Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
IDN Time Xplore (Tim LASKANA_SMA NEGERI 1 KERSANA)

Salam kreatif untuk generasi digital!

Kami dari tim LASKANA, SMA Negeri 1 Kersana, hadir mempersembahkan karya bertema "Tren dan Budaya Pop: Membangun Generasi Digital yang Kreatif, Kritis, dan Berbudaya" dengan membawa semangat CABE (Cakap, Aman, Budaya, dan Etika Digital).

Melalui karya ini, kami mengajak generasi muda untuk tidak sekadar mengikuti arus tren, tetapi juga mampu memilah informasi, menggunakan teknologi secara bijak, serta menjaga identitas budaya di tengah perkembangan zaman. Sebab, menjadi bagian dari dunia digital bukan hanya tentang mengikuti hal yang sedang populer, melainkan juga tentang menciptakan perubahan positif dan meninggalkan jejak yang berarti.

Tim redaksi kami terdiri dari:

• Guru pendamping: Citra Riyana, S.Pd.

• Penulis: Alzenna Cetta Fidelya Ahmad, Demas Raikhan Nurratman

• Desainer visual: Aesty Faradisa Afghani, Rohadatu Rifana

• Videografer: Hendri Marhaenudin, Muhammad Shalahudin Aliy

Bersama LASKANA, mari jadikan tren sebagai inspirasi, budaya sebagai identitas, dan etika sebagai pedoman dalam menjelajahi dunia digital!

Karya ini dibuat untuk keperluan kompetisi Mading Digital IDN Times Xplore 2026. Mading ini ditampilkan apa adanya tanpa proses penyuntingan oleh redaksi IDN Times.

Esai

IDN Time Xplore (Tim LASKANA_SMA NEGERI 1 KERSANA)

Bayangkan suatu pagi ketika kamu membuka media sosial. Sebuah tarian sedang viral, lagu baru terdengar di mana-mana, dan gaya berpakaian seorang selebritas mulai ditiru banyak orang. Tanpa sadar, kamu ikut menonton, mencoba, bahkan merasa takut tertinggal jika tidak mengikuti tren tersebut. Inilah gambaran kehidupan generasi muda di era digital, ketika tren dan budaya pop berkembang cepat dan memengaruhi kehidupan sehari-hari.

Dahulu, masyarakat mengenal budaya pop melalui televisi, radio, dan majalah. Kini, internet dan media sosial membuat musik, film, game, hingga trend fashion menyebar dalam hitungan detik. Setiap orang bukan lagi sekadar penonton, melainkan juga pencipta dan penyebar trend. Perubahan ini membuka peluang besar, tetapi juga menghadirkan tantangan yang perlu disikapi dengan bijaksana.

Perkembangan tersebut terlihat dari meningkatnya penggunaan internet di Indonesia. Berdasarkan data yang ditampilkan dalam infografik Literasi Digital Indonesia, persentase pengguna internet tercatat sebesar 49,9% pada 2024 dan meningkat menjadi 50,2% pada 2025 dan meningkatkan lagi menjadi 62,9%. Angka ini menunjukkan semakin luasnya penggunaan teknologi dalam kehidupan masyarakat. Media digital kini menjadi tempat mencari informasi, menikmati hiburan, berkomunikasi, bahkan memperkenalkan kebudayaan.

Budaya pop juga menjadi jembatan untuk mengenal budaya dari berbagai negara. Fenomena Korean Wave, anime Jepang, dan musik internasional memperlihatkan bagaimana budaya dapat melintasi batas negara. Kita dapat mengenal kebiasaan masyarakat lain tanpa harus meninggalkan identitas sendiri. Batik, wayang, tari tradisional, kuliner daerah, dan bahasa lokal pun dapat diperkenalkan kepada dunia melalui konten digital yang kreatif.

Namun, tidak semua tren membawa manfaat. Bayangkan seorang remaja yang merasa kurang percaya diri karena tidak mengikuti gaya berpakaian yang sedang populer. Ia melihat teman-temannya mengikuti tren tertentu, lalu merasa harus melakukan hal yang sama agar tidak dianggap ketinggalan zaman. Perasaan takut tertinggal dari pengalaman orang lain ini dikenal sebagai Fear of Missing Out (FOMO). Jika dibiarkan, FOMO dapat membuat seseorang terlalu bergantung pada pengakuan orang lain dan melupakan jati dirinya.

Tantangan lainnya adalah penyebaran berita palsu atau hoaks. Sebuah video yang terlihat meyakinkan belum tentu menunjukkan kejadian sebenarnya. Bahkan, kecerdasan artifisial atau Artificial Intelligence (AI) dapat menghasilkan gambar, suara, dan video yang menyerupai kenyataan. Karena itu, kita perlu memeriksa sumber informasi sebelum mempercayai atau membagikannya.

Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) turut menyoroti pentingnya literasi digital dalam menghadapi perkembangan teknologi. Melalui publikasi mengenai algoritma media sosial dan disinformasi, Komdigi mengingatkan masyarakat agar lebih kritis terhadap informasi yang diterima. Sementara itu, Status Literasi Digital Indonesia 2022 dan Laporan Kinerja Kementerian Komunikasi dan Digital Tahun 2024 menjadi rujukan untuk memahami perkembangan literasi digital serta upaya pemerintah dalam mendukung pemanfaatan teknologi.

Salah satu konsep penting dalam literasi digital adalah empat pilar CABE, yaitu Cakap Digital, Aman Digital, Budaya Digital, dan Etika Digital. Cakap Digital mengajarkan kita menggunakan teknologi secara tepat. Aman Digital mengingatkan pentingnya menjaga data pribadi. Budaya Digital mendorong kita mempertahankan nilai kebangsaan, sedangkan Etika Digital mengajarkan kita menghormati orang lain saat berinteraksi di internet. Prinsip-prinsip ini juga dibahas dalam materi literasi digital yang diterbitkan pemerintah.

Bayangkan jika setiap remaja menerapkan keempat pilar tersebut. Mereka tidak langsung mempercayai berita viral, tidak sembarangan membagikan informasi pribadi, dan tidak menggunakan media sosial untuk merendahkan orang lain. Sebaliknya, mereka memanfaatkan teknologi untuk belajar, berdiskusi, serta menghasilkan karya yang bermanfaat. Dengan begitu, ruang digital dapat menjadi tempat yang lebih aman dan positif.

Selain menjadi sarana hiburan, trend juga membuka peluang ekonomi kreatif. Banyak anak muda menggunakan media sosial untuk mempromosikan produk, menjual karya seni, membuat animasi, dan memperkenalkan makanan khas daerah. Misalnya, seorang pelajar membuat video singkat tentang batik di daerahnya. Jika dikemas secara menarik, video tersebut dapat menjangkau banyak orang sekaligus menumbuhkan ketertarikan terhadap budaya lokal.

Hal ini membuktikan bahwa mengikuti perkembangan zaman tidak berarti meninggalkan tradisi. Budaya lokal dapat berjalan berdampingan dengan teknologi melalui kreativitas generasi muda. Warisan bangsa bukan sesuatu yang harus dilupakan, melainkan dapat dikembangkan agar tetap menarik bagi masyarakat modern.

Pada akhirnya, trend dan budaya pop akan terus berubah seiring perkembangan teknologi. Kita tidak harus mengikuti semuanya untuk dianggap modern, tetapi juga tidak perlu menolak semua trend demi mempertahankan budaya. Hal terpenting adalah kemampuan memilih, memahami, dan memanfaatkannya secara bertanggung jawab.

Generasi muda memiliki kesempatan menjadi lebih dari sekadar konsumen budaya global. Dengan kreativitas, pemikiran kritis, dan etika digital, kita dapat menciptakan tren yang bermanfaat bagi masyarakat. Mari menjadikan media sosial sebagai ruang untuk berkarya, memperkenalkan budaya Indonesia, dan menyebarkan inspirasi. Sebab, trend boleh berubah mengikuti zaman, tetapi budaya dan jati diri bangsa harus tetap berakar.

Ruang Kreasi 1 - Infografik

IDN Time Xplore (Tim LASKANA_SMA NEGERI 1 KERSANA)
IDN Time Xplore (Tim LASKANA_SMA NEGERI 1 KERSANA)

Ruang Kreasi 2 - Contoh Tren Dan Budaya Pop

IDN Time Xplore (Tim LASKANA_SMA NEGERI 1 KERSANA)
IDN Time Xplore (Tim LASKANA_SMA NEGERI 1 KERSANA)
IDN Time Xplore (Tim LASKANA_SMA NEGERI 1 KERSANA)
IDN Time Xplore (Tim LASKANA_SMA NEGERI 1 KERSANA)

Rubrik Diskusi 1

IDN Time Xplore (Tim LASKANA_SMA NEGERI 1 KERSANA)

Rubrik Diskusi 2

IDN Time Xplore (Tim LASKANA_SMA NEGERI 1 KERSANA)

Saatnya Generasi Digital Berkarya!

Trend boleh berubah, teknologi terus berkembang, tetapi budaya dan jati diri bangsa harus tetap terjaga. Melalui semangat CABE (Cakap, Aman, Budaya, dan Etika Digital), mari jadikan dunia digital sebagai ruang untuk berkarya, berbagi inspirasi, dan melestarikan budaya Indonesia. Jangan hanya menjadi pengikut tren, tetapi jadilah pencipta perubahan yang membawa manfaat. Gunakan teknologi dengan bijak, berpikir kritis, dan tetap bangga terhadap budaya sendiri. Karena generasi hebat bukan sekadar mengikuti zaman, melainkan mampu membawa nilai budaya menuju masa depan.

"Tren berubah, budaya tetap berakar!"

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article