Pancasila bukan sekedar nama

    Juga bukan sekedar lima bacaan yang dibaca saat upacara

    Pancasila bukanlah belenggu norma kehidupan

    Tapi Pancasila adalah kekuatan bangsa

    Layaknya sebuah bangunan yang tidak bisa berdiri tanpa tiang

    Ā 

    Indonesia juga tak akan tegak tanpa Pancasila

    Keringat dan juga darah para pahlawan menjadi pengiringnya

    Sajak-sajaknya yang indah dan penuh makna tersirat

    Bukankah sajak-sajak itu membuat jiwa patriotisme bangkit

    Ā 

    Bukankah ia sakit? Membangkitkan semangat raga dan hati

    Coba bayangkan berapa kali mereka tumbang dan berdiri lagi

    Maka berbanggalah menjadi anak negeri

    Itulah beberapa contoh puisi tentang Hari Kesaktian Pancasila 2025 yang bisa dijadikan referensi dalam memperingati tanggal 1 Oktober. Semoga dapat membangkitkan semangat dan membuat kita semakin menghargai perjuangan para pahlawan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Kisah Koperasi Perempuan di Tepi Rel

Related Articles

See More