Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Kenapa Unggahan Religius Sering Jadi Tameng Sikap Buruk?

6 min read
Kenapa Unggahan Religius Sering Jadi Tameng Sikap Buruk?
ilustrasi media sosial (pexels.com/cottonbro studio)
  • Unggahan religius dapat dipakai untuk mempertahankan citra baik meski perilaku sehari-hari merugikan orang lain, termasuk sebagai pembenaran atas kesalahan melalui moral licensing.
  • Nasihat agama tentang memaafkan atau ikhlas bisa dialihkan untuk menghindari tanggung jawab, membungkam pihak yang terluka, dan menggeser fokus dari tindakan pelaku.
  • Media sosial memungkinkan pembentukan narasi sebagai korban serta pengalihan perhatian dari tindakan nyata; perubahan tulus ditunjukkan lewat pengakuan salah, perbaikan, dan penerimaan konsekuensi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Ada orang yang begitu rajin membagikan kutipan tentang menjaga lisan, tetapi tidak pernah merasa bersalah setelah merendahkan orang lain. Ada pula yang gemar mengunggah pesan tentang larangan menyakiti sesama, sementara permintaan maaf kepada orang yang pernah dilukainya tidak kunjung diberikan.

Kontradiksi semacam ini membuat unggahan religius terkadang terasa bukan lagi sebagai pengingat untuk memperbaiki diri, melainkan bagian dari citra yang ingin diperlihatkan kepada publik. Agama seolah hanya hadir dalam kata-kata yang dibagikan, tetapi tidak ditemukan dalam cara seseorang memperlakukan orang lain. Sebenarnya, kenapa unggahan religius sering jadi tameng sikap buruk seseorang, ya?

  1. 1. Citra religius ingin dipertahankan meski perilaku tidak mencerminkannya

    ilustrasi  religius
    ilustrasi religius (pexels.com/MART PRODUCTION)

    Bagi sebagian orang, identitas sebagai pribadi yang religius menjadi bagian penting dari cara mereka ingin dipandang oleh lingkungan. Kesan tersebut bisa dibangun melalui unggahan kutipan ayat, nasihat tentang akhlak, dokumentasi kegiatan ibadah, hingga pesan mengenai pentingnya menjaga hubungan dengan sesama. Masalah muncul ketika citra yang ditampilkan tidak sejalan dengan perilaku sehari-hari, misalnya kebiasaan merendahkan orang lain, mengingkari janji, menyebarkan kebohongan, atau memperlakukan seseorang secara tidak adil. Perhatian terhadap penampilan religius akhirnya lebih besar daripada keinginan untuk memperbaiki sikap yang sebenarnya telah menyakiti orang lain.

    Kondisi ini dapat dikaitkan dengan moral licensing, yaitu kecenderungan seseorang menggunakan tindakan atau identitas yang dianggap baik sebagai pembenaran untuk perilaku lain yang kurang etis. Dalam konteks tertentu, seseorang bisa merasa telah melakukan cukup banyak hal baik sehingga kesalahan yang dilakukannya terasa lebih mudah untuk dimaklumi. Unggahan religius kemudian dapat digunakan untuk memperkuat kesan bahwa dirinya merupakan orang baik, meskipun persoalan yang melibatkan orang lain belum pernah diselesaikan. Padahal, penilaian terhadap akhlak seseorang tidak cukup hanya didasarkan pada pesan yang dibagikan, tetapi juga perlu dilihat dari bagaimana ia memperlakukan orang lain ketika tidak sedang disaksikan banyak orang.

  2. 2. Nasihat agama digunakan untuk menghindari pembicaraan tentang kesalahan

    ilustrasi berbuat kesalahan
    ilustrasi berbuat kesalahan (pexels.com/Timur Weber)

    Pernah melihat seseorang yang ketika diminta bertanggung jawab justru membalas dengan nasihat tentang memaafkan? Situasi seperti ini bisa terjadi ketika pembicaraan mengenai tindakan yang merugikan orang lain sengaja dialihkan menjadi persoalan moral yang lebih umum. Pihak yang meminta penjelasan justru diingatkan agar tidak menyimpan dendam, belajar ikhlas, berhenti mengungkit masa lalu, atau tidak memperpanjang masalah. Pembicaraan yang semula berfokus pada kebohongan, pengkhianatan, maupun perlakuan buruk akhirnya berubah menjadi seolah-olah persoalan utamanya adalah ketidakmampuan korban untuk memaafkan.

    Nasihat tentang memaafkan tentu memiliki tempat dalam kehidupan beragama, tetapi penggunaannya tidak boleh dijadikan alasan untuk menghindari tanggung jawab. Memaafkan merupakan proses yang tidak bisa dipaksakan kepada orang yang sedang terluka, sedangkan permintaan maaf seharusnya disertai pengakuan atas tindakan dan kesediaan memperbaiki dampaknya. Seseorang tidak bisa menuntut orang lain segera berdamai hanya karena dirinya sudah merasa ingin melanjutkan hidup tanpa membicarakan kesalahan yang pernah dilakukan. Ketika nasihat agama terus digunakan untuk membungkam pihak yang dirugikan, pesan yang seharusnya membawa kebaikan justru dapat berubah menjadi alat untuk mempertahankan ketidakadilan.

  3. 3. Posisi sebagai korban dibangun agar mendapatkan simpati

    ilustrasi simpati
    ilustrasi simpati (.pexels.com/SHVETS production)

    Unggahan religius terkadang juga digunakan untuk membentuk cerita bahwa seseorang sedang menghadapi perlakuan buruk dari lingkungan sekitarnya. Kalimat tentang ujian hidup, fitnah, orang-orang yang iri, atau kesabaran menghadapi kezaliman bisa dibagikan tanpa menjelaskan kejadian yang sebenarnya. Orang-orang yang melihat unggahan tersebut mungkin akan memberikan dukungan karena mengira pemilik akun sedang mengalami masalah berat. Situasinya menjadi rumit ketika pihak yang benar-benar disakiti justru tidak mengetahui bahwa dirinya sedang digambarkan sebagai sumber penderitaan orang lain.

    Pola tersebut memiliki kaitan dengan perilaku victim playing atau play victim, yaitu ketika seseorang menempatkan dirinya sebagai korban untuk menghindari tanggung jawab atau memperoleh simpati. Cerita yang disampaikan biasanya hanya memperlihatkan bagian yang menguntungkan dirinya, sedangkan tindakan yang menjadi awal konflik tidak ikut dibicarakan. Bahkan, kritik terhadap perilakunya bisa digambarkan sebagai bentuk kebencian, sementara upaya meminta pertanggungjawaban disebut sebagai tindakan menghakimi. Dukungan dari orang-orang yang tidak mengetahui persoalan secara utuh kemudian dapat memperkuat keyakinannya bahwa dirinya memang tidak bersalah.

  4. 4. Perhatian publik dialihkan dari tindakan nyata menuju unggahan media sosial

    ilustrasi media sosial
    ilustrasi media sosial (pexels.com/Plann)

    Media sosial memungkinkan seseorang membentuk kesan tertentu melalui hal-hal yang dipilih untuk ditampilkan. Kehidupan yang terlihat di layar belum tentu menggambarkan perilaku seseorang ketika berhadapan langsung dengan orang lain, termasuk cara ia menyelesaikan konflik dan memperlakukan orang yang pernah dirugikan. Unggahan religius bisa menjadi bagian dari citra yang sengaja dipertahankan, terutama ketika persoalan pribadi mulai diketahui oleh lingkungan yang lebih luas. Perhatian publik pun berpotensi dialihkan dari pertanyaan tentang apa yang telah dilakukan menjadi pembicaraan mengenai seberapa sabar dan kuat seseorang menghadapi masalah.

    Cara ini juga bisa membuat orang yang menjadi korban merasa semakin sulit menyampaikan pengalaman sebenarnya. Ketika pihak yang menyakiti sudah lebih dahulu membangun citra sebagai pribadi yang santun dan religius, pengakuan korban mungkin akan dianggap bertentangan dengan kesan yang selama ini dikenal oleh orang lain. Tidak sedikit orang yang akhirnya meragukan cerita korban hanya karena perilaku buruk tersebut tidak sesuai dengan gambaran yang mereka lihat di media sosial. Padahal, reputasi yang dibangun melalui unggahan tidak bisa dijadikan bukti bahwa seseorang selalu memperlakukan orang lain dengan baik.

  5. 5. Introspeksi diri digantikan oleh kesibukan terlihat paling benar

    ilustrasi merasa paling benar
    ilustrasi merasa paling benar (pexels.com/Vera Arsic)

    Nilai agama seharusnya dapat menjadi pengingat bagi seseorang untuk memeriksa kembali ucapan, tindakan, dan perlakuannya terhadap orang lain. Namun, proses introspeksi bisa dihindari ketika perhatian lebih banyak diarahkan pada bagaimana dirinya terlihat di mata publik. Kutipan tentang kesabaran terus dibagikan, tetapi permintaan maaf tidak pernah disampaikan kepada orang yang disakiti. Pesan tentang menjaga lisan dipublikasikan, tetapi kebiasaan menyebarkan cerita buruk tentang orang lain tetap dilakukan. Inilah bukti bahwa unggahan religius sering jadi tameng sikap buruk. Perbedaan antara apa yang disampaikan dan apa yang dipraktikkan inilah yang membuat unggahan religius terasa seperti tameng, bukan cerminan perubahan diri.

    Sikap religius yang tulus tentu tidak selalu harus diumumkan kepada orang lain, sebab perubahan perilaku justru bisa terlihat dari tindakan sehari-hari. Pengakuan atas kesalahan, kesediaan mendengarkan pihak yang dirugikan, penghentian perilaku buruk, dan upaya memperbaiki kerugian merupakan bagian penting dari tanggung jawab pribadi. Seseorang juga tidak harus selalu membela diri ketika menerima kritik, terutama jika kritik tersebut memang berkaitan dengan perbuatannya. Pesan keagamaan akan kehilangan maknanya ketika hanya digunakan untuk menuntut pengertian dari orang lain, sementara dirinya sendiri tidak bersedia menerapkan nilai yang terus-menerus dibagikan.

    Ada perbedaan besar antara menjadikan agama sebagai pengingat untuk memperbaiki diri dan menggunakannya sebagai pelindung dari kritik. Unggahan tentang kesabaran tidak otomatis membuktikan seseorang sedang dizalimi, sebagaimana penampilan religius juga tidak bisa dijadikan jaminan bahwa ia selalu bersikap baik kepada orang lain. Orang yang benar-benar ingin berubah tidak hanya sibuk menunjukkan bahwa dirinya telah belajar menjadi lebih baik, tetapi juga bersedia mengakui kesalahan yang pernah dilakukan dan menerima konsekuensinya.

    Refensi

    "Behaving Badly? Stop Using Religion as an Excuse!" Huffpost. Diakses pada November 2026.

    "Using God as an Excuse: The Misuse of Faith in Avoiding Personal Responsibility." Positive Self Defense. Diakses pada November 2026.

    "How Criminals Use Religion to Justify Their Crimes." The Gospel Coalition. Diakses pada November 2026.

    "Religiosity and Preventing Risky Behaviors." International Journal of High Risk Behaviors and Addiction. Diakses pada November 2026.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Related Articles

See More