Filosofi Gedung DPR, Sejarah Gedung Ramai Pendemo

- Filosofi Gedung DPR merupakan informasi penting yang perlu diketahui masyarakat Indonesia. Bangunan ini dirancang oleh Soejoedi Wirjoatmodjo dan disahkan langsung oleh Presiden Sukarno.
- Gedung utama, Gedung Nusantara, berlokasi di Jalan Gatot Subroto No.1, Senayan, Jakarta Pusat. Arsitektur dengan atap hijau setengah lingkaran melambangkan semangat kebangsaan yang kuat.
- Patung Elemen Estetik berbentuk tiga bulatan yang saling berhubungan sebagai lambang kesinambungan. Karya seni ciptaan Drs. But Mochtar dari ITB ini menghadirkan keindahan sekaligus makna simbolis bagi kompleks gedung.
Akhir-akhir ini, mahasiswa dan masyarakat ramai menggelar aksi demonstrasi di depan Gedung DPR (Dewan Perwakilan Rakyat). Mereka menyoroti berbagai polemik yang muncul dari kinerja para wakil rakyat. Namun di balik hiruk pikuk tersebut, ada filosofi Gedung DPR yang penuh makna serta sarat nilai sejarah.
Bangunan yang menjadi pusat aktivitas politik Indonesia ini, tidak hanya berfungsi sebagai tempat legislasi, tetapi juga menyimpan simbol dan arti mendalam tentang perjalanan bangsa. Yuk, kenali lebih dekat filosofi Gedung DPR agar kita memahami makna di balik setiap detail arsitekturnya!
1. Filosofi Gedung DPR

Filosofi Gedung DPR merupakan informasi penting yang perlu diketahui masyarakat Indonesia. Bangunan yang menjadi saksi sejarah ini, dirancang oleh Soejoedi Wirjoatmodjo dan disahkan langsung oleh Presiden Sukarno.
Dilansir laman resmi DPR, meski pembangunannya dimulai pada tahun 1965, sayembara perancangan sudah dibuka sejak November 1964. Dalam waktu singkat, Soejoedi ditetapkan sebagai pemenang. Gedung ini didirikan pada 8 Maret 1965 melalui Surat Keputusan Presiden RI Nomor 48/1965 dan awalnya digagas Presiden Sukarno untuk menyelenggarakan CONEFO (Conference of the New Emerging Forces).
Namun, pembangunan sempat terhenti akibat peristiwa G30S PKI dan baru dilanjutkan kembali berdasarkan Surat Keputusan Presidium Kabinet Ampera Nomor 79/U/Kep/11/1966. Peruntukannya pun diubah menjadi Gedung MPR/DPR RI.
2. Sejarah arsitektur Gedung DPR

Dilansir laman resmi MPR, bangunan utama yang kini dikenal sebagai Gedung Nusantara, berlokasi di Jalan Gatot Subroto No.1, Senayan, Jakarta Pusat. Gedung ini berfungsi sebagai tempat persidangan MPR, DPR, dan DPD RI. Bentuk arsitektur dengan atap hijau setengah lingkaran, melambangkan kepakan sayap burung yang siap lepas landas, simbol semangat kebangsaan yang kuat.
Bagian depan ruangan luas berfungsi untuk menyambut tamu, mencerminkan kepribadian nasional yang akrab dan ramah. Tangga utama di luar gedung yang dibuat terbuka juga melambangkan tradisi keramahan masyarakat Indonesia.
Tak hanya itu, estetika kawasan semakin indah dengan adanya kolam air mancur serta Patung Estetika dari rangka besi menjulang tinggi dengan tiga bulatan yang saling terhubung. Patung tersebut diapit 35 tiang bendera dan dihadapkan pada Gedung Nusantara yang bertuliskan “Majelis Permusyawaratan Rakyat dan Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia”.
Kompleks MPR/DPR/DPD RI sendiri terdiri dari beberapa gedung lain, seperti Gedung Nusantara I (24 lantai, tinggi 100 meter), Nusantara II, Nusantara III, Nusantara IV, Nusantara V, Gedung Bharana Graha, Gedung Sekretariat Jenderal, Gedung Mekanik, serta Masjid Baiturrahman.
3. Patung Elemen Estetik di kompleks Gedung MPR/DPR RI

Salah satu karya seni ikonik yang mempercantik kawasan Gedung MPR/DPR RI adalah Patung Elemen Estetik. Patung ini berdiri di tengah kolam air mancur dan diapit oleh 35 tiang bendera yang menambah kesan megah.
Pandangan utama pengunjung akan langsung tertuju pada tangga besar yang mengarah ke Gedung Nusantara. Kehadiran patung dan elemen pendukungnya menghadirkan keindahan sekaligus makna simbolis bagi kompleks gedung.
Patung Elemen Estetik berbentuk tiga bulatan yang saling berhubungan sebagai lambang kesinambungan. Karya seni ciptaan Drs. But Mochtar dari ITB (Institut Teknologi Bandung) ini, dibuat dengan rangka besi berlapis tembaga dan rampung pada tahun 1977.
Filosofi Gedung DPR bukan hanya sekadar tentang arsitektur, melainkan juga mencerminkan semangat kebangsaan dan perjalanan demokrasi Indonesia. Dengan memahami filosofi Gedung DPR, kita bisa lebih menghargai peran pentingnya sebagai simbol aspirasi rakyat.