4 Hal yang Dirasakan Anak Saat Melihat Orangtuanya Bertengkar

- Anak yang sering menyaksikan pertengkaran orangtua dapat mengalami kecemasan berkepanjangan, rasa takut, gangguan tidur, penurunan nafsu makan, serta keluhan fisik akibat emosi yang dipendam.
- Anak kecil berisiko menganggap konflik orangtua sebagai kesalahannya sendiri. Tanpa penjelasan, rasa bersalah dapat menurunkan kepercayaan diri dan membuat mereka merasa tidak layak dicintai.
- Paparan konflik terus-menerus dapat membuat anak meniru komunikasi agresif, merasa diabaikan, sulit membangun relasi sehat, menarik diri, dan mengalami hambatan perkembangan emosional jangka panjang.
Pertengkaran antara orangtua merupakan hal yang sering tidak terhindarkan dalam kehidupan rumah tangga, apalagi jika hal ini semakin diperberat dengan beban kehidupan yang sedang tinggi. Namun, sebetulnya konflik yang terjadi terus-menerus dan disaksikan secara langsung oleh anak justru akan meninggalkan bekas yang mendalam untuk jangka panjang, bahkan bisa memengaruhi tumbuh kembang anak.
Anak-anak biasanya belum memiliki kemampuan emosional untuk bisa memahami perbedaan dan juga pendapat dengan cara yang lebih dewasa seperti halnya orang dewasa. Tidak heran jika pada saat anak menyaksikan pertengkaran di rumah, maka mereka akan rentan merasa bingung takut atau bahkan tumbuh dengan luka psikologis yang tersembunyi. Oleh sebab itu, pahamilah beberapa hal berikut ini yang mungkin akan dirasakan oleh anak ketika terlalu sering melihat orangtuanya bertengkar.
1. Rasa cemas dan takut yang berkepanjangan

ilustrasi sedih (unsplash.com/mohamad azaam) Anak yang sering melihat orangtuanya bertengkar tentu akan rentan mengalami kecemasan tersendiri yang cenderung berlebihan, sebab mereka tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Bukan tidak mungkin anak akan merasa tidak aman ketika berada di rumah yang semestinya bisa menjadi tempat ideal untuk perlindungan dan juga kenyamanannya.
Kecemasan bisa saja memicu adanya gangguan tidur, penurunan nafsu makan, hingga keluhan fisik, seperti sakit kepala atau sakit perut tanpa adanya alasan yang jelas. Rasa takut tersebut biasanya dikarenakan emosi yang dipendam dan anak tidak tahu harus berbicara pada siapa atau pun bagaimana menjelaskannya sehingga terus menumpuk.
2. Merasa bersalah dan menyalahkan diri sendiri

ilustrasi anak sedang sedih (unsplash.com/Jim Luo) Banyak anak terutama yang masih kecil biasanya akan merasa bahwa pertengkaran yang terjadi antara orangtuanya diakibatkan karena mereka. Hal ini karena mereka belum mampu memisahkan antara konflik orang dewasa dengan keberadaan diri mereka di dalam keluarga sehingga inilah yang bisa memicu kesalahpahaman.
Perasaan bersalah ternyata bisa tumbuh menjadi beban emosional yang terasa berat, terutama jika orangtua tidak menjelaskan bahwa masalah tersebut tidak diakibatkan oleh anak. Anak bisa saja tumbuh menjadi pribadi yang tidak percaya diri atau bahkan merasa tidak pantas memeroleh kasih sayang yang semestinya.
3. Meniru pola komunikasi yang negatif

ilustrasi anak marah (pexels.com/mohamed abdelghaffar) Anak-anak belajar dengan cara mengamati kondisi lingkungan yang ada di sekitarnya dan jika mereka tumbuh di lingkungan yang penuh dengan pertengkaran, maka mereka akan menganggap bahwa hal tersebut adalah sesuatu yang normal. Mereka mungkin saja akan meniru pola komunikasi secara agresif dan defensif yang pada umumnya diperlihatkan oleh orangtuanya sendiri.
Untuk jangka panjang tentunya anak akan rentan mengalami kesulitan dalam membangun hubungan yang sehat, sebab tidak memiliki contoh komunikasi yang baik di dalam keluarganya. Hal ini jelas dapat membawa dampak buruk terhadap relasi sosial mereka di sekolah, pertemanan, hingga ketika mereka tumbuh dewasa dan berusaha menjalin hubungan sendiri.
4. Merasa tidak dicintai dan terabaikan

ilustrasi broken home (pexels.com/cottonbro studio) Pada saat orangtua terlalu sibuk dengan konflik, maka anak akan rentan merasa diabaikan secara emosional karena kebutuhan yang mereka miliki tidak terpenuhi dengan baik. Mereka mungkin merasa tidak diperhatikan karena fokus utama orangtua hanya pada pertengkaran yang sedang berlangsung, sehingga tidak terfokus pada kenyamanan yang dimiliki anak.
Perasaan tidak dicintai ini justru bisa menyebabkan anak rentan menarik diri, sulit mempercayai orang lain, hingga merasa kesepian, meski berada dalam satu rumah yang sama. Akibat dari hal ini akan membuat anak rentan mengalami gangguan perkembangan emosional yang semakin sulit disembuhkan apabila tidak ditangani sejak dini.
Pertengkaran orangtua memang bisa terjadi kapan pun, namun penting untuk disadari bahwa anak-anak merupakan penonton yang sangat peka terhadap setiap perubahan emosi yang ada di rumah. Dampaknya bukan hanya sesaat, namun bisa semakin membekas untuk jangka panjang dan memengaruhi kepribadian anak di masa depan. Sebagai orangtua tentunya penting untuk menjaga keharmonisan di depan anak dan mengelola konflik dengan cara yang lebih sehat.





















