“Window of tolerance menggambarkan titik ideal dalam hidup di mana kamu merasa dapat berfungsi dengan nyaman. Ini merupakan konsep yang membantmu secara subjektif mengukur bagaimana perasaanmu dan apa yang paling mampu kamu tangani," kata Golee Abrishami, PhD, vice president of clinical care di Octave Mental Health, mengutip laman Real Simple.
Mengenal Window of Tolerance, Penting buat yang Sering Kewalahan!

Jika kamu merasa kewalahan (overwhelmed) saat membaca berita terbaru atau sedang menyelesaikan deadline, kemungkinan besar semua aktivitas tersebut telah melampaui zona nyamanmu, atau yang disebut "window of tolerance" (jendela toleransi).
Istilah ini berarti setiap orang memiliki area produktif dan sehat secara emosional dalam kehidupan sehari-harinya. Memahami rentang toleransi dan bagaimana menjaga dirimu tetap dalam zona kesehatan mental, dapat membantu hidupmu menjadi lebih tenang. Oleh karena itu, kamu perlu mengenal window of tolerance, "zona toleransi" emosional agar mental tetap terjaga.
1. Apa itu window of tolerance?

Ilustrasi window of tolerance (pexels.com/Moe Magners) Begitu banyak orang merasa terjebak dalam keadaan stres, kewalahan, dan kelelahan yang terus-menerus. Ketika masalah terasa lebih besar darimu dan di luar kendali, wajar jika kamu mendapati dirimu berada dalam keadaan "berputar-putar". Jika kondisi ini terjadi, mungkin kamu berada di luar batas toleransimu.
Konsep window of tolerance awalnya dicetuskan oleh Dan Siegel, MD, seorang profesor klinis psikiatri di Fakultas Kedokteran UCLA. Istilah ini untuk menggambarkan "zona optimal", di mana ini merupakan area produktif dan sehat secara emosional dalam kehidupan sehari-hari.
Yang membuat konsep ini cukup rumit, karena jendela toleransi setiap orang berbeda. Jadi, meskipun kamu mungkin baik-baik saja mengikuti pemberitaan di media, orang lain mungkin perlu sepenuhnya mengabaikan berita untuk tetap sehat.
2. Apa yang terjadi jika kamu di luar batas "toleransi"?

Ilustrasi window of tolerance (pexels.com/Tima Miroshnichenko) Di kedua sisi "zona optimal" terdapat dua zona lainnya: zona hiper-arousal dan zona hipo-arousal. Zona optimal dicirikan oleh rasa ketenangan, fleksibilitas, keterbukaan, rasa ingin tahu, kehadiran, kemampuan untuk mengatur emosi, dan kapasitas untuk menoleransi tekanan hidup.
Jika "jendela" ini tertutupi dan kamu mengalami stres internal atau eksternal yang menyebabkan kamu bergerak melampaui jendela ini, dan bisa berada dalam keadaan hiperarousal atau hipoarousal.
"Hiperarousal adalah keadaan emosional yang ditandai dengan energi tinggi, kemarahan, panik, mudah tersinggung, kecemasan , kewaspadaan berlebihan, kewalahan, kekacauan, naluri melawan atau melarikan diri, dan respons terkejut. Hipoarousal, sebaliknya, adalah keadaan emosional yang ditandai dengan penutupan diri, mati rasa, depresi, penarikan diri, rasa malu, ekspresi datar, dan keterputusan," kata Annie Wright LMFT, psikoterapis berlisensi dan spesialis trauma relasional, mengutip laman Psychology Today.
Abrishami menambahkan, orang lain bisa bereaksi terhadap kurangnya kendali ini dengan menjadi lebih mengontrol kehidupan mereka sendiri. Beberapa orang mencurahkan diri mereka ke pekerjaan, hubungan, diet, pekerjaan rumah tangga, atau hobi.
Ada yang mulai sangat fokus pada kebersihan, pengorganisasian, dan mengembangkan kebutuhan akan keteraturan di ruang mereka. Ini memberi orang rasa kendali di dunia yang terasa di luar kendali. Namun terkadang, keluar dari zona nyaman bisa bermanfaat dan membantu kamu tumbuh serta membangun ketahanan.
“Zona toleransimu tidak tetap alias dapat meluas jika kamu berusaha, atau justru menyempit jika mengabaikan kesejahteraan mental. Mencoba memperluas zona itu bisa sehat, karena itu menunjukkan bahwa kamu menantang diri sendiri atau melakukan yang terbaik untuk melewati masa sulit," tambah Abrishami.
3. Cara tetap fokus dan melindungi kesehatan mental

Ilustrasi window of tolerance (pexels.com/Clément Proust) Menemukan dan mempertahankan keseimbangan yang ideal bisa menjadi tantangan besar. Namun, ada beberapa trik dan teknik yang dapat membantu kamu mengelola kesehatan mental dengan lebih baik dan bahkan memperluas window of tolerance, sehingga lebih tangguh dalam menghadapi stres.
- Memberikan perawatan diri yang mendukung bagi tubuh
Cukup tidur, cukup berolahraga, mengonsumsi makanan bergizi, menghindari zat-zat yang merusak kesehatan, dan memperhatikan kebutuhan medis darurat.
Jika terus dalam mode aktif, kamu akan kelelahan dan mengalami burnout. Dan ketika burnout, kamu tidak memiliki cukup energi untuk menghadapi frustrasi, kemunduran, dan tantangan. Jauh lebih mudah untuk mencegah burnout dengan beristirahat daripada mengobatinya! - Mengurangi konsumsi media sosial
Ini memang sulit, tetapi melepaskan diri dari media sosial dan kebiasaan doomscrolling akan membantu kamu menjaga ketenangan batin dan kesehatan mentalmu.
Jika kamu menerima banyak informasi negatif, itu akan berdampak pada kesehatan mental. Otak manusia tidak dirancang untuk menerima semua berita 24 jam, dan menempatkan diri dalam posisi itu dapat membahayakan kesejahteraan kita. - Memberikan pengalaman-pengalaman yang mendukung
Terhubung ke sesuatu yang lebih besar dari diri kita sendiri, misalnya berupa spiritualitas dan juga alam. Berolahraga, berada di alam, dan menghabiskan waktu bersama orang-orang terkasih dapat bermanfaat bagi kesehatan mental. Lingkungan yang baik dapat membuat perbedaan bagi seseorang yang merasa cemas atau depresi.
Nah, itu dia informasi tentang mengenal window of tolerance, di mana kamu perlu menjaganya agar tetap sehat secara mental dan fisik. Yuk, coba luaskan jendela toleransimu dan tetap fokus pada perawatan diri!
- Memberikan perawatan diri yang mendukung bagi tubuh





![[MADING] Air Mata Di Balik Tawa: Perundungan Fisik di Sekolah](https://image.idntimes.com/post/20261103/img-20261101-wa0038_c8ed136a-789d-4717-87fe-39eeac197029.jpeg)







![[MADING] Tren Dan Budaya Pop: CABE (Cakap,Aman, Budaya,dan Etika Digital)](https://image.idntimes.com/post/20261028/126952_d7ded25a-fb57-43aa-a5e9-4d358143b685.jpg)








