ilustrasi seseorang yang sedang bermain media sosial (pexels.com/Karolina Grabowska)
Hal terakhir yang perlu kamu pikirkan sebelum dikirim lewat DM adalah pesan emosional yang ditulis ketika sedang marah, kecewa, atau frustrasi. Mengeluh tentang atasan, menghina rekan kerja, membicarakan klien, atau mengirim komentar kasar mungkin terasa aman karena dilakukan melalui pesan pribadi. Namun, DM tetap bisa berubah menjadi bukti yang keluar dari konteks.
"Jika kamu berbagi informasi mengenai topik-topik sensitif secara daring, kamu berisiko dikritik, menjadi sasaran trolling, dan menerima ancaman," saran psikolog New York University, Jay Van Bavel, PhD, dikutip dari American Psychological Association.
Bukan berarti kamu tidak boleh bercerita atau mengungkapkan perasaan. Namun, untuk hal yang menyangkut pekerjaan, reputasi, konflik, atau orang lain, lebih baik beri jeda sebelum mengirim. Kalau sedang emosi, tulis dulu di catatan pribadi, baca ulang beberapa saat kemudian, lalu tanyakan: "Kalau pesan ini di-screenshot dan dibaca orang lain, apakah aku masih nyaman?"
Profesional di internet bukan berarti setiap DM harus kaku dan formal. Intinya adalah memahami bahwa komunikasi digital memiliki jejak dan risiko yang berbeda dari percakapan tatap muka. Password, OTP, data identitas, informasi finansial, rahasia pekerjaan, serta pesan emosional adalah lima hal yang sebaiknya kamu pikirkan berkali-kali sebelum dikirim.