"Misinformasi tidak hanya dapat menimbulkan dampak buruk secara langsung, misalnya terhadap kesehatan fisik masyarakat atau hasil pemilihan umum. Namun, hal itu juga dapat mengikis kepercayaan kita satu sama lain, kepercayaan terhadap masyarakat, serta kepercayaan terhadap berbagai institusi kita," kata psikolog sosial dari University of Cambridge, Sander van der Linden, PhD, dikutip dari American Psychological Association (APA).
Internet Heboh, Kamu Gak Harus Ikut Heboh: Cara Jaga Critical Thinking

- Viralitas dan engagement bukan bukti kebenaran; pengguna perlu memeriksa sumber awal, bukti, serta verifikasi dari sumber lain sebelum mempercayai klaim.
- Konten yang memicu marah, takut, jijik, atau terkejut perlu disikapi dengan jeda agar tidak langsung dibagikan atau dijadikan dasar kesimpulan.
- Berpikir kritis mencakup kesediaan mengubah pendapat berdasarkan bukti baru dan memilih untuk tidak berkomentar atau membagikan informasi yang belum jelas.
Di era media sosial, sesuatu bisa berubah menjadi pembicaraan besar hanya dalam hitungan menit. Satu unggahan di Threads bisa memicu ribuan balasan, kemudian berpindah ke TikTok, Instagram, X, atau grup chat sebelum orang sempat memastikan apakah informasi awalnya benar. Akibatnya, kita sering merasa harus ikut berkomentar hanya karena semua orang sedang membicarakannya.
Masalahnya, ramai atau viral bukan berarti benar. Banyaknya orang yang mengulang sebuah klaim juga tidak otomatis membuat klaim tersebut menjadi fakta. Di tengah arus informasi yang cepat, critical thinking menjadi ‘rem’ agar kita tidak langsung percaya, marah, membagikan, atau menghakimi hanya karena timeline sedang heboh.
1. Bedakan "banyak yang bilang" dengan "memang benar"

ilustrasi bermain media sosial (pexels.com/Andrea Piacquadio) Salah satu jebakan paling umum di media sosial adalah menganggap popularitas sebagai bukti kebenaran. Ketika sebuah unggahan mendapatkan ribuan likes dan komentar, otak kita bisa terdorong untuk menganggap informasi tersebut lebih kredibel. Padahal, jumlah engagement menunjukkan seberapa banyak orang berinteraksi dengan konten, bukan seberapa akurat isinya.
Karena itu, ketika sebuah topik sedang viral di Threads, jangan menjadikan "semua orang ngomongin ini" sebagai alasan untuk langsung percaya. Coba balik pertanyaannya menjadi: siapa yang pertama kali menyampaikan informasi ini, apa buktinya, dan apakah ada sumber lain yang bisa memverifikasinya?
2. Jangan langsung ikut emosi di timeline

ilustrasi bermain media sosial hingga larut malam (pexels.com/mikoto.raw Photographer) Konten yang membuat marah, takut, jijik, atau terkejut biasanya terasa lebih mendesak untuk dibagikan. Inilah alasan mengapa kamu perlu berhati-hati ketika sebuah unggahan langsung membuatmu berpikir, "Gila, kok bisa?" atau "Ini harus banget diketahui semua orang!"
"Bagi saya, ini benar-benar salah satu hal terpenting yang bisa kita lakukan saat ini sebagai psikolog, mengingat bagaimana misinformasi telah menyeret sains ke ranah politik dengan cara yang sungguh mengkhawatirkan,” kata psikolog Susan Nolan, PhD, yang membahas tentang literasi sains dan misinformasi dalam wawancaranya bersama APA.
Bukan berarti kamu harus menjadi orang yang tidak peduli. Justru, beri jeda ketika emosi sedang tinggi. Tutup Threads selama beberapa menit, cari sumber lain, dan baca informasi secara utuh sebelum membuat kesimpulan.
3. Biasakan bertanya: "Sumber pertamanya apa?"

ilustrasi orang bermain media sosial (pexels.com/Ketut Subiyanto) Salah satu kebiasaan sederhana yang bisa meningkatkan critical thinking adalah mencari sumber pertama. Jangan berhenti pada screenshot, potongan video, atau unggahan seseorang yang mengatakan, "Katanya..." karena informasi tersebut mungkin sudah melewati beberapa tahap perubahan sebelum sampai ke timeline kamu.
"Seiring media sosial mendorong penyebaran informasi berdasarkan popularitas alih-alih akurasi, berita palsu tampaknya ada di mana-mana. Berita palsu terkait politik memang lebih banyak mendapat sorotan, namun berita palsu seputar sains pun kian marak bermunculan," kata Susan.
"Stanford History Education Group meneliti kerentanan siswa sekolah menengah pertama, sekolah menengah atas, dan mahasiswa terhadap misinformasi semacam itu, dan menemukan adanya kelemahan berpikir kritis yang mengejutkan di semua tingkat pendidikan (2016)," tambahnya.
Jadi, ketika membaca klaim viral, coba sedikit berpikir kritis dengan melakukan pemeriksaan sederhana. Cari nama orang atau lembaga yang disebut, buka sumber aslinya, periksa tanggal publikasinya, dan lihat apakah media kredibel atau jurnal ilmiah juga membahas hal yang sama.
4. Berani mengubah pendapat setelah mendapat bukti baru

ilustrasi bermain media sosial (freepik.com/freepik) Critical thinking bukan berarti selalu membantah orang lain. Justru, salah satu tanda bahwa seseorang berpikir kritis adalah kesediaannya mengubah pendapat ketika menemukan bukti yang lebih kuat. Ini penting di Threads karena percakapan sering berubah menjadi pertarungan "tim A versus tim B".
"Dari sisi perkembangan, remaja sangat rentan terhadap fitur-fitur media sosial yang dirancang untuk membuat pengguna terus daring-seperti likes, notifikasi push, pemutaran otomatis (autoplay), dan algoritma yang menyajikan konten ekstrem," ujar Sophia Choukas-Bradley, PhD, seorang profesor madya psikologi di University of Pittsburgh kepada APA.
"Sebagai psikolog, kita perlu membekali remaja dengan literasi digital dan keterampilan untuk menghadapi fitur-fitur rancangan ini, sembari secara bersamaan mendorong kebijakan yang mewajibkan perusahaan teknologi untuk mengubah platform mereka," sarannya.
Jadi, jangan sampai keinginan untuk terus mengikuti perdebatan membuatmu menganggap pendapat awalmu sebagai sesuatu yang harus dipertahankan mati-matian. Kemampuan mengoreksi diri justru merupakan bagian dari berpikir kritis.
5. Tidak semua hal harus kamu komentari atau bagikan

ilustrasi bermain media sosial (pexels.com/dlxmedia.hu) Di media sosial, kita sering merasa bahwa diam berarti ketinggalan. Ketika sebuah isu sedang ramai, muncul dorongan untuk ikut memberikan opini agar tidak merasa berada di luar percakapan. Padahal, kemampuan memilih kapan harus berbicara dan kapan sebaiknya menunggu juga merupakan bentuk literasi digital.
Sadarilah bahwa kamu tidak perlu merasa wajib ikut setiap keributan di Threads. Kalau informasinya belum jelas, tidak ada salahnya menunggu. Kalau topiknya bukan bidang yang kamu pahami, kamu boleh membaca tanpa berkomentar. Bahkan ketika kamu merasa sangat yakin, biasakan bertanya apakah kamu sedang membagikan informasi karena memang bermanfaat, atau sekadar ingin ikut arus.
Menjaga critical thinking di era Threads bukan berarti kamu harus selalu skeptis terhadap semua hal atau menjadi orang yang paling tahu dalam setiap percakapan. Justru, berpikir kritis berarti mampu memberi jeda sebelum percaya, mengecek sumber sebelum menyebarkan, memisahkan fakta dari opini, dan bersedia mengubah pandangan ketika bukti menunjukkan hal yang berbeda.




















