Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Kenapa Capek Scroll Berita? Ini Alasan Doomscrolling Bikin Lelah Mental

6 min read
Kenapa Capek Scroll Berita? Ini Alasan Doomscrolling Bikin Lelah Mental
Ilustrasi bermain media sosial (pexels.com/hoang anh)
Share Article

Pernah merasa ingin mengetahui kabar terbaru, tetapi setelah berlama-lama baca berita justru pikiran terasa penuh? Awalnya mungkin hanya membuka satu artikel, lalu berpindah ke unggahan lain, membaca komentar, dan mencari perkembangan terbaru. Tanpa terasa, waktu berlalu dan tubuh ikut merasa lelah meski aktivitasnya hanya menatap layar.

Kebiasaan terus-menerus mengonsumsi berita negatif ini sering disebut doomscrolling. Lantas, mengapa scroll berita bisa terasa menguras energi mental, dan bagaimana cara menguranginya?

  1. 1. Otak kita memang lebih waspada pada informasi negatif

    Ilustrasi bermain media sosial (pexels.com/Nima Ghodsi)
    Ilustrasi bermain media sosial (pexels.com/Nima Ghodsi)

    Doomscrolling adalah kebiasaan mengonsumsi informasi negatif atau mengkhawatirkan secara terus-menerus, bahkan ketika kita sudah merasa tidak nyaman. Akibatnya, keinginan untuk tetap mengetahui kabar terbaru dapat berubah menjadi kebiasaan scroll tanpa batas yang jelas.

    Kendra Cherry, MS, spesialis rehabilitasi psikososial dan pendidik bidang psikologi, menjelaskan bahwa manusia memang memiliki kecenderungan lebih memperhatikan hal-hal negatif. Hal ini disebut bias negativitas, yakni kecenderungan psikologis bawaan untuk lebih menekankan pengalaman negatif dibandingkan pengalaman positif.

    "Bias ini memengaruhi cara kita memandang dan mengingat peristiwa, serta sering kali membuat kita lebih terpaku pada pengalaman buruk, seperti kritik atau kegagalan. Memahami bias negativitas dapat membantu kita mengatasi dampaknya terhadap perilaku dan keputusan kita," jelasnya dikutip dari Verywell Mind.

    "Penelitian menunjukkan bahwa orang sering kali lebih berfokus pada peristiwa negatif dibandingkan peristiwa positif untuk memahami dunia di sekitar mereka. Belajar lebih banyak dari pengalaman negatif. Mengambil keputusan yang lebih didasarkan pada informasi negatif dibandingkan data positif," tambahnya.

    Masalahnya, otak tidak selalu membedakan antara ancaman yang perlu segera ditindaklanjuti dan informasi negatif yang hanya terus dikonsumsi dari layar. Ketika berita datang bertubi-tubi, pikiran bisa tetap berada dalam mode waspada. Inilah salah satu alasan mengapa seseorang dapat merasa lelah mental setelah membaca banyak berita, meski tidak melakukan aktivitas fisik yang berat.

  2. 2. Rasa ingin tahu membuat kita terjebak dalam siklus scroll

    Ilustrasi bermain media sosial (unsplash.com/Photo by Negar Nikkhah)
    Ilustrasi bermain media sosial (unsplash.com/Photo by Negar Nikkhah)

    Salah satu alasan doomscrolling sulit dihentikan adalah adanya rasa bahwa berita berikutnya mungkin berisi informasi penting. Namun, karena berita terus berubah dan tidak pernah benar-benar habis, pencarian informasi tersebut dapat berlangsung lebih lama daripada yang direncanakan.

    Dalam kajian mengenai doomscrolling, ketidakpastian menjadi salah satu faktor yang sering dibahas. Penelitian yang diterbitkan dalam Personality and Individual Differences pada 2025 meneliti hubungan antara kecemasan, intoleransi terhadap ketidakpastian, dan doomscrolling. Studi tersebut melibatkan 443 partisipan dan menunjukkan adanya hubungan antara kecemasan, kesulitan menghadapi ketidakpastian, serta kecenderungan doomscrolling.

    "Hasil ini memberikan wawasan mengenai bagaimana intoleransi terhadap ketidakpastian dan ketahanan psikologis memengaruhi keterkaitan antara kecemasan dan doomscrolling, serta mengindikasikan adanya peluang intervensi di tengah dunia digital yang memicu kecemasan," demikian dikutip dari ScienceDirect.

    Ketika seseorang merasa belum cukup tahu, ia mungkin terus mencari informasi dengan harapan akan mendapatkan kepastian atau rasa aman. Siklus "khawatir > mencari berita > menemukan hal yang mengkhawatirkan > semakin khawatir” inilah yang dapat membuat aktivitas sederhana terasa menguras pikiran.

  3. 3. Terlalu banyak berita bisa memicu kelelahan emosional

    Ilustrasi bermain media sosial (unsplash.com/Photo by Anton Tkachenko)
    Ilustrasi bermain media sosial (unsplash.com/Photo by Anton Tkachenko)

    Berita negatif tidak selalu berdampak sama pada setiap orang. Namun, paparan berulang terhadap kisah menyedihkan, kekerasan, bencana, atau konflik dapat memunculkan beban emosional, terutama ketika seseorang terus melihat penderitaan tanpa jeda untuk memproses perasaannya.

    Kita mungkin tidak mengalami peristiwa tersebut secara langsung, tetapi tetap bisa merasa takut, sedih, marah, atau tidak berdaya. Penelitian Sumeyye Taskin dan M. Engin Deniz yang diterbitkan dalam Journal of Community Psychology pada 2024 meneliti 400 pengguna media sosial.

    Studi yang dipublikasikan Wiley Online Library ini menemukan bahwa hubungan antara doomscrolling dan kesejahteraan mental dimediasi oleh mindfulness serta secondary traumatic stress, yaitu gejala stres yang dapat muncul akibat paparan penderitaan orang lain secara tidak langsung. Tentu penelitiannya tidak berarti setiap orang yang membaca berita negatif pasti mengalami trauma.

    Namun, temuan tersebut membantu menjelaskan mengapa paparan berita yang intens dapat terasa berat secara emosional. Jika dilakukan terus-menerus tanpa jeda, kita bisa mengalami emotional exhaustion, sulit berkonsentrasi, lebih mudah tersinggung, atau merasa dunia dipenuhi masalah yang tidak ada habisnya.

  4. 4. Doomscrolling bisa membuat dunia terasa lebih menakutkan

    Ilustrasi bermain media sosial (pexels.com/Wisnu Phaewchimplee)
    Ilustrasi bermain media sosial (pexels.com/Wisnu Phaewchimplee)

    Ketika sebagian besar informasi yang kita lihat berisi krisis, ancaman, dan kabar buruk, gambaran kita tentang dunia dapat menjadi tidak seimbang. Bukan berarti berita negatif itu tidak penting, tetapi algoritma dan kebiasaan pribadi bisa membuat kita lebih sering melihat sisi dunia yang paling mengkhawatirkan.

    Akhirnya, muncul perasaan bahwa bahaya selalu ada di mana-mana. Reza Shabahang, peneliti dari College of Education, Psychology and Social Work, Flinders University, yang memimpin studi tentang doomscrolling dan kecemasan eksistensial, menyebut paparan berita negatif terus-menerus sebagai “a source of vicarious trauma”.

    "Source of vicarious trauma kondisi di mana seseorang terdampak secara negatif meskipun tidak mengalami peristiwa traumatis tersebut secara langsung. Ketika kita terus-menerus terpapar berita dan informasi negatif secara daring, hal itu dapat menggoyahkan keyakinan kita mengenai kematian diri sendiri serta kendali yang kita miliki atas hidup kita," ujarnya kepada The Guardian.

    Meski demikian, hasilnya perlu dibaca secara hati-hati karena penelitian itu bersifat korelasional dan memiliki keterbatasan sampel. Jadi, bukan berarti doomscrolling "pasti" menyebabkan seseorang memiliki pandangan negatif terhadap dunia. Namun, kebiasaan terus-menerus terpapar informasi mengancam/negatif memang bisa memengaruhi suasana hati dan cara seseorang memandang lingkungan sekitarnya.

  5. 5. Cara mengurangi doomscrolling agar pikiran tidak terus penuh

    Ilustrasi bermain media sosial (pexels.com/hoang anh)
    Ilustrasi bermain media sosial (pexels.com/hoang anh)

    Mengurangi doomscrolling bukan berarti harus menghindari berita atau bersikap tidak peduli terhadap masalah di sekitar. Justru, tujuan utamanya adalah mengubah kebiasaan konsumsi informasi agar lebih terarah. Kamu bisa menentukan waktu khusus untuk membaca berita, memilih sumber yang kredibel, dan menghindari membuka media sosial secara otomatis setiap kali merasa bosan atau cemas.

    Joanne Orlando, pakar perilaku digital dari Western Sydney University, menyarankan agar orang lebih menyadari bagaimana berita dan media sosial memengaruhi perasaan mereka. Ia juga menyarankan untuk menunda membuka berita atau media sosial segera setelah bangun tidur.

    "Dampak jangka panjang doomscrolling terhadap kesehatan mental seseorang bisa diibaratkan dengan berada 'di dalam ruangan tempat orang-orang terus-menerus berteriak kepada kamu'. Hal itu benar-benar memengaruhi cara kamu memahami dunia dan posisi kamu di dalamnya," jelasnya kepada The Guardian.

    Jadi, selain membatasi waktu, cobalah membuat jeda setelah membaca berita yang berat. Letakkan ponsel, lakukan aktivitas yang melibatkan tubuh, berbicara dengan orang terdekat, atau beralih ke kegiatan yang membuat pikiran kembali berada pada saat ini. Jika kebiasaan tersebut mulai mengganggu tidur, pekerjaan, hubungan sosial, atau memicu kecemasan yang sulit dikendalikan, pertimbangkan untuk berkonsultasi dengan psikolog atau tenaga profesional kesehatan mental.

    Doomscrolling bisa terasa melelahkan karena kita tidak hanya membaca informasi, tetapi juga terus memproses ancaman, ketidakpastian, dan emosi yang menyertainya. Mengikuti berita tetap penting, tetapi kamu tidak harus memiliki batasan dan kontrol diri.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More