Belajar hal baru memang paling enak kalau ada mentornya. Tidak harus pengajar profesional. Seorang teman yang mau membantumu mempelajari sesuatu pun sudah sangat berharga.
6 Alasan Orang Malas Berbagi Ilmu Padamu, Gak Serius Belajar

- Orang cenderung enggan berbagi ilmu jika pelajar tidak disiplin, sering terlambat atau membatalkan janji, sehingga waktu dan persiapan pengajar terbuang.
- Sikap terus mendebat, membandingkan metode secara negatif, serta tidak menerapkan ilmu yang diminta membuat pengajar merasa penjelasannya tidak dihargai.
- Ketiadaan timbal balik, termasuk minim terima kasih atau bantuan, dan memakai ilmu untuk merugikan pengajar dapat menghentikan kesediaan mereka membimbing.
Dengan bantuannya, dirimu dapat menguasai ilmu baru lebih cepat. Kamu tak terlalu membuang-buang waktu untuk trial and error. Namun, ternyata gak mudah untukmu memperoleh mentor dari kawan sendiri.
Sebelum dirimu kesal, coba berintrospeksi. Jangan-jangan alasan orang malas berbagi ilmu padamu tak lepas dari sikapmu. Kamu harus bisa menempatkan diri sebagai murid yang baik bila ingin banyak orang bersedia mentransfer ilmu mereka padamu. Sikap-sikap seperti di bawah ini wajib dihindari.
1. Tidak disiplin

ilustrasi mengajari teman (pexels.com/olia danilevich) Kamu yang ingin belajar tentang sesuatu. Namun, sering kali dirimu pula yang tak memberi kepastian pada kawan yang sudah bersedia membantumu. Misalnya, kalian janjian untuk belajar di rumahnya hari Minggu jam 09.00.
Dia sudah menunggumu sejak pagi dan mempersiapkan segalanya. Bukan cuma materi atau alat yang akan dibutuhkan, melainkan juga suguhan. Akan tetapi, justru dirimu yang tak kunjung datang tanpa kejelasan. Barangkali kamu berpikir toh, ini hari Minggu dan dia di rumah saja.
Jika pun benar ia tak hendak ke mana-mana, tentu menyebalkan sekali baginya menghabiskan waktu cuma buat menunggumu. Dirimu yang sedang membutuhkannya, bukan dia. Ia menjadi tak leluasa hendak melakukan apa pun, seperti tidur siang atau menonton film. Khawatir dia sedang asyik-asyiknya, malah kamu datang.
2. Selalu mendebat

ilustrasi mengajari teman (pexels.com/Monstera Production) Murid yang baik bukannya gak boleh punya sikap kritis terhadap gurunya. Namun, bedakan antara sikap kritis yang perlu dimiliki supaya kamu lebih paham sesuatu dengan sebatas ngeyel. Teman atau siapa pun yang sudah berbaik hati berusaha mengajarimu tak akan sabar menghadapi sikap ngeyelmu.
Dia menjelaskan dengan berbagai bukti dan cara seterang apa pun bakal tetap sulit diterima olehmu bila kamu terus mengeyel. Itu sama artinya dirimu sebetulnya telah memiliki pendapat sendiri tentang sesuatu dan menolak diajari hal yang benar. Kawan pasti malas capek-capek mengajarimu kalau cuma didebat tak ada habisnya.
3. Membandingkan ajaran dan caranya mengajari dengan orang lain

ilustrasi mengajari teman (pexels.com/Mikhail Nilov) Kalau perbandingannya positif, tentu bikin teman senang. Misalnya, kamu bilang apa yang diajarkannya sangat bermanfaat. Atau, cara mengajarnya membuatmu lebih mudah memahami sesuatu.
Namun, jika perbandingannya negatif, pastinya dia kesal. Contoh, dirimu mengatakan dulu orang lain memberitahumu bahwa bukan seperti itu cara melakukan sesuatu. Kamu menjadi terkesan meragukan pengetahuan orang yang sudah serius mengajarimu.
Apalagi kalau dirimu sampai bilang caranya mengajar cuma bikin tambah pusing. Meski apa yang dirasakan olehmu benar adanya, tak perlu disampaikan di hadapannya. Bagaimanapun juga, ia telah mengorbankan waktu serta energinya untuk berusaha membantumu.
4. Tidak pernah menerapkannya

ilustrasi mengajari teman (pexels.com/RDNE Stock project) Mungkin kamu merasa ilmu yang didapatkan dari orang lain akan diterapkan atau tidak sepenuhnya hakmu. Itu benar, dengan catatan bukan dirimu yang meminta orang lain untuk mengajarimu sesuatu. Apabila kamu yang meminta, bahkan dengan mendesak agar seseorang mengajarimu, tapi ilmunya tak diterapkan, tentu dia kecewa.
Rasanya ia hanya membuang-buang waktu dan energinya buatmu. Apalagi ini bukan kali pertama terjadi. Contoh, kamu sudah beberapa kali diajari cara memulai dan menjalankan usaha seperti miliknya. Dia serius sekali menjelaskan langkah-langkahnya sampai detail. Namun, kamu tidak kunjung mewujudkan usaha sekecil apa pun tanpa alasan yang jelas.
5. Gak pernah ada timbal balik dalam bentuk apa pun

ilustrasi mengajari teman (pexels.com/RDNE Stock project) Setinggi apa harapanmu akan keikhlasan orang lain? Sebaik apa pun teman yang mengajarimu sesuatu, dia tetap manusia biasa. Ia bakal capek hati kalau kesediaannya untuk selalu membantumu tidak pernah ada timbal baliknya.
Misalnya, ketika ia gantian minta tolong apa pun padamu, kamu bersikap cuek atau selalu bilang tak bisa. Dirimu bahkan tidak tergerak untuk mencoba mencarikan bantuan buatnya. Atau, ketika transfer ilmu darinya membuat usahamu makin berkembang, kamu sama sekali tak memberinya sesuatu.
Dirimu bahkan seperti tidak pernah mengingat jasanya. Gak ada traktiran untuknya atau sekadar ucapan terima kasih atas kontribusinya dalam usahamu. Ke depan ia pasti ogah mengajarimu hal-hal lain.
6. Ilmu yang diajarkan malah dipakai buat menusuk dari belakang

ilustrasi mengajari teman (pexels.com/Alexander Suhorucov) Ini bisa dianalogikan dengan perajin pisau yang mengajari pekerja barunya tentang cara membuat pisau berkualitas. Lalu setelah pekerja itu mahir, pisau bermata supertajam justru digunakan untuk menikam sang perajin. Jangan membalas air susu dengan tuba.
Kamu harus tahu cara memakai ilmu yang diajarkan orang lain secara bijaksana. Misal, tetangga yang punya usaha ayam goreng berbaik hati mengajarimu cara bikin ayam goreng yang empuk dan bumbunya meresap sampai dalam. Dia pun mau membagikan tips memilih ayam yang berkualitas dan sebagainya.
Jangan lantas tak lama kemudian kamu membuka usaha yang sama persis di dekat warung ayam tetangga. Ini namanya dirimu hendak mematikan usahanya. Boleh saja kamu juga berjualan ayam goreng. Namun, secara etika dirimu perlu meminta izin dulu darinya. Plus, jualannya di tempat yang sejauh mungkin dari warungnya.
Alasan orang malas berbagi ilmu padamu adalah karena ilmu sangat mahal harganya. Hanya orang-orang murah hati yang mau membagikannya pada orang lain tanpa bayaran berupa uang. Dirimu harus amat menghargai kebaikan siapa pun yang bersedia berbagi ilmu denganmu.







![[MADING] Air Mata Di Balik Tawa: Perundungan Fisik di Sekolah](https://image.idntimes.com/post/20261103/img-20261101-wa0038_c8ed136a-789d-4717-87fe-39eeac197029.jpeg)








![[MADING] Tren Dan Budaya Pop: CABE (Cakap,Aman, Budaya,dan Etika Digital)](https://image.idntimes.com/post/20261028/126952_d7ded25a-fb57-43aa-a5e9-4d358143b685.jpg)





