Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

4 Cara Mengatasi Cemas dengan Berita Erupsi Gunung, BIkin Anxiety

4 Cara Mengatasi Cemas dengan Berita Erupsi Gunung, BIkin Anxiety
ilustrasi cara mengatasi cemas dengan berita erupsi gunung (pexels.com/Jobert Enamno)
Share Article

Suara gemuruh dari perut bumi mendadak terdengar dan sukses bikin jantung kamu berdegup kencang gak karuan. Pikiran langsung melayang ke mana-mana, membayangkan skenario terburuk yang bikin tangan dingin dan susah napas. Kecemasan seperti ini merupakan respons yang sangat valid saat mencoba mengatasi cemas dengan berita erupsi gunung di tengah situasi yang gak pasti.

Kalau rasa cemas ini dibiarkan terus-menerus tanpa penanganan yang tepat, tubuhmu bakal kehabisan energi duluan sebelum benar-benar menghadapi situasi darurat. Kamu jadi susah fokus, gampang lelah secara mental, dan malah bikin keputusan yang kurang rasional saat butuh ketenangan. Padahal, pikiran yang jernih jadi modal utama untuk tetap selamat dan siaga menghadapi segala kemungkinan. Yuk, segera atasi cemas letusan gunung dengan empat cara ini!

  1. 1. Kenali fakta zona aman dan radius bahaya

    Seorang perempuan menggunakan laptop untuk mencari informasi akurat melalui situs web resmi yang kredibel.
    ilustrasi mencari data informasi yang akurat di website resmi yang kredibel (pexels.com/RDNE Stock project )

    Mencari tahu informasi yang valid mengenai radius bahaya dari pusat erupsi jadi langkah awal untuk meredam pikiran liar. Jangan langsung percaya sama potongan video atau informasi dari grup WhatsApp keluarga yang sumbernya gak jelas juntrungannya. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) selalu merilis data resmi tentang status aktivitas gunung beserta zona steril yang harus dihindari. Dengan memahami batasan jarak tersebut, kamu jadi tahu apakah posisimu saat ini benar-benar berada di area yang aman atau perlu bersiap evakuasi. 

    Informasi yang akurat bekerja seperti rem darurat buat kepalamu yang lagi membayangkan bencana yang menakutkanl. Kalau ternyata rumahmu berada di luar radius bahaya yang ditetapkan, tarik napas dalam-dalam dan sadari kalau kamu masih punya ruang yang aman. Jangan malah sibuk mengecek timeline media sosial setiap detik yang isinya bikin kamu tambah panik, ya.


  2. 2. Terapkan teknik box breathing untuk stabilkan detak jantung

    Ilustrasi seseorang melakukan teknik pernapasan box breathing untuk mengatur napas secara perlahan dan teratur.
    ilustrasi melakukan teknik pernapasan box breathing (pexels.com/Anna Tarazevich)

    Saat rasa cemas melanda, sistem saraf simpatik langsung aktif dan memicu respons fight or flight yang bikin napas jadi pendek-pendek. Teknik pernapasan kotak atau box breathing bisa jadi penyelamat instan buat mereset sistem sarafmu agar kembali rileks. Caranya dengan menarik napas selama empat detik, tahan selama empat detik, buang perlahan selama empat detik, lalu tahan lagi selama empat detik. Lakukan siklus ini beberapa kali sampai kamu merasakan sensasi lega di dada dan detak jantung berangsur normal. 

    Meski terdengar sepele, teknik sederhana ini terbukti secara medis mampu menurunkan kadar hormon kortisol yang memicu stres berlebih di dalam tubuh, lho. Ketika oksigen kembali mengalir lancar ke otak, kemampuan berpikir logismu otomatis pulih dan gak gampang tersulut panik. Jadi, lain kali kalau dada mulai terasa sesak tiap dengar suara gemuruh, jangan lupa tiup napasmu pelan-pelan, ya.


  3. 3. Batasi paparan berita di media sosial

    Ilustrasi tentang membatasi media sosial untuk mengurangi penggunaan platform digital dalam keseharian.
    ilustrasi membatasi media sosial (pexels.com/Wolfs Rib)

    Terlalu sering scroll lini masa yang penuh dengan video dramatis erupsi justru bakal memperparah kondisi mentalmu secara drastis, lho. Algoritma media sosial memang dirancang untuk menampilkan konten yang memancing emosi, termasuk rasa takut dan kecemasan yang mendalam. Cukup tetapkan batasan waktu untuk memantau berita, misalnya hanya sekali dalam beberapa jam lewat kanal resmi instansi berwenang, ya. Setelah itu, tutup aplikasinya dan alihkan perhatian ke hal-hal yang lebih nyata di sekitarmu agar pikiran gak terus-menerus teraduk.

    Informasi itu penting, tapi kalau dikonsumsi berlebihan malah berubah jadi racun yang bikin kamu stres sendiri di kamar. Jadi, daripada kepo sama komentar netizen yang suka kompor, mending alihkan energi buat merapikan tas siaga bencana di pojok kamar, ya.


  4. 4. Lakukan grounding method agar kembali fokus ke masa kini

    Ilustrasi praktik grounding sebagai cara menenangkan diri dan kembali fokus pada kondisi saat ini.
    ilustrasi grounding (pexels.com/Anna Keibalo)

    Kecemasan berlebih kerap bikin pikiranmu melompat jauh ke masa depan yang penuh ketidakpastian dan ancaman abstrak. Metode grounding hadir sebagai jangkar yang menarik kembali kesadaranmu ke detik ini melalui panca indera yang berfungsi normal. Cukup sebutkan dalam hati lima benda yang bisa kamu lihat, empat hal yang bisa disentuh, tiga suara yang terdengar, dua bau yang tercium, dan satu rasa di lidah. Latihan kecil ini terbukti efektif mengalihkan fokus otak dari rasa takut yang semu ke realitas fisik di sekitarmu, lho.

    Teknik psikologis ini kelihatannya kayak permainan anak-anak, tapi efeknya beneran manjur untuk menjinakkan pikiran yang lagi kalut. Jadi, kalau mulai merasa melayang karena kepanikan, langsung aktifkan radar pancainderamu biar napas kembali teratur dan pikiran lebih tenang, ya. Setidaknya, cara ini bikin kamu tetap waras dan siap menghadapi situasi apa pun dengan kepala dingin tanpa harus kehilangan kendali.

    Mengatasi cemas dengan berita erupsi gunung memang bukan hal yang instan, tapi dengan langkah-langkah kecil tadi, pikiranmu bakal jauh lebih siap menghadapi situasi darurat apa pun. Ingatlah bahwa panik gak pernah menyelesaikan masalah, melainkan hanya menambah daftar beban mental yang harus kamu pikul sendirian, lho. So, tetap waspada, jaga kewarasan, dan semoga kita semua selalu dalam lindungan-Nya. Aamiin.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team
Atqo Sy
EditorAtqo Sy

Related Articles

See More