Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Profesional di Internet: 5 Hal yang Jangan Pernah Kamu Kirim Lewat DM

Profesional di Internet: 5 Hal yang Jangan Pernah Kamu Kirim Lewat DM
ilustrasi bermain media sosial (unsplash.com/ROBIN WORRALL)
  • DM tidak sepenuhnya privat karena bisa disimpan, diteruskan, di-screenshot, atau masuk sistem lain; kehati-hatian penting untuk komunikasi kerja, bisnis, networking, dan orang baru.
  • Jangan kirim password, OTP, PIN, kode verifikasi, data identitas, dokumen pribadi, informasi rekening, nomor kartu, atau CVV lewat DM; gunakan kanal resmi yang dapat diverifikasi.
  • Hindari membagikan rahasia perusahaan, data klien, dan pesan emosional yang berpotensi merusak reputasi; beri jeda sebelum mengirim karena percakapan dapat bocor atau tersebar.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

DM atau direct message sering terasa seperti ruang pribadi. Padahal, pesan yang kamu kirim secara digital tetap bisa disimpan, diteruskan, di-screenshot, atau bahkan masuk ke sistem lain tanpa kamu sadari. Karena itu, menjaga batas antara komunikasi yang santai dan informasi yang terlalu sensitif, menjadi bagian penting dari profesionalitas di internet.

Terlebih ketika DM digunakan untuk urusan kerja, networking, freelance, bisnis, atau berkomunikasi dengan orang yang baru dikenal. Jadi, sebelum menekan tombol "Send", ada beberapa jenis informasi yang sebaiknya tidak pernah kamu kirim lewat DM.

  1. 1. Password, OTP, dan kode verifikasi

    ilustrasi orang bermain media sosial (pexels.com/iam hogir)
    ilustrasi orang bermain media sosial (pexels.com/iam hogir)

    Hal pertama yang sebaiknya tidak pernah kamu kirim melalui DM adalah password, OTP, PIN, atau kode verifikasi akun. Tidak peduli siapa yang meminta, entah itu teman, rekan kerja, calon klien, bahkan seseorang yang mengaku sebagai admin sebuah perusahaan, kode tersebut seharusnya tetap menjadi rahasia pribadi.

    "Jangan pernah membagikan kode verifikasi. Sama sekali jangan. Bank menggunakan kode-kode ini dalam layanan perbankan daring untuk memastikan bahwa kamu benar-benar pemilik akun tersebut. Jika kamu membagikan kode itu, penipu dapat menggunakannya untuk berpura-pura menjadi kamu," demikian dikutip dari Federal Trade Commission (FTC).

    Jadi, kalau seseorang mengaku dari bank, marketplace, perusahaan, atau bahkan tim HR, lalu meminta OTP lewat DM, jangan langsung percaya. Tutup percakapan tersebut dan hubungi pihak terkait melalui kanal resmi yang kamu cari sendiri.

  2. 2. Data pribadi dan dokumen identitas

    ilustrasi orang bermain media sosial (pexels.com/cottonbro studio)
    ilustrasi orang bermain media sosial (pexels.com/cottonbro studio)

    Nama lengkap mungkin bukan sesuatu yang rahasia. Akan tetapi, ketika digabungkan dengan tanggal lahir, alamat rumah, nomor telepon, nomor identitas, atau foto dokumen, informasinya menjadi jauh lebih sensitif. Karena itu, mengirim foto KTP, paspor, SIM, kartu keluarga, atau dokumen identitas lain lewat DM sebaiknya dihindari kecuali memang ada kebutuhan yang jelas dan kanal pengirimannya resmi.

    Kamu perlu mempertanyakan siapa yang mengumpulkan informasi, untuk apa informasi tersebut digunakan, apakah informasi itu benar-benar diperlukan, dan apa konsekuensinya sebelum memberikan data pribadi. Artinya, pertanyaan "Kenapa kamu membutuhkan data ini?" justru merupakan bentuk kehati-hatian, bukan sikap paranoid.

    "Pencurian identitas dapat berupa penggunaan informasi pribadi tanpa izin, seperti nama, nomor jaminan sosial, informasi rekening bank, atau nomor kartu kredit kamu," dikutip dari Consumer Financial Protection Bureau.

    Jadi, kalau sebuah perusahaan memang membutuhkan dokumen, gunakan kanal resmi seperti portal rekrutmen, sistem HR, atau alamat email perusahaan yang dapat diverifikasi. Jangan menjadikan DM sebagai tempat utama untuk mengirim seluruh dokumen pribadi hanya karena prosesnya terasa lebih cepat.

  3. 3. Informasi rekening dan data keuangan

    ilustrasi memegang gawai dan bermain media sosial (unsplash.com/Pradamas Gifarry)
    ilustrasi memegang gawai dan bermain media sosial (unsplash.com/Pradamas Gifarry)

    Nomor rekening, nomor kartu, CVV, foto kartu debit atau kredit, hingga informasi transaksi sebaiknya tidak dikirim sembarangan melalui DM. Bahkan jika seseorang mengaku sebagai klien dan mengatakan ingin melakukan pembayaran, kamu tetap perlu memastikan identitas dan prosedurnya terlebih dahulu.

    Consumer Financial Protection Bureau menjelaskan bahwa phishing merupakan modus ketika seseorang menyamar sebagai bisnis atau orang tertentu untuk membuat korban memberikan informasi pribadi, termasuk password, nomor kartu kredit, atau informasi rekening bank. Jadi, pesan yang terlihat profesional belum tentu berasal dari orang yang benar-benar profesional.

    "Dalam phishing, pelaku penipuan menyamar sebagai perusahaan atau individu tertentu untuk mengelabui kamu agar memberikan informasi pribadi, seperti kata sandi, nomor kartu kredit, atau informasi rekening bank. Pelaku dapat menggunakan email, pesan teks, atau situs web palsu untuk mencuri informasi tersebut dari kamu. Email-email ini bisa tampak sangat meyakinkan," jelasnya.

  4. 4. Rahasia perusahaan, data klien, dan informasi internal

    ilustrasi bermain media sosial (unsplash.com/ROBIN WORRALL)
    ilustrasi bermain media sosial (unsplash.com/ROBIN WORRALL)

    Profesional di internet juga berarti tahu kapan harus menjaga informasi milik orang lain. Screenshot percakapan klien, proposal yang belum dipublikasikan, data pelanggan, strategi bisnis, dokumen kantor, atau masalah internal perusahaan sebaiknya tidak dikirim ke DM pribadi tanpa izin.

    "Tidak ada bentuk komunikasi dengan klien yang dijamin 100 persen bersifat pribadi. Percakapan bisa saja terdengar oleh orang lain, surel dapat terkirim ke penerima yang salah, dan pembicaraan telepon bisa didengarkan oleh pihak lain," jelas Stephen Behnke, PhD, JD, direktur Ethics Office American Psychological Association (APA) yang menekankan bahwa komunikasi digital memiliki risiko terhadap privasi dan kerahasiaan.

    "Kita bisa dengan mudah kurang menyadari kemungkinan bocornya informasi saat menggunakan sarana komunikasi ini karena kita begitu sering memanfaatkannya dalam kehidupan sosial sehari-hari," tambahnya.

    Masalahnya bukan hanya apakah penerima DM dapat dipercaya. Informasi tersebut bisa saja tersimpan dalam perangkat, diteruskan kepada orang lain, atau diambil melalui screenshot. Jadi, biasakan bertanya sebelum mengirim: "Apakah informasi ini memang boleh dibagikan?" Jika jawabannya tidak jelas, jangan kirim. Dalam dunia kerja, kemampuan menjaga rahasia sering kali sama pentingnya dengan kemampuan berkomunikasi.

  5. 5. Curhatan emosional atau pesan yang bisa merusak reputasi

    ilustrasi seseorang yang sedang bermain media sosial (pexels.com/Karolina Grabowska)
    ilustrasi seseorang yang sedang bermain media sosial (pexels.com/Karolina Grabowska)

    Hal terakhir yang perlu kamu pikirkan sebelum dikirim lewat DM adalah pesan emosional yang ditulis ketika sedang marah, kecewa, atau frustrasi. Mengeluh tentang atasan, menghina rekan kerja, membicarakan klien, atau mengirim komentar kasar mungkin terasa aman karena dilakukan melalui pesan pribadi. Namun, DM tetap bisa berubah menjadi bukti yang keluar dari konteks.

    "Jika kamu berbagi informasi mengenai topik-topik sensitif secara daring, kamu berisiko dikritik, menjadi sasaran trolling, dan menerima ancaman," saran psikolog New York University, Jay Van Bavel, PhD, dikutip dari American Psychological Association.

    Bukan berarti kamu tidak boleh bercerita atau mengungkapkan perasaan. Namun, untuk hal yang menyangkut pekerjaan, reputasi, konflik, atau orang lain, lebih baik beri jeda sebelum mengirim. Kalau sedang emosi, tulis dulu di catatan pribadi, baca ulang beberapa saat kemudian, lalu tanyakan: "Kalau pesan ini di-screenshot dan dibaca orang lain, apakah aku masih nyaman?"

     

    Profesional di internet bukan berarti setiap DM harus kaku dan formal. Intinya adalah memahami bahwa komunikasi digital memiliki jejak dan risiko yang berbeda dari percakapan tatap muka. Password, OTP, data identitas, informasi finansial, rahasia pekerjaan, serta pesan emosional adalah lima hal yang sebaiknya kamu pikirkan berkali-kali sebelum dikirim.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More